Pak Harto & Bahaya Laten Komunisme

Bagi anda yang seusia dengan saya, bahkan mungkin yang lebih tua dari saya. Tentu sangat Familier dengan Pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), Penataran P-4, dll. Yang kita dapatkan dari bangku sekolah. Bahkan boleh dikatakan, mulai peringkat Sekolah Dasar hingga ke bangku Kuliah. Pelajaran untuk menanamkan Nilai-nilai kebangsaan ini selalu ada dan diberikan sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran di era Orde Baru yang di pimpim Oleh Presiden Soeharto.

Saat ini, setelah orde Reformasi berjalan beberapa periode. Dimana pelajaran Kebangsaan seperti P4 sudah ditiadakan. Mulai terasa bahwa Hilangnya pelajaran kebangsaan ini. Ternyata membuat bangsa kita seperti mengalami krisis Nasional yang cukup mengkhawatirkan bagi keberlangsungan negara kesatuan kita ini. Banyak Doktrin serta ideologi yang anti NKRI mulai merasuki generasi muda. Ada gerakan Islam Radikal, Gerakan Kiri Radikal, Komunisme, Sekularisme, Liberalisme, dll. Yang secara perlahan membuat bangsa ini menjadi semakin terkotak-kotak pada pemahaman dan ideologi kebangsaan yang berbeda jauh dan bahkan cenderung saling berlawanan.

Tantangan yang dihadapi bangsa ini semakin lama semakin besar, dan yang kita semua lakukan hanyalah semakin sibuk untuk saling melemahkan. Sungguh sangat disayangkan bukan?


Terkait dengan hal ini, Hidayat Syarif di dalam akun Facebooknya menulis seperti ini :

PENGAKUAN YANG TERTUNDA..
Pak, pada akhirnya kami harus akui Bapak Benar.Bertahun-tahun selama menimba ilmu di sekolah tak hentinya kami dicekoki pelajaran Penebal Nasionalisme.

Pelajaran bagaimana mencintai Bangsa ini dan bagaimana menjaga Kedaulatannya dari berbagai ancaman, terutamanya KOMUNIS. Dulu kami hampir muak serta bertanya-tanya ke arah mana Bapak akan membawa kami dengan doktrin-doktrin Junjung Pancasila dan ANTI KOMUNIS.

12 tahun menimba ilmu di sekolah lagi dan lagi otak kami diasup, mental kami diperkokoh dengan pelajaran yang sama.Kami layaknya robot yang hanya tahu PANCASILA itu Harus Dijaga, Paham Komunis itu Berbahaya dan Tidak Boleh Diberi Ruang dalam NKRI.Tidak cukup di bangku sekolah, di layar kacapun doktrin-doktrin yang sama hampir tidak pernah absen. Lagu Garuda Pancasila beserta gambar dan penjelasan kelima silanya jadi Menu Wajib pembuka Siaran, pun saat akhir siaran lagu-lagu penggelora Patriotisme tayang bergantian.

Terus terang kami jenuh dengan tayangan yang itu-itu saja, gerutu kami ; ga di sekolah ga di rumah, semua sama ! Rasanya waktu itu sangat jarang anak usia sekolah Tidak Hapal Pancasila, Teks Proklamasi, UUD'45, Sumpah Pemuda dan Lagu-lagu Nasional. Kesemuanya itu wajib dan jadi "Dosa Besar" jika sampai tidak lancar dalam pengucapannya.

Ketika TV Swasta mulai tumbuh giranglah hati sebab kami tidak harus lagi "makan" tayangan-tayangan wajib tersebut.Kepala kami seperti bebas dari jarum suntik berisi doktrin-doktrin yang bikin kram otak.

Doktrin-doktrin tentang Ideologi Negara dan Patriotisme terlelap bersama waktu seiring lengsernya Bapak sebagai Pemimpin.Namun itu semua tidak lenyap, hanya tidur sejenak.Alarm bernama Perpecahan dan Kebangkitan PKI membangunkan doktrin-doktrin tersebut dari tidurnya.Bekal yang Bapak selipkan ke Jiwa Anak Bangsa semasa Bapak memimpin sekarang punya arti dan Harga Yang Tidak Terukur.Bapak telah Menamengi jiwa kami dengan doktrin-doktrin yang pernah kami cap menjemukan.Sekarang kami tahu bahwa kami dipersiapkan sebagai Para Penjaga Kedaulatan Ibu Pertiwi, kami yang Mencintai Tanah Air ini dengan Kebanggaan.

Kami,Bapak tempa agar selalu mawas diri supaya tidak lagi kecolongan oleh musuh yang sama bernama KOMUNISME.

KOMUNISME yang saat ini mencoba bangkit dari mati surinya dengan membonceng kaum HEDONIS pemuja kebhinekaan, bukan Bhinneka Tunggal Ika.

Berkat bekal yang Bapak beri niscaya kami siap melawan gempuran dan tidak akan kami biarkan Bangsa ini tunduk pada penguasa tamak berhaluan kiri (KOMUNIS).

Terima kasih Pak untuk bekalnya.
Semoga allah swt menempatkan Bapak di tempat terindah disisinya
Aamiin yra

Source : https://www.facebook.com/hidayat.syarif.169/posts/886711574814375
Demikian tulisan pak Hidayat Syarif, dan saya yakin masih sangat banyak elemen bangsa yang lain punya pemikiran seperti pak Hidayat Syarif ini yang masih kuat jiwa nasionalismenya. Dan Sangat berharap agar NKRI tetap langgeng selama-lamanya, sampai ke anak cucu kita. Aamiin.

Sekian tulisan pagi ini, semoga bermanfaat.

SALAM.


• Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.combasupati.comsabdasakti.com

SMS/WA : +62 812 3164 9477
HP : +62 822 3458 3577
Telegram : @Hipnotis
Pin BB : DA927129
Twitter : @edi5758
Facebook : https://www.facebook.com/haryopanuntun
Google Plus : +Edi Sugianto, C.Ht., MNLP

Click To Chat :
Simak Materi Pelatihan Gratis Yang lain di Group Telegram JRC, KLIK DI SINI... untuk bergabung.

Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.


Jadwal Event Workshop, klik di sini..



Pak Harto & Bahaya Laten Komunisme Pak Harto & Bahaya Laten Komunisme Reviewed by Edi Sugianto, C.Ht., MNLP on 09.54 Rating: 5

1 komentar:

  1. Ever wanted to get free Google+ Circles?
    Did you know you can get these ON AUTO-PILOT AND TOTALLY FREE by registering on Like 4 Like?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.