ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 01 Desember 2014

NLP MEMUSNAHKAN SIHIR PELET BAGIAN 2 (Secondary Gain)

NLP MEMUSNAHKAN SIHIR PELET BAGIAN 2

Mempraktekkan berbagai tekhnik terapi, baik Hypnotherapy (Terapi Hipnotis), Terapi Energi, ataupun Terapi NLP, dll sesungguhnya itu mudah saja asalkan kita dapat dengan tepat menemukan sumber permasalahannya. Maka permasalahan Klien akan dapat diselesaikan dengan tuntas, mudah dan sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan menit saja.

Bagian yang tersulit dari sebuah terapi adalah mencari akar permasalahan yang ada pada diri Klien. Dan yang lebih sulit lagi adalah bila permasalahan klien itu timbul karena klien ini banyak maunya, dan terjadi pertentangan di antara dua keinginan...

Misalnya seperti yang terjadi pada kasus yang sudah saya tulis dalam artikel yang berjudul "NLP Memusnahkan Sihir Pelet."

Di satu sisi dia sangat ingin melupakan perempuan yang telah membuatnya tergila-gila, dan di sisi yang lain dia ingin perempuan itu mengejar-ngejar dia...

Permasalahan Klien yang Kompleks seperti ini membuat proses terapi terpaksa harus saya lakukan secara Gradual dan bertahap.

Tahap pertama, menghilangkan efek kecanduannya pada perempuan itu serta melenyapkan Limiting Belief terkait dengan pengaruh Sihir Pelet.

Sedangkan Tahap Kedua adalah menginstal Personal Power yang cukup kuat sehingga membuatnya mampu untuk kembali hidup Normal dan bahkan kembali hidup berjaya.....

Nah, tahap ketiga ini nih yang tersulit.... Menginstal Ilmu Pelet agar si perempuan itu mengejar-ngejar kepadanya...

Lha wong jelas-jelas perempuan itu yang membuatnya terjerumus pada masalah, eh dia malah ingin kembali terlibat dengannya....

Hadddeeeh......... Ampyuuuun......

Manusia memang banyak maunya...
Mau terlepas dari masalah, tetapi masih juga suka terlibat ke dalam masalah yang sama....

Secondary Gain (Intensi Positif Dari Problem).
Mengapa tahap ketiga merupakan bagian terapi yang tersulit dari proses terapi kepada klien kita yang satu ini..? Karena sesungguhnya keinginan atau outcome yang diminta oleh klien ini sesungguhnya merupakan suara hati yang bersumber dari Kondisi Psikologis yang dsebut sebagai Secondary Gain, yaitu sebuah intensi positif atau sebuah keuntungan lain yang dia peroleh dari permasalahan itu.

Jadi, di satu sisi dia memang memperoleh masalah dari hal itu. Namun di sisi yang lain, dia juga memperoleh keuntungan atau kenikmatan dari permasalahannya itu. Kenikmatan jenis ini dinamakan kenikmatan sekunder (secondary gain). Kondisi ini sebenarnya adalah kondisi penuh penderitaan. Jadi, kondisi primernya menderita. Sedang kondisi sekundernya nikmat.

Dan keuntungan serta kenikmatan sekunder inilah yang akan membuat dia akan terjebak pada permasalahannya kembali.

Untuk memudahkan anda mengerti, silahkan bandingkan dengan kasus kecanduan rokok. Semua perokok tentu akan menyatakan suatu Nilai Positif dari kebiasaan merokok tersebut. Walaupun faktanya dia juga menyadari bahwa kebiasaan merokok tersebut mempunyai dampak yang kurang baik bagi dia.

Di satu sisi dia ingin sekali untuk berhenti merokok, namun di sisi yang lain dia takut kehilangan keuntungan dari kebiasaannya merokok itu. Misalnya, dia takut kehilangan ketenangan serta kreatifitasnya bila dia menghentikan kebiasaan merokok.  Atau mungkin dia takut tidak diterima dalam sebuah pergaulan karena tidak merokok, tidak dianggap kerenz, takut dianggap kampungan, dll.

Secondary Gain inilah yang sering membuat sebuah hasil terapi yang telah berhasil dengan baik menyembuhkan seseorang menjadi rusak, dan pasien kambuh bin kumat kembali.

Contoh lain adalah bila anda sakit. Ini kondisi primernya,…menderita. Tapi, anda juga bisa mendapat kenikmatan ketika keluarga dan teman-teman anda menjenguk anda. Mereka memperhatikan anda. Anda dibuat senang karenanya. Ini kondisi sekundernya,…nikmat.

Bila kondisi Sekunder yang Nikmat ini terasa atau dinilai lebih bernilai.
Maka kondisi Primer yang menDerita akan susah sekali untuk hilang atau dihilangkan.

Contoh lain, Kenapa ada istri yang menderita oleh suaminya, tapi tak mau berpisah dari suaminya itu?

Istri yang menderita karena disakiti suaminya tetap bisa bertahan karena ia mempertahankan kenikmatan sekundernya. Apa itu? Status kalau ia berkeluarga, kesejahteraan, kekayaan, kasih sayang dari anak-anak, pandangan masyarakat, dll.

Kenapa bisa begitu...? Mengapa ada orang yang rela memperoleh kenikmatan namun penuh penderitaan seperti itu..?

Ada tiga penyebabnya:
  1. Daya adaptasi, 
  2. Ketakutan 
  3. Keliru menentukan apa yang penting. 
Manusia bisa beradaptasi dengan kondisi apapun. Kekuatan ini seperti pedang bermata dua. Bisa berguna atau mencelakakan. Berguna karena membuat manusia bisa bertahan hidup. Mencelakakan karena manusia bisa beradaptasi, bahkan menikmati kondisi buruk yang menimpanya, sehingga tidak keluar-keluar dari kondisi buruk tersebut.

Setelah biasa menikmati kenikmatan sekunder, maka manusia pun akan takut untuk berubah. Takut kalau-kalau ia berubah, ia tidak mendapat kondisi yang lebih baik, tapi justru lebih buruk. Maka mereka hidup dalam kondisi dicengkeram ketakutan.

Keliru menentukan apa yang penting membuat mereka justru mementingkan hal yang tidak penting. Hal-hal tidak penting yang merupakan hal-hal yang semu. Dan mereka mempertahankan kenikmatan sekunder itu. Kenikmatan yang sebenarnya semu. Mereka membayar kenikmatan sekunder dengan penderitaan primer. Sungguh sangat Rugi dan Tidak sepadan dengan penderitaan yang harus mereka tanggung..

Lalu apa yang harus dilakukan?
Ada tiga hal pula:
  1. Sadari.
  2. Tentukan apa yang sebenarnya penting.
  3. Ambil resiko.
Sadarilah kondisi kita sekarang. Adakah kenikmatan sekunder yang kita pertahankan? Bila ada, akui itu ada. Jangan disangkal. Jangan cari-cari alasan atau pembenaran.

Lalu tentukan apa yang sebenarnya yang lebih penting untuk kita. Ini tahap pengambilan keputusan yang sangat penting untuk anda. Buatlah keputusan yang tegas tentang hal ini. Dan kemudian, beranilah mengambil resiko untuk memulai hidup baru.

Nah, kembali pada kasus Klien yang mempunyai Outcome yang ternyata merupakan manifestasi dari Secondary Gain dari permasalahannya ini. Dan mengingat permasalahannya yang kompleks. Maka, mau tidak mau dia harus menjalani sebuah perawatan yang bersifat intensif. Secara bertahap dihilangkan aspek-aspek yang menjadi penghambat dirinya satu persatu sehingga dia dapat kembali hidup normal.

Rumit dan unik ya.. kalau bicara mengenai pikiran manusia...??? Oh, tenang saja bro.. walau rumit, toh khan masih ada saya yang siap membantu anda... Hwuahahahaha....

Okey sekian dulu tulisan saya kali ini, semoga bermanfaat, dan sampai jumpa dalam tulisan selanjutnya. Ingat, teman dan sahabat anda mungkin membutuhkan pencerahan dari tulisan ini. So, bagikan tulisan ini ke sahabat-sahabat anda. Terima kasih dan salam sukses untuk anda semua.

Artikel terkait : NLP MEMUSNAHKAN SIHIR PELET http://www.naqsdna.com/2014/11/nlp-memusnahkan-sihir-pelet.html

CHANGE YOUR MIND, CHANGE YOUR LIFE.
Do You Mind To Change Your Mind & Get Better Life..?
If You Don't Mind, Let me Help You.. Because I am Your Therapist.

Edi Sugianto
(Founder NAQS DNA Institute)
Hp : 081 231 649 477
Pin BB : 7CCD0CA5
Twitter : @edi5758
FB : https://www.facebook.com/haryopanuntun
Web : www.NAQSDNA.com