ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 05 November 2014

Sakit Psikosomatis Akibat Pilpres

Apakah ada salah satu atau anggota keluarga anda yang tadinya tidak mengalami masalah kesehatan yang berarti. Namun tiba-tiba saja seusai Event Pesta Rakyat Pilpres 2014. Mereka mengalami sakit dan penyakit yang tidak jelas asal-usulnya. Dan bahkan mungkin anda mengira dia terkena kiriman ilmu sihir atau santet dari orang lain..? Sebaiknya buang jauh-jauh prasangka negatif tersebut, karena bisa jadi dia Sakit Psikosomatis Akibat Pilpres.

Kok bisa begitu..?
Okey, simak baik-baik artikel saya ini sampai tuntas.

Nuansa Pilpres 2014 ternyata meninggalkan dampak negatif terhadap beberapa orang. Banyak orang yang tiba-tiba saja terkena sakit dan penyakit yang tidak jelas. Sakit Psikosomatis Akibat Pilpres. "Betul sekali, dulu ketika pilpres ada seorang pendukung capres yang sangat membela pada capresnya, dia sangat marah jika capresnya diremehkan, sehingga dia kena gangguan pada pencernaanya sulit BAB, dibawa ke dokter 2x nggak ada perubahan, lalu dia bilang pada saya permasalahanya, kemudian saya gali akar permasalahanya, lalu saya masuk Zona Quantum Ikhlas, kemudian saya terapi perutnya Alhamdulillah sembuh sampai sekarang." Demikian komentar Pak As'ad Rosyadi salah satu alumni Pelatihan NAQS DNA yang berdomisili di Tuban.
Direktur Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Eka Viora, memperkirakan jumlah orang yang mengalami stress ringan (Orang Dengan Gangguan Jiwa-red ODGJ ringan) bertambah usai pencoblosan pemilu presiden (pilpres).

"ODGJ ringan memang kasusnya banyak, termasuk yang memikirkan masalah pilpres. Bisa bertambah. Namun orang stress itu tergantung dari individunya masing-masing," kata Eka Viora dalam diskusi "RUU Kesehatan Jiwa" bersama anggota Panja, Wiryaningsih, gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut Eka menjelaskan dari data yang ada, jumlah ODGJ ringan di Indonesia saat ini mencapai sekitar 16 juta orang. Sementara yang mengalami stress berat atau gangguan jiwa berat mencapai sekitar 400.000 orang.

"Dari jumlah itu (400 ribu), sekitar 57.000 orang pernah dan masih dipasung," tambahnya.

Eka menjelaskan sebenarnya semua orang berpotensi mengalami stres. Salah satu indikasi orang mengalami stres ringan, menurut Eka, adalah tanda-tanda yang berdampak ke fisik. Misalnya sulit tidur, tidak memiliki nafsu makan, mual-mual, dan sebagainya.

Source : Antara News
Pilpres 2014 kemarin memang tidak hanya menyedot dana negara yang besar, tetapi juga menyedot seluruh energi psikis dari bangsa Indonesia ini. Dan tentu saja itu dilakukan demi untuk memperjuangkan bangsa dan negara ini agar memperoleh pemimpin yang baik demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Lalu mengapa sampai ada yang sakit..?
Ini adalah hal yang wajar dan sangat mungkin untuk terjadi. Karena nuansa kampanye pada pilpres kemarin memang begitu kuat nuansa Vibrasi yang bersifat negatif. Saling menghujat, saling menghina, saling memfitnah, dan saling merendahkan Capres yang menjadi lawan dari capres pilihannya sudah menjadi pemandangan rutin yang dapat kita lihat di sosmed. Baik Facebook dan juga Twitter di era kampanye kemarin.

Masing-masing massa pendukung Capres secara tidak sadar telah digiring untuk memunculkan dan bahkan memaksimalkan Sisi Gelap yang ada di dalam diri masing-masing. Yang membuat medan energi mereka bergetar dalam vibrasi Force atau Vibrasi emosi rendah. Dan itu tidak hanya terjadi di masa kampanye saja. Bahkan ketika salah satu Capres sudah diputuskan sebagai Presiden terpilih. Nuansa dan Vibrasi Negatif itu masihlah kuat bergetar memenuhi atmosfir Jagad Indonesia.Emosi-emosi negatif seperti dendam, sakit hati, kemarahan, dll. Masihlah kuat memenuhi hati.

Dan sebagaimana Teori Gelas Emosi yang saya tulis di artikel HypnoPrestasi. Setelah sekian waktu bergetar dalam vibrasi emosi negatif, Maka endapan emosi negatif itu akhirnya luber juga, dan pertahanan psikologis beberapa orangpun akhirnya jebol dan ambruk juga.

Pertahanan psikologis mereka tidak mampu menahan gempuran emosi negatif yang ada. Kekuatan Stressor menjadi semakin kuat karena pengkondisian yang mereka lakukan sendiri.  Dan sebagai akibatnya, untuk beberapa orang, merekapun mengalami sakit dan penyakit yang tidak jelas asal-usulnya. Dan bahkan yang tadinya sakit biasa-biasa saja, malah menjadi seolah-olah mengalami sakit yang tidak wajar. Karena sakit fisik yang mereka alami diperkuat jutaan kali lipat oleh kondisi emosi dan pikiran yang tidak sehat.

Nuansa seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi ketika event Pilpres kemarin saja. Namun nuansa seperti ini akan sering kita jumpai dalam skala event yang lebih kecil. Yaitu Pemilihan Kepala Desa. Dimana sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk terpilih menjadi kepala desa. Para calon kades ini tidak hanya merayu calon pemilihnya saja. Tetapi mereka juga melakukan berbagai ritual gaib untuk merayu semesta agar mereka terpilih menjadi Kepala Desa.

Dan itulah sebenarnya yang terjadi, nuansa pengkondisian emosi petempuran kepentingan di era kampanye yang begitu kuat. Akhirnya membuat sebagian orang menjadi sakit. Khususnya bagi fihak-fihak yang merasa kalah. Dan Calonnya tidak terpilih menjadi pemimpin.

Mereka-mereka ini lupa, bahwa sesungguhnya yang mereka perjuangkan adalah untuk kepentingan dan kebaikan semua orang. Dan bukan untuk kepentingan mereka pribadi. Sehingga segala hal yang terjadi mereka masukkan ke dalam hati, dan akhirnya membuat hati menjadi sakit.

Berawal dari sakit hati, maka kemudian berimbas pada sakit fisik. Itulah yang sesungguhnya terjadi. jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan sihir, santet, kiriman ilmu hitam, dll.

Gangguan psikosomatis adalah kondisi psikologis dan emosional yang menimbulkan gangguan fisik. Gangguan psikosomatis mudah dikenali dan mudah dibedakan dari gangguan sakit organis.

Ciri khas gangguan psikosomatis adalah adanya keluhan fisik yang berulang dalam jangka waktu lama, meski secara diagnosis pasien dinyatakan baik-baik saja. Tak hanya lambung, seluruh organ tubuh bisa terkena imbasnya.

Bahkan, pada kasus gangguan psikosomatis yang berat, pasien bisa mengalami kebutaan, masalah kelamin, atau masalah seksual seperti susah ereksi dan ejakulasi. Ini yang disebut pseudoneurogical, tahap di mana beban pikiran memengaruhi saraf tubuh.

Penyebab gangguan Psikosomatis adalah beban pikiran yang tidak bisa keluar atau disalurkan secara sehat. Contohnya, karena si pasien tidak punya teman curhat sehingga menyimpan beban pikirannya sendiri. Gangguan Psikosomatis ini paling sering terjadi pada usia awal 30-an. Anak-anak terhindar dari penyakit ini, karena belum mempunyai beban pikiran.

Bagaimana membedakan Psikosomatis dengan penyakit biasa? 
Ciri-ciri Psikosomatis ditandai dengan adanya keluhan fisik yang beragam, antara lain seperti :
1. Pegal-pegal
2. Nyeri di bagian tubuh tertentu
3. Mual,muntah, kembung dan perut tidak enak
4. Sendawa
5. Kulit gatal, kesemutan, mati rasa
6. Sakit kepala
7. Nyeri bagian dada,punggung dan tulang belakang

Keluhan itu biasanya sering terjadi dan terus berulang serta berganti-ganti atau berpindah-pindah tempat, dirasa sangat menganggu dan tidak wajar sehingga harus sering periksa ke dokter.

Banyak orang menderita penyakit psikosomatis namun tidak menyadarinya. Mereka biasanya akan terus berusaha sembuh dari sakit yang dideritanya dengan terus berobat namun tidak bisa sembuh. Kalaupun ada perubahan biasanya intensitas penyakitnya saja yang menurun tapi tidak bisa sembuh total. Selang beberapa saat biasanya akan kambuh lagi dan bisa lebih parah dari sebelumnya. Bagaimana Terjadinya?

Untuk memahami terjadinya penyakit psikosomatis kita perlu mencermati hukum pikiran dan pengaruh emosi terhadap tubuh. Ada banyak hukum yang mengatur cara kerja pikiran, salah duanya adalah:
  1. Setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik. 
  2. Simtom yang muncul dari emosi cederung akan mengakibatkan perubahan pada tubuh fisik bila simtom ini bertahan cukup lama. 
Hukum pertama mengatakan setiap pikiran atau ide mengakibatkan reaksi fisik. Bila seseorang berpikir, secara konsisten, dan meyakinkan dirinya bahwa ia sakit jantung, maka cepat atau lambat ia akan mulai merasa tidak nyaman di daerah dada, yang ia yakini sebagai gejala sakit jantung. Bila ide ini terus menerus dipikirkan dan akhirnya ia menjadi sangat yakin, menjadi belief, karena gejalanya memang “benar” adalah gejala sakit jantung maka, sesuai dengan bunyi hukum yang kedua, ia akan benar-benar sakit jantung.

Biasanya orang tidak akan secara sadar menginginkan mengalami sakit tertentu. Umumnya yang mereka rasakan adalah suatu perasaan tidak nyaman, secara emosi. Sayangnya mereka tidak mengerti bahwa perasaan tidak nyaman ini sebenarnya adalah salah satu bentuk komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar.

Ada lima cara pikiran bawah sadar berkomunikasi dengan pikiran sadar. Bisa melalui :
  1. Perasaan, 
  2. Kondisi fisik, 
  3. Intuisi, 
  4. Mimpi, dan 
  5. Dialog internal. 
Umumnya pikiran bawah sadar menyampaikan pesan melalui perasaan atau emosi tertentu. Bila emosi ini tidak ditanggapi atau diperhatikan maka ia akan menaikkan level intensitas pesannya menjadi suatu bentuk gangguan fisik dan terjadilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.

David Cheek M.D., dan Leslie LeCron menulis dalam buku mereka, Clinical Hypotherapy (1968), terdapat 7 hal yang bisa mengakibatkan penyakit psikosomatis:

  1. Internal Conflict : konflik diri yang melibatkan minimal 2 Part atau Ego State.
  2. Organ Language : bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam mengungkapkan perasaannya. Misalnya, “Ia bagaikan duri dalam daging yang membuat tubuh saya sakit sekali.” Bila pernyataan ini sering diulang maka pikiran bawah sadar akan membuat bagian tubuh tertentu menjadi sakit sesuai dengan semantik yang digunakan oleh klien.
  3. Motivation / Secondary Gain: keuntungan yang bisa didapat seseorang dengan sakit yang dideritanya, misalnya perhatian dari orangtua, suami, istri, atau lingkungannya, atau menghindar dari beban tanggung jawab tertentu.
  4. Past Experience : pengalaman di masa lalu yang bersifat traumatik yang mengkibatkan munculnya emosi negatif yang intens dalam diri seseorang.
  5. Identification : penyakit muncul karena klien mengidentifikasi dengan seseorang atau figur otoritas yang ia kagumi atau hormati. Klien akan mengalami sakit seperti yang dialami oleh figur otoritas itu.
  6. Self Punishment : pikiran bawah sadar membuat klien sakit karena klien punya perasaan bersalah akibat dari melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai hidup yang klien pegang.
  7. Imprint : program pikiran yang masuk ke pikiran bawah sadar saat seseorang mengalami emosi yang intens. Salah satu contohnya adalah orangtua menanam program ke pikiran bawah sadar anak dengan berkata, “Jangan sampai kehujanan, nanti bisa flu, pilek, dan demam.”
Sedangkan Tebbets, pakar hipnoterapi terkemuka, mengatakan bahwa kebanyakan penyakit bersifat psikosomatik dan dipilih (untuk dimunculkan) pada level pikiran bawah sadar untuk lari dari suatu situasi yang dipersepsikan sebagai suatu tekanan mental yang berlebihan (overload) yang disebabkan oleh emosi destruktif seperti marah, benci, dendam, takut, dan perasaan bersalah.

Bagaimana Mengatasinya?
Karena yang menjadi sumber masalah sebenarnya adalah emosi maka terapis harus mampu membantu klien memproses emosi terpendam yang menjadi sumber masalah.

Tebbets mengatakan bahwa ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis dan menghilangkan simtomnya melalui teknik uncovering:
  1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level pikiran sadar sehingga diketahui.
  2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.
  3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.
  4. Harus terjadi pembelajaran pada secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah sadar.
Mencari tahu apa yang menjadi sumber masalah dilakukan dengan hypnoanalysis mendalam. Ada banyak teknik hipnoterapi yang bisa digunakan untuk melakukan hypnoanalysis. Setelah itu, emosi yang berhubungan dengan memori dialami kembali, dikeluarkan, diproses, dan di-release. Dan yang paling penting adalah kita mengerti pesan yang selama ini berusaha disampaikan oleh pikiran bawah sadar dengan membuat klien mengalami penyakit psikosomatis. Baru setelah itu proses kesembuhan bisa terjadi.

Pada saat alasan untuk terciptanya penyakit psikosomatis telah berhasil dihilangkan maka pikiran bawah sadar tidak lagi punya alasan untuk mempertahankan penyakit itu atau memunculkannya lagi di masa mendatang.

Saya akhiri artikel ini dengan kalimat bijak yang disampaikan oleh Dr. Raymond Charles Barker, “When there is a problem, there is not something to do. There is something to know.”

Demikianlah sekilas ulasan saya mengenai  Sakit Psikosomatis Akibat Pilpres, semoga kita menjadi lebih dewasa dan lebih bijak dalam mensikapi segala dinamika kehidupan, demi kebaikan serta kesehatan diri kita sendiri.

Dan bila anda merasa tulisan ini cukup bermanfaat untuk anda, silahkan SHARE ke sahabat-sahabat anda di Sosmed. Terima Kasih.

Referensi : Titi Mahargyaningrum,S.Psi,Psi



AGENDA TERBARU TRAINING HIPNOTIS & HIPNOTERAPI NAQS DNA :

SURABAYA :
✔ Minggu, 9 November 2014 : Pelatihan Master Neo Hipnotis, Guru Hipnotis, Fundamental Hypnotherapy & 15 Jenis Ilmu Hipnotis.. Info Materi KLIK : [http://goo.gl/9w700s]

Info Pelatihan Private Jakarta :
✔ Kamis, 20 November 2014 : Workshop Kontak The Alchemy of Mind (KAM). Info Materi KLIK DI SINI..

Jadwal Desember 2014 :
1. Melaka, Malaysia, 6 & 7 Desember 2014 : Pelatihan Professional Hypnotherapy. (Kak Long Chalet, Ujung Pasir, Melaka)
2. Makasar, 20 & 21 Desember 2014 : Pelatihan Quantum Mind Technology & TS - Code
3. Bandung, 28 Desember 2014 : Pelatihan Master Neo Hipnotis, Guru Hipnotis, & Quantum Kontak. ( Hotel V Residence. Jl. Ciganitri sukajadi. Bandung. )