ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 28 Juni 2014

YKS di Stop Gara-Gara ASU

Saya sungguh sangat menyayangkan adanya kekhilafan yang terjadi pada Tayangan Hipnotis di YKS (Yuk Keep Smile) yang berbuah penutupan siaran itu untuk sementara waktu. Seperti diketahui, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menjatuhkan sanksi berupa penghentian sementara terhadap acara YKS, setelah menerima pengaduan dari masyarakat sekaligus hasil pemantauan langsung dan analisis terhadap tayangan YKS. Melalui proses itu, KPI rupanya menemukan adanya pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) KPI tahun 2012, pada program tayangan tersebut untuk edisi 20 Juni 2014.

Di edisi itu, YKS menayangkan adegan pengisi Acara yang sedang dihipnotis sehingga melecehkan artis Benyamin Sueb. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap pasal 24 ayat (1) Standar Program Siaran yang melarang program siaran menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia.

Ketua KPI Pusat, Judhariksawan, didampingi Komisioner KPI Pusat bidang Isi Siaran, Agatha Lily, telah menyampaikan surat penjatuhan sanksi YKS Trans TV di kantor KPI Pusat, Kamis, 26 Juni 2014.

Dan dalam hal ini, Manajemen Trans TV siap menerima sanksi yang dijatuhkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka akan menghentikan sementara siaran YKS (Yuk Keep Smile), yang diketahui sebagai salah satu program tayangan andalan mereka. "Kami menghentikan program itu, siap menerima sanksi," ucap Kepala Departemen Marketing Public Relations Trans TV, A Hadiansyah Lubis, Kamis, (26/6/2014), dihubungi wartawan. YKS, lanjut dia, akan dihentikan per 28 Juni 2014.

Mensikapi berita ini, sungguh saya merasa sangat sayang bila Show Hipnotis sampai dihilangkan dari Televisi kita. Karena bagaimanapun, para Performer Hipnotis yang tampil di Televisi, termasuk Master Ferdians, mereka memberikan andil yang besar dalam mengenalkan dunia hipnosis kepada masyarakat. Dan dalam hal ini khususnya mengenai penampilan Master Ferdians, menurut saya  sungguh sangat mendidik sekali. Karena tidak hanya menampilkan hipnosis untuk hiburan saja, tetapi juga menampilkan sesi hipnoterapi secara Live di Televisi. Yang mana hal ini dapat menjadi media yang tepat bagi pengembangan dunia pendidikan hipnoterapi di Indonesia.

Hanya saja, karena televisi adalah media publik yang ditonton oleh jutaan pemirsa. Maka seyogyanyalah, sesi hipnoterapi yang ditampilkan memang harus dirancang dengan baik, sehingga tidak sampai menyinggung fihak lain. Yang dalam hal ini, tidak atau kurang mengerti mengenai hipnoterapi.

Sesi Hipnoterapi memang mempunyai kandungan Privasi yang sangat tinggi dan bersifat sangat sensitif, karena ini mengenai permasalahan psikologis manusia yang tersimpan dengan sangat dalam di dalam pikiran bawah sadar. Yang boleh jadi itu merupakan sebuah rahasia dan akan menjadi sebuah aib yang sangat memalukan bila diungkapkan.

Itulah sebabnya. Walaupun saya sering mengupload Foto Dokumentasi Training Hipnotis ataupun Hipnoterapi ke ranah Publik. Tetapi saya tidak pernah mengUpload dokumentasi saat sesi terapi. Hal ini Demi menjaga privasi dari klien.

Dalam sesi Hipnoterapi yang saya lakukan, pernah juga ada klien yang mempunyai permasalahan ketidak harmonisan hubungan dengan ibu kandungnya. Dan dalam kondisi hipnosis, dia mengasosiasikan Ibu kandungnya sebagai anjing. Hal itu terjadi karena ketika memasuki sesi Forgiveness Therapy, klien tidak mampu menghadirkan sosok imajiner dari ibunya. Untuk itu, saya minta dia menyimbolkan dengan simbol karakter tertentu. Dan Klien memilih anjing sebagai simbol ibunya. Dan tentu saja, ini adalah simbol ungkapan dari alam bawah sadar klien, dan bukan atas kesengajaan ataupun sekedar main-main. dan saya sebagai terapistpun, tidak berhak menghalangi bawah sadar klien untuk mengekspresikan emosi negatifnya. Karena saya tahu, bahwa ini hanyalah sekedar simbol dan semua ini hanyalah sebuah proses pelepasan.

Dan hal itu terbukti, ketika klien telah puas mengekspresikan dan melepaskan emosi negatifnya. Akhirnya dia dapat melihat sosok ibunya di dalam fikirannya dalam bentuk sebagai manusia. Dan seusai terapi, hubungan klien dengan ibu kandungnya dapat berjalan harmonis kembali tanpa adanya suatu ganjalan apapun.

Prosses-proses hipnoterapi inilah yang tidak dimengerti oleh sebagian besar masyarakat awam. Sehingga terkadang, demi tuntasnya permasalahan klien, Saya meminta semua anggota keluarga untuk keluar dari ruangan terapi. Hanya ada saya dan klien di dalam ruangan tersebut. Dan bila mereka meragukan akan niat baik dari tindakan saya, maka saya menyiapkan Handycam bilamana diperlukan untuk merekam sesi hipnoterapi tersebut. Sehingga klien dapat melihat rekaman Sesi hipnoterapi tersebut seusai terapi. Sebagai bukti, bahwa semua tindakan yang saya lakukan adalah semata-mata karena alasan profesionalitas.

Kembali mengenai kasus Hipnoterapi YKS. Memang saya melihat ada sebuah kekhilafan yang terjadi di dalam acara itu. Yang mana dalam acara YKS 20 Juni 2014 itu ada sesi Kontes SPG YKS yang membawa Anjing alias Asu (Bhs. Jawa), namun sayangnya sebagian besar Jurinya termasuk Cesar adalah orang yang Phobia alias takut dengan anjing. Sehingga demi kelangsungan acara, dengan refleks Master Ferdians memberikan sesi hipnoterapi khusus kepada Cesar.

Dan mungkin karena suasananya yang sedikit panik dan serba tergesa-gesa, sehingga Master Ferdians menjadi khilaf dan secara refleks saja, menghadirkan sosok Imajiner Bang Benyamin sebagai sosok Lucu yang dapat menyembuhkan Phobia si Cesar terhadap anjing. Memang bila dilihat dari kaca mata public (masyarakat awam), membandingkan Bang Ben dengan anjing, tentu sesuatu yang sangat keterlaluan sekali. Dan saya juga sangat menyayangkan adanya kekhilafan ini. Namun saya yakin, bahwa itu semua dilakukan sama sekali tanpa adanya unsur kesengajaan. Sehingga saya berharap, permasalahan ini dapat diselesaikan dengan jalan yang baik oleh semuanya saja. Demi kebaikan semua fihak.

SALAM DAMAI UNTUK KITA SEMUA.

Referensi berita : www.tribunnews.com