ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 03 Januari 2013

Titik Hening – Meditasi Tanpa Obyek

Meditasi Bersama
NGELMU TANPO GURU

Barusan ada yang nelfon menanyakan detail definisi Quantum, Black Hole dan lain lainnya... Dengan tujuan untuk mengurai perjalanan spiritualnya...

Kemudian saya tanya,"Anda dari tarekat mana..?'
Dia Jawab,"Wah... saya belajar dari mana-mana pak...."
Langsung saya jawab,""Anda tidak lulus....."
Kemudian telfon langsung saya tutup....

NGELMU

Sekedar share....

Untuk peningkatan Ngelmu spiritual yang lebih dalam, kita harus mempunyai pembimbing spiritual. Kehadiran seorang pembimbing ini hukumnya WAJIB....

Karena Dimensi Alam Cipta (alam imajinasi) & Dimensi Quantum Energi ini penuh dengan ilusi dan jebakan.... Apapun yang anda imajinasikan ataupun apapun ide yang ada di benak anda. Semuanya akan ada di Alam Cipta & di Dimensi Quantum.....

Pencarian spiritual oleh diri sendiri dengan menggali pengetahuan dari sumber manapun, itu memang juga wajib, manfaatnya untuk menjabarkan dan memahami perjalanan yang telah ditempuh....

banyak guru memang dibolehkan kok...
Namun, untuk dapat menghantarkan Ruhani kita ke haribaan Ilahi Robby, Fungsi seorang Guru Spiritual itu sangat penting...Sebagai perwujudan dari Ar Rasyid yg membimbing kita menujuNya... Sebagai pegangan utama, atau semacam BaseLine kita dalam menempuh perjalanan Ruhani.

Makanya dalam Islam ada syahadat Tauhid dan ada syahadat Rasul.
Untuk menggapai Syahadat tauhid, kita harus melewati tangga Syahadat Rasul...

Wallahu a'lam...

Pemahaman Tentang Jenis dan Peran Meditasi
by. J. Sudrijanta, S.J. (Link : http://www.kabarsehat.com/pemahaman-tentang-jenis-dan-peran-meditasi.html/)

Meditasi akan berperan jika dijalankan dan bukan sekedar dipahami saja. Bagi Anda yang ingin memasuki dan menjalankan meditasi maka pengetahuan, pengantar tentang apa itu meditasi dan jenis-jenisnya tentu dibutuhkan. Salah satu pengantar dan pemahaman tentang meditasi ditulis oleh Sudrijanta, SJ dalam pengantar ebook yang berjudul “Titik Hening – Meditasi Tanpa Obyek”.

Dari segi metodologi, secara garis besar meditasi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
  1. Meditasi dengan objek
  2. Meditasi tanpa objek.
Meditasi dengan objek selalu memiliki tujuan tertentu dan mempunyai teknik atau metode untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan meditasi objek bisa banyak ragamnya. Misalnya, meditasi untuk mencapai ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, keheningan, kekosongan. Ada meditasi untuk mendapatkan pengampunan, pembebasan, cinta, welas asih, kemurahan hati, atau keutamaan-keutamaan lain. Ada meditasi untuk penyembuhan diri atau untuk menyembuhkan orang lain.

Ada meditasi dengan objek untuk mengembangkan daya kontak batin (telepati) agar mampu membaca pikiran atau keadaan mental orang lain, untuk mengembangkan daya terawang jauh (clairvoyance) agar mampu mengetahui objek atau kejadian dari jarak jauh, untuk mengembangkan tenaga dalam (psikokinesis) agar bisa mempengaruhi pikiran, perasaan, atau kehendak pada benda atau orang lain tanpa medium atau sarana yang dikenal. Ada meditasi untuk mengetahui peristiwa yang akan terjadi (prekognisi) atau peristiwa yang telah terjadi (retrokognisi) tanpa proses yang dikenal akal maupun indra. Ada meditasi untuk melihat kehidupan diri pada masa lampau (regresi hypnosis) atau untuk melihat kehidupan diri di masa yang akan datang (progresi hypnosis). Ada meditasi untuk merasakan pengalaman di luar tubuh (ngraga sukma).

Ada meditasi dengan objek untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan alam roh atau makhluk halus. Meditasi untuk mencapai kesatuan dengan alam semesta atau bersatu dengan Tuhan termasuk dalam kelompok ini.

Karena tujuan meditasi objek beragam, maka teknik atau metode yang dikembangkan juga banyak macamnya. Ada meditasi yang berfokus pada nafas atau sensasi tubuh. Ada meditasi dengan menggunakan bantuan music atau lagu. Ada meditasi dengan mendaraskan atau mengulang-ulang mantra atau kata-kata suci. Ada meditasi yang menggunakan daya-daya jiwa seperti pikiran, ingatan, kehendak. Ada meditasi yang menggunakan daya penalaran. Ada meditasi yang menggunakan daya-daya imaginasi atau visualisasi.

Berbeda dari meditasi dengan objek, meditasi tanpa objek tidak memiliki tujuan apapun selain sadar dari saat ke saat dalam waktu yang lama. Karena tidak memiliki tujuan apapun selain berada dalam keadaan-sadar dalam waktu yang lama, maka tidak ada pula teknik atau metode untuk mencapai tujuan tersebut.

Kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek tidak bisa sengaja dilatihkan, tidak bisa dicapai dengan daya upaya atau dengan kekuatan kehendak, bukan hasil dari teknik atau metode tertentu. Kesadaran meditatif ini datang dengan sendirinya ketika orang sadar bahwa tidak sadar. Kesadaran meditatif ini muncul tanpa disengaja, tidak bisa diduga, tidak bisa diantisipasi, tidak bisa diharapkan, bukan hasil dari keinginan, kehendak atau daya upaya. Ia datang seperti pencuri di malam hari ketika seluruh gerak batin berhenti dan diam.

Kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek berbeda dari kesadaran meditatif dengan objek. Kesadaran meditatif dalam meditasi dengan objek masih bekerja dalam lingkup pikiran/ego/diri yang halus. Sebaliknya, kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek bekerja di luar pikiran/ego/diri.

Kesadaran meditatif dalam meditasi dengan objek masih dipengaruhi oleh doktrin, kepercayaan, atau konsep-konsep teologis, filosofis atau metafisik yang dibatinkan dalam diri si pemeditasi. Sementara kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek bebas dari doktrin, bebas dari kepercayaan, bebas dari konsep-konsep.

Kebenaran yang ditangkap oleh kesadaran meditasi dengan objek adalah kebenaran yang terbatasi atau terkondisi oleh kepercayaan atau pengetahuan. Oleh karena itu, ada banyak kebenaran menurut doktrin yang berbeda-beda dan ada banyak jalan untuk mencapainya. Dalam kesadaran meditasi tanpa objek, kebenaran doktrinal bukanlah kebenaran sejati. Untuk mencapati kebenaran sejati, tidak ada jalan. Kalaupun ada, jalan itu tidak lain adalah kesadaran meditatif yang melampaui kesadaran pikiran.

Kehadiran seorang guru dalam meditasi dengan objek dibutuhkan, karena tanpa kehadiran seorang guru pemeditasi bisa mengalami gangguan mental tertentu. Dalam meditasi tanpa objek, kehadiran seorang guru tidak dibutuhkan. Meditasi tanpa objek juga tidak membawa resiko atau bahaya apapun.

Ego/diri dalam kesadaran meditasi dengan objek dimengerti sebagai suatu entitas ontologis yang dipercaya bisa berevolusi dari ego/diri yang rendah menuju ego/diri yang tinggi, dari ego/diri yang palsu menuju ego/diri yang sejati. Dalam meditasi tanpa objek ego/diri merupakan entitas ilusif yang diciptakan pikiran. Ego/diri tidak bisa menjadi baik atau tidak bisa mencapai kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang sesungguhnya terlahir ketika ego/diri diruntuhkan seluruhnya.

Perubahan batin dalam meditasi dengan objek merupakan suatu hasil dari proses pengolahan diri atau pergulatan batin yang panjang dalam waktu. Perubahan batin dalam meditasi tanpa objek terjadi seketika, di luar waktu, tanpa pergulatan atau konflik.

Pengalaman dalam meditasi dengan objek menjadi sangat penting. Lewat pengalaman, orang belajar untuk meningkatkan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan. Semakin memiliki banyak pengalaman, orang tumbuh dalam kearifan. Dalam meditasi tanpa objek, kearifan terlahir bukan sebagai akumulasi pengalaman. Kearifan yang sesungguhnya terlahir ketika seluruh pengalaman runtuh atau keterkondisian batin oleh pengalaman berakhir secara total.

Dalam meditasi dengan objek, mengumpulkan dan memiliki pengalaman merupakan hal yang amat penting; sementara dalam meditasi tanpa objek, tidak ada yang lebih penting daripada kemampuan melihat dalam kejernihan batin. Untuk melihat dalam kejernihan, pengalaman, pengetahuan, kepercayaan yang seringkali menjadi latar penyaring dalam melihat justru menjadi perintang utama. Terang atau kejernihan dalam melihat segala sesuatu membuat batin terbebaskan dari apa saja yang dilihat. Batin yang bebas dari keterkondisian adalah batin yang hening, murni, suci, religius dan batin yang hening, mungkin mampu melihat Kebenaran Sejati.

Jakarta, 1 Januari 2012 J. Sudrijanta, S.J.