ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 25 Juni 2014

Marah Itu Sehat (Kontak Anger Management - Buku 5)

Dan ada beberapa sahabat, yang ndak suka kalau saya lagi bikin status Facebook dalam episode marah-marahan.. Maunya Lope-lopean terus kayaknya.... Dan alergi banget dengan Emosi Marah...

Orang yang tidak pernah Marah, menurut saya bukanlah orang yang sehat.... Pasangan yang senantiasa Lope-lopean terus, dan sama sekali ndak pernah marahan, menurut saya itu juga bukan pasangan yang jujur dan harmonis...

Sesekali mengekspresikan kemarahan itu boleh saja, dan itu menyehatkan jiwa kok... Daripada dipendam, jadi penyakit...

Dan bagi yang sudah berumah tangga, sesekali mengekspresikan kemarahan itu juga boleh kok.... daripada diem terus dan tetep tidak dimengerti.....

Hal itu justru akan membuat keharmonisan rumah tangga menjadi semakin baik... Karena, negosiasi dan komunikasi dapat tersalurkan dan tersampaikan... Sehingga terciptalah hubungan yang saling memahami dan akhirnya Hubungan semakin harmonis, dan cinta semakin membara...

Marah adalah juga satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah. Bentuk penyampaian marah bisa berbeda-beda bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan karakter beberapa Suku di tanah air kita.

Menurut Charles Spielberger, Ph.D., seorang ahli psikologi yang mengambil 3 spesialisasi studi tentang marah. Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu bentuk ekspresi emosi manusia. Seperti bentuk emosi lainnya, marah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, begitu juga dengan level hormon, adrenalin dan noradrenalin.

Mark Gorkin—seorang konsultan pencegahan stres dan kekerasan— membagi marah dalam empat kategori;
  1. marah yang disengaja, 
  2. marah spontan (marah yg dilakukan secara tiba-tiba), 
  3. marah konstruktif (marah yang disertai ancaman terhadap orang lain) dan 
  4. marah destruktif (marah yang ditumpahkan tanpa rasa bersalah).
Marah itu sehat, Yang penting dapat mengendalikannya hingga tidak menjadi kebiasaan..

Peneliti dari Universitas Valencia di Spanyol tertarik dengan apa yang terjadi pada tubuh manusia ketika sedang marah. Dan temuan ini muncul untuk mendukung teori psikologi umum yang menyatakan bahwa 'ventilasi' emosi lebih baik untuk kesehatan mental ketimbang membiarkannya tetap terkunci alias dipendam.

Penelitian ini menemukan bahwa mengekspresikan kemarahan dapat meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang terlibat dengan perasaan bahagia.

Untuk melakukan penelitian ini, peneliti mengumpulkan 30 orang di sebuah laboratorium, perlahan-lahan meningkatkan tingkat kemarahan mereka dan mengamatinya.

Detak jantung, tekanan darah serta level dari dua hormon stres partisipan yaitu testosteron dan kortisol, diukur semuanya. Otak juga di skrining, dari awal hingga akhir penelitian.

Temuan yang sudah dipublikasikan dalam jurnal Hormones and Behaviour ini menunjukkan bahwa bagian kiri dari otak lebih terstimulasi ketika partisipan sedang marah.

"Daerah frontal otak kiri umumnya terlibat dalam emosi positif, sedangkan bagian kanan berkaitan dengan emosi negative," ujar Dr Neus Herrero, dari Universitas Valencia di Spanyol, yang memimpin penelitian, seperti dilansir dari Telegraph.

Dr Herrero juga menuturkan bahwa marah dapat mendorong perubahan besar dalam tubuh manusia, yaitu mengendalikan kerja jantung dan hormon. Dia menunjukkan bahwa tingkat kortisol turun dan kadar testosteron meningkat.

Selain itu, juga terjadi perubahan dalam aktivitas otak, terutama di bagian lobus frontal dan temporal.

So..
Marah itu boleh saja, selama hal itu masih dalam koridor yang positif, membangun, demi terciptanya hubungan yang lebih harmonis.

Selain itu, Emosi Marah adalah juga merupakan bagian dari Ego State atau Mini Personality kita. Dengan ikhlas menerima kemarahan kita, maka kita akan dapat melakukan manajamen serta pengelolaan terhadap Emosi Marah tersebut. Sehingga Kekuatan Emosi Marah justru dapat digunakan sebagai kekuatan pendobrak bagi kita untuk menghadapi tantangan dan hambatan yang berasal dalam diri sendiri maupun yang datangnya dari luar.

Rasa marah bisa dibilang termasuk salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia; ketika kita menghadapi suatu ancaman, maka kita dapat merasa marah dan kemudian melawan (fight) alih-alih selalu takut, lalu melarikan diri (flight).

MARAH VS TAKUT
Pada tahun 2005 lalu, Jennifer Lerner, psikolog dari Carnegie-Mellon University, meneliti mengenai perbedaan efek yang ditimbulkan dari reaksi marah atau takut pada situasi yang penuh stres. Caranya untuk menciptakan situasi ini dalam lab pun cukup unik: Di depan kamera, ia meminta mereka untuk menghitung mundur dalam kelipatan 7 atau 13 dari angka-angka ajaib seperti 6233 atau 9095. Lerner juga membuat partisipan semakin kesal dengan menyuruh mereka mempercepat hitungan atau mengulang dari awal jika salah menyebut angka. Untuk memastikan apakah para partisipan merasa marah atau takut, rekaman video mereka dianalisis dengan mengamati tarikan otot-otot tertentu di wajah yang muncul dalam emosi marah atau takut.

Hasilnya, para subyek yang menunjukkan Rasa Takut, lebih tinggi tekanan darah dan pengeluaran hormon stresnya daripada subyek yang menunjukkan Rasa Marah. Tidak hanya itu, subyek yang marah juga menunjukkan sense of control (merasa dapat mengontrol situasi) dan optimisme, sementara hal yang sama tidak terlihat pada subyek yang merasa takut. Hasil ini sejalan dengan penelitian Lerner sebelumnya terhadap warga AS pasca kejadian 9/11. Mereka yang bereaksi dengan rasa marah lebih yakin dan optimis dalam menghadapi resiko daripada yang takut.

“Hati Boleh Panas, Tapi Kepala Harus Tetap Dingin”

Penelitian lain mengenai efek lain dari rasa marah datang dari Wesley Moons dan Diane Mackey, psikolog dari University of California. Ia memberi dua perlakuan berbeda pada dua kelompok partisipan: meminta mereka menuliskan pengalaman saat mereka begitu marah, atau meminta mereka menuliskan harapan dan impiannya yang kemudian dikritik oleh partisipan lainnya. Diikutsertakan pula sekelompok partisipan yang tidak diberi perlakuan apapun sebagai kelompok kontrol. Ketiga kelompok itu kemudian diminta untuk membaca dua esai argumentatif; satu didukung oleh fakta-fakta ilmiah dan ‘ditulis’ oleh pihak yang kredibel, sementara esai lain tidak memiliki keduanya.

Moons dan Mackey menemukan bahwa para partisipan yang marah akan menjadi lebih analitis; mereka dapat membedakan antara argumentasi yang kuat dengan yang lemah, serta merasa lebih teryakinkan oleh esai yang memiliki argumentasi kuat. Hal ini tidak ditemukan pada partisipan yang tidak marah. Ketika eksperimen diulangi pada partisipan yang memang ‘berkepribadian’ tidak jeli, ternyata rasa marah juga dapat membuat mereka lebih kritis dan hati-hati dalam melihat suatu permasalahan. Menurut para peneliti itu, rasa marah membantu seseorang untuk mendasarkan keputusan mereka pada inti masalah yang benar-benar penting dan mengabaikan yang kurang penting.

So..
Masih lebih suka memendam emosi anda dan membiarkan diri anda sakit..? Atau takut dicap sebagai pemarah..? Atau bahkan anda mengizinkan diri anda selamanya diperlakukan tidak adil oleh orang lain...?? Saya yakin, setelah membaca artikel ini. Tentu ada sedikit pencerahan bagi anda untuk mengelola emosi anda.

Sekedar Tips : KONTAK ANGER MANAGEMENT
Bila anda marah dengan seseorang, dan bila untuk mengekspresikan kemarahan tersebut justru akan membuat masalah menjadi semakin runyam. Maka Exspresikan kemarahan anda secara virtual saja. Anda boleh menggunakan media apapun sebagai simbol karakter untuk mewakili orang yang anda marahi. Misalnya anda menggunakan gedebok pisang sebagai object.

Dan di sebuah tempat yang sepi, lampiaskanlah kemarahan anda. Silahkan berteriak, menghujat, memukul, ataupun menendang gedebok pisang tersebut sampai anda puas.

Setelah dirasa cukup. Tariklah nafas yang panjang dan hembuskan perlahan, lalu duduklah dengan nyaman. Kemudian lakukan Meditasi Kontak, Masuki keheningan dan kebeningan yang ada di dalam diri anda. Rileksasikan tubuh, pikiran, dan emosi anda.

Kemudian hadirkan orang yang membuat anda marah tersebut di ruang imajinasi anda. Dan  bila masih ada sisa-sisa emosi marah yang masih ada. Saat anda menghembuskan nafas, ikhlaskan dan lepaskan emosi negatif itu bersamaan dengan hembusan nafas anda.

Dan bila masih juga ada emosi negatif dari amarah, sekarang lakukan pembalasan terhadap orang tersebut di ruang imajiner anda saja. Lakukan sampai anda merasa puas. Setelah dirasa cukup. Anda boleh memaafkan dia, salami dia, kemudian suruh dia pergi jauh dari diri anda, dan lihat dia menghilang dari ruang imajinasi anda. Dan bila anda tidak mau memaafkan dia, maka maafkanlah diri anda sendiri. Dan suruh dia pergi dari ruang imajiner anda. Dan pastikan anda melihatnya menghilang dari ruang imajiner anda.

Kemudian lanjutkan Meditasi Kontak anda, sehingga Tubuh, pikiran, dan emosi anda menjadi sangat tenang, dan nyaman. Setelah dirasa cukup. akhiri meditasi Kontak anda.

Belum tahu meditasi Kontak..??
Download panduannya di sini...

Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka :
Jurnal Psikologi Populer
www.108csr.com
DOWNLOAD KLIK DI SINI..