ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 08 Januari 2015

KETIKA GURU MENCIPTAKAN MENTAL BLOCK

Ada banyak guru yang mengajarkan ilmunya dengan menerapkan sistem peringkat atau level... Jika hal ini terkait dengan materi pembelajaran yang berbeda, maka hal itu adalah baik dan benar serta memang seharusnya begitu, agar pelajaran yang lebih mudah lebih dahulu diserap dan difahami oleh siswa, sehingga siswa siap untuk mempelajari pembelajaran lanjutan yang lebih sulit....

Tetapi, adakalanya hal itu hanya untuk tujuan keuntungan materi semata... karena ilmu yang diajarkan juga sama, hanya saja sang guru memang dengan sengaja pasang level bertingkat-tingkat agar duit terus mengalir ke dalam pundi-pundi hartanya.....

Misalnya, untuk Ilmu Sahabat Virtual, ada yang bikin level bertingkat-tingkat, padahal tidak seharusnya begitu... atau Ilmu Money Magnet, ada yang bikin level yang bertingkat-tingkat.. padahal tidak seharusnya begitu.....

Sistem peringkat untuk suatu keilmuan yang tidak seharusnya menggunakan sistem level, justru akan menciptakan Mental Block bagi siswa, sehingga bagaimanapun sang siswa berlatih dan berusaha... hasil yang diperolehnya tidak akan mampu melebihi daripada batas maksimal yang telah ditetapkan oleh sang guru...
Hal itu terjadi karena sang Guru telah menanamkan suatu keyakinan yang membatasi kemampuan siswa, membuat siswa mempunya keyakinan yang terbatas, yang disebut Limiting Belief atau Mental Block...

Sebagaimana pernah saya jumpai kisah dari seorang peserta pelatihan saya yang bercerita bahwa dia pernah mengikuti suatu pelatihan Money Magnet, dan karena sang guru menetapkan sistem level. Maka entah kenapa tanpa alasan yang jelas, dia merasakan rejekinya seolah-olah malah tersumbat... Sehingga ikhtiarnya dalam memperoleh rupiah tidak pernah melebihi angka sebagaimana ditetapkan oleh sang guru yang pernah mengajarinya Money Magnet...

Sekeras apapun dia berusaha keuntungan yang dia peroleh tidak akan pernah melebihi Batas Maksimal yang telah ditetapkan oleh si gurunya tadi..

Mendengar hal ini, saya sampai geleng-geleng kepala. Ternyata ada trainer Money Magnet yang menggunakan tekhnik Hypnotic Shield alias mengunci dan membatasi potensi rejeki para pesertanya, dengan menerapkan sistem level....

Untuk Level 1, dia buka satu kunci dengan mahar 400rb, dan potensi penghasilan yang diperoleh peserta adalah puluhan ribu, artinya apapun usaha yang dilakukan peserta, maksimal laba yang diperoleh hanya kisaran puluhan ribu saja..

Untuk level 2, dia buka 2 kunci, maharnya 1,1 juta, potensi penghasilan ratusan ribu...

Untuk level 3, dia buka 4 kunci, maharnya 3,5jt, potensi penghasilan jutaan...

Dst...

Ini adalah suatu sistem Reprogramming Pikiran yang tidak bersifat memberdayakan orang lain dan malah memperdaya orang lain demi keuntungan pribadi, dengan menanamkan Limiting Mind Reprogramming yang akan menumbuhkan Limiting Belief. Dan akhirnya akan membatasi prestasi orang lain.

Sistem Manajemen Pikiran seperti ini kalau dilihat secara sekilas, memang seolah-olah baik karena dapat meningkatkan kemampuan peserta secara bertahap. Namun, faktanya tidaklah demikian. Bagi masyarakat yang kemampuannya terbatas, tentu dia hanya mampu mengikuti di level-level rendah saja. Padahal Efek negatif dari sistem yang diterapkan oleh Trainer ini, adalah terciptanya mental block di dalam pikiran bawah sadar para pesertanya yang akan menghambat dia memperoleh rejeki lebih...

Sedangkan bagi kalangan yang berduit dan mampu mengikuti pelatihan dengan level yang tertinggi sekalipun, hasilnya juga tidak menjamin sang peserta secara langsung dan instant memperoleh penghasilan besar hingga ke angka milyaran rupiah ataupun trilyunan rupiah. Karena sehebat apapun suatu Mind Reprogramming ataupun suatu pelatihan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar. Perkembangan serta peningkatan kemampuan serta kompetensi siswa dalam menggunakan Potensi Pikiran Bawah sadarnya adalah bersifat bertahap dan berproses secara alamiah sesuai dan selaras dengan hukum alam yang Universal. Universal artinya berlaku dimana-mana dan bagi siapa saja. Tidak perduli apa latar belakang agama, suku, dan bangsanya.

Dan yang membuat saya lebih heran lagi, si Trainer ini seorang Trainer professional yang sudah memperoleh pendidikan NonFormal Hypnotherapy dan sudah memperoleh gelar Nonformal CH CHt CI, yang artinya dia ini adalah seorang yang dianggap kompeten untuk mengajarkan hypnotherapy. Tetapi mengapa kok malah mempunyai cara kerja yang tidak etis dan tidak professional seperti itu. Apalagi kabarnya dia ini secara formal sudah memperoleh gelar akademis hingga S2.. Tetapi mengapa sangat sempit sekali caranya berfikir.. Padahal Saat dia membuat program pelatihan yang membatasi potensi orang lain, sesungguhnya dia itu sedang membatasi potensi dirinya sendiri...

Dan ajaibnya, ketika tulisan di atas ini saya posting secara bertahap dalam status Facebook saya. Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, saya diserang oleh beberapa rekan Trainer senior... Ini aneh... Kok ada orang yang rela mengorbankan kepentingan masyarakat demi membela Trainer jahil yang jelas-jelas merugikan masyarakat....

Namun karena Tugas saya itu melayani masyarakat, dan bukan melayani Trainer.... Jadi, tentu saja saya lebih mengutamakan kepentingan masyarakat banyak daripada membela ulah segelintir Trainer jahil... Dan saya tetap Fokus memberikan informasi yang benar demi kebaikan masyarakat luas.

Oleh sebab itulah, tulisan ini saya buat. Semoga masyarakat terhindar dari adanya sistem pelatihan yang justru membuat masyarakat awam semakin terbodohi dan semakin tidak berdaya untuk meningkatkan taraf kehidupannya ataupun taraf kompetensinya...

Sekian ulasan singkat saya kali ini, semoga bermanfaat dan salam sukses untuk anda semua.

Edi Sugianto (Founder NAQS DNA)
Hp/WA : 0812 3164 9477
Pin BB : 7ccd0ca5
Twitter : @edi5758
Facebook : https://www.facebook.com/haryopanuntun
Web : www.naqsdna.com



Lampiran :

ETIKA PROFESI TRAINER & HIPNOTERAPIST.

Sampai saat ini saya melihat tidak ada aturan kode etik formil yang jelas dan pasti untuk mengatur kerja para trainer ataupun hipnoterapist secara profesional...

Sehingga setiap praktisi bebas menetapkan kode etik secara subjektif menurut persepsi mereka masing-masing.

Dan dari semua kode etik yang ada, saya melihat seolah-olah ada kode etik tidak tertulis yang mewajibkan para trainer ataupun hipnoterapist untuk Loyal dan menjaga hubungan baik dengan sesama trainer. Dan tentu saja saya mendukung kode etik yg seperti ini..

Hanya saja, kode etik ini seringnya bersifat buta. Artinya, walaupun jelas-jelas ada sesama praktisi yang melakukan prosedur yang salah dan melakukan MalPraktek jika ditinjau dari sudut ilmu hypnotherapy. (Misalnya melakukan Hypnotic Shield ataupun menanamkan False Imprint, atau mengembangkan tekhnik induksi totok urat nadi leher yg bisa berakibat terjadinya kerusakan otak ataupun kematian, atau menyinggung isu SARA, atau tindakan lain yang merugikan masyarakat). Cenderung yg lain enggan mengingatkan, dan kalaupun ada yg mau dan berani mengingatkan. Akan dimusuhi oleh praktisi yg lain, karena dianggap tidak loyal terhadap persatuan..

Dan ketika hal ini dipublikasikan di sosmed, Walaupun yang disoroti hanyalah perilakunya saja tanpa menyebutkan nama alias anonim, tetapi faktanya sering dimusuhi dan juga di bully oleh sesama trainer karena mengupas sebuah fenomena MalPraktek di bidang hypnosis / hypnotherapy..

Ya.. Mungkin hal ini terjadi karena tidak adanya aturan yg jelas mengenai kode etik tadi, sehingga sesuatu itu sudah dianggap malpraktek atau tidak, itupun masih bersifat subjektif.. Yang artinya, sebuah tindakan malpraktek menurut A belum tentu dipandang malpraktek oleh B. Dll..

Hal itu mungkin yang menyebabkan dunia Training Hypnosis dan Hypnotherapy di Indonesia saat ini masih Chaos dan jahiliyah.. Dan sebuah persatuan ataupun persaudaran terbentuk pada umumnya lebih didasari oleh faktor kepentingan dan uang. Dan bukan karena pelayanan kepada masyarakat.

Saya berharap, dunia hypnosis dan hypnotherapy di Indonesia dan di dunia dapat lebih tertata lagi, dan betul-betul menegakkan prinsip CLIENT CENTERED yaitu mengutamakan kepentingan masyarakat. Sehingga masyarakat terlindungi dari tindakan yang tidak etis dan professional dari beberapa oknum yang jahil..

Semoga....