ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 11 Maret 2014

Robert T. Kiyosaki itu ... Diampuuut !!! Intermezzo Bisnis Yan Nurindra

Intermezzo : Menurut saya Robert T. Kiyosaki itu ... Diampuuut !!!


Tahun 2000-an saya ter-gila2 dengan konsep Robert T. Kiyosaki yg membagi aktivitas menjadi E, SE, B, dan I. (Employee, Self Employee, Business, dan Investor), dimana secara terang2an Kiyosaki ini melecehkan E, SE, dan sebaliknya "meninggikan" B, dan I.

Saya waktu itu sudah menjadi Trainer yang lumayan terkenal untuk suatu mata pelatihan tertentu, yang notabene pasti jelas2 seorang "SE". Dan karena saya terhipnotis oleh Kiyosaki, maka saya membangun organisasi yang lebih mapan, besar, merubahnya menjadi "B", dan saya berada di belakang layar. Hasilnya, hanya beberapa bulan saja saya langsung tenggelam dan "B"-nya pun runtuh (baca : organisasinya). Lha dunia Training Soft Skill kan sangat lekat dengan "Personal Brand" alias "SE" banget. Ketika dibuat menjadi "B", alias bertumpu manajemen dan organisasi, maka dia akan kiamat (setidaknya kalau terlalu cepat menjadi "B").

Setelah saya pikir2, Kiyosaki sendiri uangnya banyak, karena dia keliling2 ngoceh tentang konsep ini, tepatnya di-booking oleh salah satu MLM terkemuka, lha dia sendiri sebetulnya seorang "SE" banget !!!! Dan menjual konsep ini agar para pengikut MLM ini merasa menjadi seorang "I".

Kebayang nggak kalau seorang Affandi (Maestro Pelukis), atau Didi Petet, atau Tukul Arwana, atau Mas Dewa Budjana serta merta merubah kuadran menjadi seorang "B" ??? Bubar .....!!!

****

Kesimpulan saya, Robert T. Kiyosaki itu kampret !!! Kesimpulan berikutnya, jangan mudah percaya dengan barat, untuk soal beginian !!!!

Diampuut tenan !!!


Intermezzo : Diskusi Bisnis

Ada yang ingin menjadikan Training Pemberdayaan diri sebagai bisnis, tetapi masih "setengah hati", atau "malu-malu". Kalau mau berhasil, maka harus memandangnya benar2 sebagai suatu Bisnis, dan konsekwensinya adalah Profesionalisme. Artinya siapkan infrastruktur yg profesional, layanan yang profesional, pemasaran yang profesional. Dan profesionalisme inilah yang akan dihargai tinggi oleh orang lain. Kalau masih malu2 juga? Silakan ambil referensi untuk benchmarking, misal : Mark Plus, atau Jakarta Consulting Group.
Koment Pilihan :

Fathi Ridwan Basalamah II : Yaa, mereka yg betul2 " professional " adalah yg betul2 ALL OUT, silahkan check NAMA2 BESAR para TRAINERS Hypnotherapy dan NLP.....

Hersal A'ang Gunaipi : Setuju, saya merasakan hal yg demikian. Ketika masih malu-malu susah bener dpt panggilan, namun jgn narsis juga nanti terkesan sombong. Professionalisme yg di kedepankan, bukan asal2 an atau gila2 an saja namun asal2 an yg direncanakan atau gila2 an yg planningkan supaya jelas arah mana yg akan di tuju.

Yan Nurindra : Hersal A'ang Gunaipi : Gila-gilaan yang direncanakan itu namanya E.D.A.N.

Yordan Panggabean : Profesionalisme terkait dengan modal gede kah Pak Yan Nurindra ?

Hersal A'ang Gunaipi : Pak Yordan Panggabean sharing: menurut saya dan pengalaman saya Professionalisme hanya menuntut kemauan yg kuat utk menjadi professional di bidangnya, disiplin diri, dan arah yg jelas dimana kita akan menuju. Modal sebesar apapun akan menjadi ringan karena entah bagaimana akan ada jalannya sendiri. Man jadda, wa jadda.

Yuan Yudistira : Apakah terapis bisa dipandang sebagai sebuah bisnis pak Yan? atau kah ia masih dalam kuadran nya Self Employee? Mohon pencerahannya...

Yan Nurindra : Mas Yuan Yudistira : Mau Self Employee, Mau Business, itu kan hanya pembagian si keparat Robert T. Kiyosaki.

Intermezzo : Tahun 2001 saya memutuskan Pensiun dini sebagai Karyawan (di anak perusahaan salah satu Bank Pemerintah), dengan posisi gaji terakhir (takehome pay) sekitar Rp. 12 Juta per-bulan. Saya terjun ke dunia wirausaha, bukan karena alasan uang semata, tetapi juga urusan kebebasan berekspresi. Apakah langsung berhasil? TENTU TIDAK!!! Saya mengalami fase berdarah-darah, putus asa, dan depresi, pada 2 tahun pertama, baru pada tahun ketiga saya mulai memasuki titik balik menuju arah yang saya inginkan.
Koment Pilihan :

Mas Bagus Octa : Pengalaman yg menginspirasi Pak... Apa alasan utama Pak Yan memutuskan menjadi pebisnis training?

Yan Nurindra : Mas Bagus Octa : Saya punya beberapa bisnis kecil2. Training hanyalah salah satunya. Training sendiri kebetulan adalah salah satu "passion saya dan saya sudah merintisnya sejak mahasiswa.

Muhammad Satriya Utama : bisnis kecil2an apa itu pak?

Yan Nurindra : Muhammad Satriya Utama : Saya pernah berbisnis Sekuritas, Kontraktor Telekomunikasi, dan juga Konsultan IT.

Fathi Ridwan Basalamah II : Pak Yan Nurindra, Kalau bisnis training ini kok, kayaknya cuma segelintir orang yg betul2 sukses secara finasial....Dan tentunya mereka adalah orang2 yg mempunyai kriteria ALL OUT...Pendapat bapak ?...

Yan Nurindra : Pak Fathi Ridwan Basalamah II : Khusus Bisnis Training, tampaknya dari permukaan tampak menggiurkan, tetap faktanya dia sama persis seperti bisnis lainnya. Perlu kompetensi, ketekunan, memahami segmen pasar, tentu juga Unique Selling Positioning. Salah satu kesalahan dari pelaku bisnis ini adalah dikatrol oleh trend eksternal. Akibatnya ketika trend ini sunset, maka merekapun terbawa sunset. Produk tidak perlu terlalu banyak (menurut saya), tetapi lekat dengan brand kita.

Joni Aris Kuncoro : Pak sy ada pertanyaan, ini berkaitan dg kata "Berhenti Terlalu Cepat". . . 5 thn sy membangun Usaha,trnyata hasilny msh jauh dr yg sy Harapkn pak... dr situ sy memutuskn untuk melangkah k bisnis yg lain n meninggalkn yg lama... krn sy berpikir mngkn Kendaraan(Bisnis)ny krg Tepat nih . . . bbrp teman sy ada yg bilang "Berhenti Terlalu Cepat", dlm hati sy blg "Lo g ikut merasakn Susahny, y enak aja lo ngomong gitu"(menurut saya), klo menurut Pak Yan Nurindra, Time Limit bhw bisnis qta berhasil brp lama pak...? Relatif memang, tp setidakny ada ukuranny . . .

Yan Nurindra : Saya tidak setuju dengan pendapat "Berhenti Terlalu Cepat". Menurut saya bisnis seharusnnya dalam 6 bulan sudah dapat "dicium" Aura-nya, akan berhasil atau tidak, jika tidak, maka jangan ragu utk segera berhenti sebelum berdarah-darah.

Muhammad Nazarudin : wah pak yan, sepertinya saya terjerat cara berpikir saya sendiri, justru itu saya penasaran bgmn bisa membalikkan keadaan dalam waktu 2 tahun pak?

Yan Nurindra : 2 tahun itu lama, sudah cukup membuat saya kehilangan seluruh asset saya dan juga timbunan hutang yg spektakuler. Justru seharusnya 6 bulan sudah harus tahu apakah suatu bisnis memiliki aura berhasil atau gagal. Salh satu kunci dari titik balik yaitu justru setelah saya kehilangan segalanya, sehingga saya harus mulai lagi dengan benar2 MEMBUMI.

Yanuar Harry Pratama : Mohon doa n dukungan pak, saat ini saya lagi bersimbah darah untuk bisnis training. Sebenarnya saya kurang nyaman dg istilah bisnis training, karena awal berangkat mengadakan training adalah kontribusi ilmu. Dan tanpa munafik mengharap profit walaupun profit bukan yang utama.

Yan Nurindra : Yanuar Harry Pratama : Traiining adalah Bisnis. Dengan memandangnya sebagai format bisnis, maka kita dapat meningkatkan aspek profesional dalam setiap aspeknya. Profesionalisme inilah yang nantinya diberikan poenghargaan tinggi oleh orang lain.

Muhammad Nazarudin : tanya pak Yan Nurindra< apa karena serba "tidak ada" ini yang bikin kita jadi mengada2kan dan memanfaatkan yang ada?

Yan Nurindra : Muhammad Nazarudin : Asset utama manusia adalah ide, attitude, dan network.

Raden Satriadi CHt : Memang rasanya fase berdarah-darah, depresi dan stress dialami semua pelaku bisnis di awal kariernya, jikaitu di maknai sebagai bagian dari proses menuju kesuksesan rasanya kita tetap akan berjuang. Jadi ada benarnya juga jika di katakan, tidak ada yang di sebut kegagalan, yang ada hanya berhenti terlalu cepat.. Saya setuju dengan angka 6 bulan, kalo saya setiap 6 bulan lakukan evaluasi, kalo rasanya kok gak ada perkembangan, saya tidak langsung memutuskan untuk ganti haluan, tetapi cari tahu mungkin ada yang kurang tepat cara saya menjalaninya, mungkin kurang promo ato hal-hal lain yang perlu di perbaiki,,, tapi dari semua itu saya akan tetap ngotot terus melakukan ketika saya sangat sadar bahwa yang saya lakukan adalah Talent yang saya miliki dan saya memiliki passion yang kuat di bidang tersebut..


Iseng2 browsing perkiraan daftar gaji pekerja Indonesia per-bulan (perkiraan rata-rata tanpa melihat sektor dan ukuran perusahaan), ini daftarnya : Fresh Graduate (S1) 2-3 Jt, Ass. Manager 5-8 Jt, Manager 10-15 Jt, General Manager 20-30 Jt, Director 50-100 Jt. Artinya, kalau mau lebih dari ini, silakan menjadi seorang Wirausahawan. Dari daftar itu, maka seseorang baru dapat mengangsur Rumah (tipe 70/110) dan Mobil (sekelas Avanza), saat dia sudah berada di jenjang Manager (10-15 Jt per bulan), sebelum itu maka resiko akan kesulitan Cash Flow. Dan posisi Manager biasanya dapat dicapai rata2 7-10 tahun.

Dengan fenomena standar Gaji Karyawan pada hari ini, untuk pribadi yang biasa2 saja, agak sulit untuk memperoleh posisi dan gaji untuk menikmati kehidupan yang layak [baca Rp. 20-30 Jt per bulan]. Di sisi lain, pada hari ini iklim kewirausahaan sangat kondusif, sehingga hanya diperlukan sedikit upaya, kreativitas, dan keberanian, untuk memperoleh hal yang sama melalui jalur kewirausahaan. Wirausaha tidak selalu identik dengan meninggalkan posisi sebagai Karyawan. Banyak pilihan bidang. Silakan dipikirkan.

Source : Yan Nurindra Web : www.hipnotis.net