ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 22 April 2011

Mengendarai Ombak Kehidupan

"Begitu melihat ombak laut, kita akan tahu bahwa ombak laut kadang rendah kadang tinggi, anggap saja ombak yang tinggi berarti kondisi positif, ombak yang rendah berarti kondisi negatif, ombak laut tidak pernah datar, hidup juga kurang lebih seperti itu."

Apa yang dirisaukan para peselancar? Jawabnya pasti, ”Tak ada ombak besar!” Semakin ganas ombak, adrenalin kian menderu. Bagi peselancar dunia, ombak di sepanjang garis pantai bagian selatan Samudra Hindia, yang membentang dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, hingga Pulau Weh, Aceh, merupakan surga para peselancar. Ombaknya tak tertandingi. “Luar biasa dahsyat!”

"Laut tanpa gelombang besar tak akan melahirkan peselancar tangguh."
"Sebesar apapun rintangan dan hambatan, selalu akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik."

Ada rumus jitu Bong Candra meraih kesuksesan yakni K+R=H  ► Kondisi + Reaksi = Hasil.
Apa maksudnya? Ada banyak orang yang mengeluh. Mereka dilanda berbagai masalah. Dilanda berbagai macam peristiwa pilu. Nah…ini adalah kondisi. Pertanyaannya bagaimana reaksi orang yang bersangkutan. Jika reaksinya positif, dalam arti pengalaman itu ditanggapi sebagai cambuk untuk berjuang dan bukan malah kendor semangat, maka kita pasti tahu hasilnya. Orang bersangkutan akan menjadikan peristiwa itu sebagai pedobrak harapan, perangsang daya kreativitasnya. Semangatnya tidak kendor. Dengan penuh keyakinan ia sadar bahwa ia mampu menyelesaikannya. Tetapi jika reaksinya negatif. Dalam arti ia semakin tidak percaya diri dan putus asa, maka hasilnya: orang bersangkutan pasti stress dan bahkan gelap melihat masa depannya.

Ingat, biar kondisi negatif asalkan reaksi positif maka hasil yang kita alami pasti positif. Tetapi jika kondisi positif tetapi reaksi biasa-biasa saja, maka hasilnya juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang lebih! Jika kondisi mendukung (positif) tetapi reaksi kita negatif maka hasilnya negatif. Kondisi positif ditanggapi reaksi positif akan membuahkan hasil maksimal. Dewasa ini, banyak orang yang bunuh diri, karena reaksi mereka menangggapi kondisi mereka cenderung negatif. Maka jalan pintas dianggap pantas: bunuh diri. Ini kan bahaya. Mereka menutup pintu peluang bagi diri mereka sendiri.

Seorang tokoh kondang yang mampu memahami realitas secara positif. Ia adalah Mohammad Natsir (1908-1993). Pengalaman direndahkan dan diejek ia terima di sekolahnya, Algemene Middelbare School (AMS), Bandung. Seorang gurunya di sekolah itu sering mengejeknya bahwa ia kurang fasih bahasa Belanda. Akan tetapi, Natsir tidak minder. Natsir yang mampu mengartikulasikan hidupnya secara arif lantas bersemangat untuk selalu belajar bahasa dan membaca berbagai literatur buku. Ia bercita-cita membuktikan bahwa dirinya tidak sebodoh yang disangka gurunya. Dan benar. Realitas membuktikan. Natsir menjadi sosok yang disegani. Wawasannya luar biasa. Soekarno terkagum-kagum akan pengetahuan dan kesantunan politiknya. Natsir menjadi sosok yang fasih bahasa Belanda. Bahkan bahasa Latin ia kuasai.

Natsir adalah tokoh bangsa Indonesia yang patut kita teladani. Kemampuannya menangkap hakekat realitas adalah butir nasehat penting bagi kita. Natsir tidak terpuruk menghadapi berbagai represi dari luar. Ia mampu dan mantap menghadapi realitas meminderkan. Hidupnya mengalir di atas realitas ketidak-menentuan. Hidupnya selalu di samudera perjuangan. Akan tetapi, Natsir sadar bahwa membuktikan kemampuan lebih penting daripada menyalahkan orang lain. Ia sadar bahwa lebih penting menyalakan api perjuangan daripada berusaha memadamkan api ejekan lawan. Natsir menjadikan ejekan gurunya sebagai motivasi meraih kesahajaan hidup. Kita pun bisa seperti Natsir!

Orang besar adalah orang yang dapat membesarkan orang lain.
Tiada seorangpun yg mampu menjatuhkan mental kita. Selama kita tdk mengizinkannya. Hanya orang kerdil yg hobi mengkerdilkan orang lain.

Janganlah jadikan kekecewaan Anda sebagai penghalang bagi kemungkinan-kemungkinan Anda. Apakah mereka yang mengecewakan Anda itu, yang mungkin juga sedang merayakan dengan tawa tersembunyi atas keberhasilannya dalam merendahkan Anda itu – akan bersimpati bila Anda menjadi pribadi yang gagal?

Jangan biarkan mereka berhasil melengkapkan kekejaman mereka atas diri Anda. Jangan katakan ‘tidak pernah’. Katakanlah, ‘apa yang harus aku lakukan untuk menjadikan perendahan ini sebagai awal dari kenaikan-ku.’

Jangan katakan ‘tidak akan pernah’. Katakanlah, tidak ada rasa sakit di hati ini – yang bisa menjadikanku lemah. Perhatikanlah, bahwa mereka yang benar-benar besar – tidak akan pernah mengecilkan orang lain. Dan mereka yang kecil, tidak akan tulus membiarkan orang lain menjadi besar. Bila Anda dikecilkan, itu pasti oleh orang kecil. Dan hanya orang kecil yang sakit bila disakiti oleh orang kecil.

►Dendam adalah Racunnya Hati.◄
“Mendendam kepada seseorang ibarat meminum racun. Berharap org yg kita benci menjadi mati karenanya. Namun racun tsb justru membunuh tubuh & keimanan kita secara perlahan-lahan."

Rasulullah bersabda, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.” (HR. Thabrani).

“Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu
  1. seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya,
  2. seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang,
  3. seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” 
(HR. Hakim).