ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 19 September 2011

Laduni Quotient, Model Kecerdasan Masa Depan

Assalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh...
Sahabat, NAQS DNA dalam pembinaan kepada siswanya adalah sudah pada ranah praktek. Berupa latihan-latihan praktis untuk mengolah kekuatan Fikiran, Hati Nurani, dan Jiwa serta Ruh. Oleh karena itu untuk mengisi di bidang teoretisnya, NAQS DNA banyak mengambil dari berbagai sumber untuk disesuaikan dengan pelajaran yang ada. Dan itu saya tuangkan dalam bentuk artikel di blog ini ataupun blog NAQS yang lain. Serta ada beberapa yang sudah saya rangkum dalam sebuah buku, sehingga siswa sudah tidak perlu bersusah payah mencari artikel yang diperlukan.

Saya adalah seorang praktisi, dan bukan ahli teori. Latar belakang pendidikan saya, Di Sekolah keruhanian yang saya ikuti yaitu Tarekat/Tasawuf, di sana tidak ada materi yang dijabarkan secara lisan atau banyak berteori. Yang ada adalah praktek dan praktek. Namun karena untuk memberikan penjelasan kepada siswa NAQS. Maka mau tidak mau sisi teori juga harus saya tampilkan sebagai media pembelajaran untuk siswa. Dan Sebagai suatu bentuk tanggung jawab saya untuk mendidik mereka.

Nah, disinilah tugas berat menanti saya. Kalau untuk diri saya sendiri, saya sudah tidak memerlukan banyak teori, tetapi untuk memberikan pemahaman yang tepat dan benar kepada siswa. Maka sayapun harus sekolah lagi. Banyak belajar dan membaca berbagai literatur, Maka sebagaimana yang sering saya katakan. Sebuah cara sukses dalam pembelajaran adalah Rajin Belajar dan rajin mengajar. Dari sinilah terjadi arus limpahan ilmu yang tiada henti dari Allah swt.

Saya terkadang menugaskan siswa untuk membelikan saya sebuah buku. Sebenarnya hal itu adalah sebuah pesan untuk mereka agar juga belajar dari buku tersebut. Bahkan kalau perlu, buku yang sudah mereka beli itu, tidak usah dikirimkan ke saya. Tetapi untuk diri mereka sendiri saja. Atau kalau mereka merasa ingin menjaga amanah, maka merekapun beli dua buku. Satu untuk saya dan satu lagi untuk diri mereka sendiri.

Nah, mengenai Laduni Quotient sebenarnya sudah ada sebuah buku yang berjudul Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan karya Ilung S. Enha. Silahkan bagi siswa NAQS DNA yang berminat untuk mengetahui lebih dalam tentang Kecerdasan Laduni untuk memiliki buku tersebut.

Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan “hati” adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah) dan pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa).

Bagi para filusuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma’rifat –suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara serta dzikir yang kontinu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi sumber atau wadah ma’rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah. Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas.

Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani—hati yang kotor

Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt.

Bagi para sufi, kata Al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.

Penggalian model-model kecerdasan untuk mempercepat proses berpikir, masih terus dilakukan para ahli di bidangnya. Setelah ditemukan belahan otak kanan dan otak kiri, kini ditemukan lagi pilahan otak tengah. Penemuan-penemuan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat proses kecerdasan tersebut. Lalu, adakah model-model kecerdasan yang bisa digali dari al-Qur’an? “Kecerdasan otak hanya bagian kecil dari seluruh totalitas kecerdasan manusia. Dalam bahasa agama kita mengenal istilah qalbun salim dan aqlun dzakiyyun… hati dan akal yang tercerahkan,” tutur Ilung S. Enha, Penulis buku Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan kepada Dedy Kurniawan dan Ahmad Suprianto dari JENDELA SANTRI. Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Penemuan model-model kecerdasan untuk mempercepat proses berpikir, makin digandrungi masyarakat. Lantas, apakah di dalam al-Qur’an sendiri ada tawaran tentang model-model kecerdasan tersebut?

Ada dua ratus lebih ayat al-Qur’an yang menginspirasikan tentang kecerdasan. Di dalamnya banyak sekali model-model kecerdasan selain IQ, EQ dan SQ yang belum sanggup kita gali. Jika para cerdik-cendekia Muslim mau menggalinya, maka kita akan mengerti jika IQ, EQ dan SQ itu hanyalah merupakan sebagian kecil dari model kecerdasan yang diinspirasikan oleh al-Qur’an.

Bisa disebutkan sebagian dari model-model kecerdasan tersebut?
Sebut saja misalnya fu’ad (IQnya hati). Ini adalah merupakan potensi qalb yang bertanggung jawab pada masalah-masalah rasionalitas. Jika otak rasionalitas kognitif manusia dapat “menipu”, namun fu’âd senantiasa berpikir dengan kejujuran dan merujuk pada realitas yang objektif. Meminjam idiom al-Qur’an, fu’ad itu tidak mendustakan apa yang dilihat (QS. an-Najm: 11). Juga potensi kecerdasan lainnya seperti dzauq (intuisi), aql (akal), qalb (hati), shadr (EQnya hati), bashirah (SQnya hati), lubb (ketajaman inti hati) dan ruh (totalitas kecerdasan). Hanya lantaran istilah-istilah al-Qur’an tersebut belum sanggup diterjemahkan ke dalam bahasa sains, sehingga umat Islam lebih gemar mengekor ke pengetahuan neurologi Barat tanpa merujuknya dengan al-Qur’an.

Bukankah selama ini mereka sudah mengkomparasikannya dengan al-Qur’an?
Yang selama ini terjadi bukanlah mengkomparasikan, melainkan justru menjustifikasi kebenaran neurologi Barat tersebut dengan ayat-ayat al-Qur’an. Ini sudah menjadi tradisi para cerdik-cendekia kita yang hingga kini masih belum juga berubah. Jadi, yang namanya psikologi Islam adalah pengetahuan psikologi Barat yang ditambah dengan dalil-dalil dari al-Qur’an. Begitu pun dengan metodologi dan teori-teori pendidikan Islam, itu teori pendidikan Barat yang ditambah dalil-dalil al-Qur’an. Begitupun dengan IQ, EQ dan SQ, agar tampak islami lantas kita carikan dalil-dalil al-Qur’an atau al-Hadits untuk mendukungnya.

Ambil SQ misalnya, bukankah dalam al-Qur’an sendiri memang banyak ayat yang menjelaskan tentang masalah-masalah yang ruhaniah?
Nah, kan? Dengan begitu entengnya kita mentransliterasi istilah spiritualitas dengan ruhaniah. Kita memang terbiasa latah mempadankatakan istilah-istilah yang sebenarnya tidak sama maknanya. Seperti ketika kita menyebut kata jasmani-ruhani. Kata ruhani di situ kerapkali kita maknai dengan jiwa. Padahal jiwa dalam al-Qur’an disebut dengan idiom nafs. Sehingga kata jasmani-ruhani seharusnya bukan diterjemahkan sebagai jasad dan jiwa, melainkan jasad dan ruh. Dan kata ruh sendiri tak bisa kita samakan dengan kata spirit dalam terminologi Barat.

Lho.. bukankah padan kata spiritualitas itu adalah ruhaniah?
Neurosains Barat menjelaskan spiritualitas itu bersarang di otak manusia. Sedangkan ruhaniah itu beroperasi di wilayah ruh. Jadi.. spiritualitas dalam terminologi Barat sangat berlainan dengan kata ruhaniah yang dimaksud oleh al-Qur’an. Menurut persepsi Barat, orang yang humanis, liberal, atau bahkan atheis sekalipun, mereka bisa mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Sedangkan menurut al-Qur’an, tak mungkin seseorang yang mengingkari eksistensi Tuhan bisa mencapai tingkat ruhaniah yang tinggi.

Jadi arti dari istilah spirit itu sendiri…
Jika kita merujuk pada kata aslinya, itu dekat dengan pengertian al-Qur’an. Kata spirit diambil dari kata spiritus yang diadopsi Barat dari Yunani. Kata spiritus memiliki makna ruh. Tapi Barat rupanya kurang konsisten dalam memaknainya, sehingga SQ lebih didefinisikan sebagai sesuatu yang menghidupkan, semangat hidup atau nafas kehidupan dengan tanpa sama sekali merujuk pada ruh. Jadi.. ketika manusia merespon insting keberagamaan, dipahami oleh Barat itu karena aktivitas God Spot yang terletak di lobus temporal dan bukan sesuatu yang bersifat ruhani. Sedangkan menurut al-Qur’an, kecerdasan yang bersifat ruhaniah tersebut bersarang di hati manusia dan bukan di otak. Sebab dengan hati yang senantiasa tercerahkan, maka seseorang akan selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Lantas, di mana sebenarnya posisi IQ, EQ dan SQ sendiri dalam ranah al-Qur’an?
Kalau ketiganya dipersepsi dengan terminologi Barat, maka ketiganya masuk dalam ruang al-fikr yang di al-Qur’an diungkapkan dengan idiom fakkara, yatafakkaru, tatafakkaru atau yang senada dengan itu. Sebab Barat memahami IQ, EQ dan SQ merupakan aktivitas dari kinerja otak. IQ dan EQ mereka pahami sebagai kinerja dari otak kognitif dan otak intuitif. Begitu juga dengan SQ yang mereka jelaskan sebagai aktivitas dari noktah otak yang mereka sebut sebagai God Spot. Jadi ketiga-tiganya bersarang di otak manusia.

Lalu… bagaimana kita bisa menjelaskan model-model kecerdasan yang diinspirasikan al-Qur’an itu sehingga dianggap masuk akal oleh masyarakat?
Nah, istilah akal. Kita kerapkali keliru dalam mempergunakan istilah tersebut. Akal itu bukanlah pikiran. Kalau pikiran itu al-fikr, tapi kalau akal itu al-aql. Pikiran itu hasil kinerja otak atau dimagh. Sedangkan akal itu merupakan kinerja dari hati. Di dalam al-Qur’an dengan jelas disebutkan lahum qulubun ya’qiluna biha (Surat al-Hajj: 46). Jadi, di hamparan hatilah akal bertempat dan bukan di tabung otak.

Berarti kecerdasan manusia itu tak hanya berproses di wilayah otak saja?
Betul! Kecerdasan otak hanya bagian kecil dari seluruh totalitas kecerdasan manusia. Dalam bahasa agama sendiri, kita mengenal istilah qalbun salim dan aqlun dzakiyyun… hati dan akal yang tercerahkan. Sebuah qalbun yang salim, di dalamnya tersimpan kumparan energi yang sangat luar biasa. Jika energi ini dapat kita kelola dengan baik dan benar serta berhasil mentransfernya ke ranah akal, maka akal akan berkembang menjadi aqlun dzakiyyun. Dan apabila kecemerlangan akal semodel ini yang men-support energi ke dalam rongga otak, tentu hasilnya adalah sebuah pencerahan pikiran yang sangat menakjubkan.

Jika di dalam al-Qur’an begitu banyak tawaran model kecerdasan, kenapa yang lebih dikenal umat Islam justru IQ, EQ dan SQ?
Karena selama ini umat Islam memang lebih gemar menjadi konsumen sains Barat ketimbang menjadi produsen pengetahuan yang digali sendiri dari kitab sucinya. Ketika orang-orang Barat menemukan SQ misalnya, kita dengan gegap gempita rebutan “membeli”nya dan langsung meramunya dengan dalil-dalil al-Qur’an untuk mendukungnya. Itulah yang membuat kita cuma sibuk mengelola pikiran, tanpa pernah menengok kecerdasan lain yang diinspirasikan oleh al-Qur’an. Padahal banyak sekali potensi kecerdasan selain pikiran, yang jika kita sanggup mengelolanya secara tepat akan terjadi lompatan percepatan proses kecerdasan yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Tapi… bukankah di dalam al-Qur’an banyak ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir?
Kalau yang dimaksudkan berpikir itu merujuk pada ayat afalaa tatafakkarun atau yang seirama dengan itu, maka pengertiannya bisa kita perluas. Tatafakkarun di situ lebih pas diterjemahkan dengan tafakkur atau merenung, dan bukan sekedar berpikir rasional. Sebab berpikir rasional hanya membutuhkan elemen otak kognitif saja. Tetapi merenungkan atau tafakkur, selain menggunakan elemen otak kognitif, otak emosional, otak spiritual, juga dengan melibatkan hati dengan segala perangkatnya. Jadi tafakkur itu merupakan pertemuan dari akal pikiran dan akal hati. Sehingga elemen kecerdasan yang dipergunakan untuk merenung, disamping menggunakan IQ, EQ dan SQ, juga menggunakan perangkat kecerdasan dzauq, aql, shadr, fu’âd, qalb, bashîrah dan lubb.

Kalau tak salah mengerti, istilah-istilah yang Anda maksudkan itu operasinya di wilayah hati?

Benar.

Lantas bagaimana dengan kecerdasan yang beroperasi di wilayah ruh?
Di ruang pusat gravitasi energi ruh tak hanya menyimpan energi kecerdasan semata, melainkan juga energi kekuatan, energi kecermatan, energi percepatan, energi kesabaran, energi keikhlasan, energi gerak yang tiada kenal putus asa, energi niat dan kesungguhan, energi inovasi, energi hening dan kebeningan, serta sederet energi-energi lain yang bisa kita perpanjang sendiri. Di wilayah pusat energi ruh inilah, segala bentuk energi itu telah manunggal menjadi satu-kesatuan yang tak terpilahkan. Dengan benih energi inilah, apa yang saya sebut dengan Laduni Quotient (LQ) tumbuh dan berkembang. Mula-mula benih itu tertanam di kedalaman lubb. Lalu dipancarkan oleh bashîrah ke dalam ruangan qalb. Dari sana kemudian mengalir menuju fu’âd dan shadr. Lantas disambungkan oleh akal ke tabung intuisi dan tabung pikiran. Dengan totalitas kecerdasan itulah, seseorang akan dapat menyongsong seruan-Nya: “Dan bertakwalah, niscaya Allah yang mengajarimu.” (QS. al-Baqarah: 282).

Lantas untuk mencapai hal tersebut…
Untuk bisa memperoleh kecerdasan laduni, seseorang harus sanggup masuk ke pusat gravitasi energi ruh tersebut. Sebab dari kecerdasan ruhaniah, dan bukan kecerdasan spiritual, LQ dapat diraih. Seseorang akan dapat memasuki wilayah tersebut jika mampu mengelola jiwa (nafs), membersihkan hati (qalb) – dari nafsu internal (hawa) dan nafsu eksternal (syahwat), mengelola kesadaran akal (aql), mengoptimalkan pikiran (fikr) dan hati rasional (fu’âd), memperindah intuisi (dzauq) dan kreativitas hatinya (shadr), mempertajam kecermatan mata hati (bashîrah), dan memperhalus inti terdalam nurani hati (lubb). Tanpa itu semua, menggapai kecerdasan laduni (LQ) hanya lebih bersifat khayalan daripada semangat penggalian yang sungguh-sungguh dan tak pernah merasa berputus-asa.

Nb. Anda tidak akan mempunyai kecerdasan Laduni, bila hanya sekedar membaca teorinya. Anda harus melatihnya dan tekun berlatih diri. Nah, bila anda siap untuk berlatih. Silahkan mendaftar sebagai siswa NAQS DNA. Salam..

Referensi : Ruang Bening