ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 21 Februari 2013

Unconditional Love Meditation

Rahasia Magnet Cinta : Unconditional Love, Cinta tanpa syarat.

Cinta tanpa syarat...
Seperti matahari yang senantiasa menyinari bumi
Seperti bulan dan bintang yang menerangi malam
Seperti pelangi dikala senja yang setia menemani sang hujan
Seperti udara yang kita hirup…
Seperti semilir angin yang menyejukkan…
Seperti danau yang menenangkan…
Seperti dan seperti…

Cinta tanpa syarat …
Adalah Kasih yang takkan pernah bertepi…
Mencerahkan jiwa, membekas dan membahagiakan…
Memberi energi yang takkan pernah habis bagi diri dan orang lain…
Membuat dan menggerakkan diri terus dan terus bergerak pada satu tujuan...

So lets free your mind free your soul…
Just do the best, give the best for your own life…

Karena Cinta tanpa syarat …
Akan membimbingmu menemukan makna yang hakiki…
Cinta dengan sebenar-cinta …
Kecintaan pada Dzat Yang Maha Pecinta …

“Barang siapa yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti dia akan mencintai-Nya!” (Ibnul Qayyim, Al-Jawabul Kafi)

Dalam Alquran, dikenal tidak kurang dari 14 terminologi cinta, antara lain, al-hubb, al-‘isyq, al-syaghaf, al-wudd, al-ta’al-luq, dan lain-lain.

Istilah-istilah itu menggambarkan berbagai bentuk dan kualitas cinta, mulai dari cinta monyet sampai cinta Ilahi (mahabbah). Semakin tinggi derajat cinta, semakin terbatas persyaratan cinta itu sehingga cinta itu tidak lagi mengenal dan bergantung pada kondisi tertentu. Mungkin karena itu cinta ini disebut dengan unconditional love.

Cinta Ilahi (unconditional love) ialah puncak kecintaan seseorang kepada Tuhan. Begitu kuat cinta itu, maka seolah yang mencinta dan yang dicintai menjadi satu. Yang mencinta dan yang dicintai terjadi persamaan secara kualitatif sehingga antara keduanya terjalin keakraban secara aktif.

Sebetulnya, semua orang berpotensi mencapai kualitas cinta ini karena memang semua berasal dari-Nya dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya (Inna lillahiwa inna ilaihi raji’un). Kedua entitas itu berbeda, namun sulit untuk dipisahkan, seperti laut dan gelombangnya, lampu dan cahayanya, api dan panasnya. Kita tidak bisa mengatakan laut sama dengan gelombang, lampu sama dengan cahaya, atau api sama dengan panas, demikian pula kita tidak bisa mengatakan antara yang mencinta dan yang dicintai betul-betul sama atau antara makhluk sama dengan Khaliq.

Lautan cinta pada diri seseorang akan mengimbas pada seluruh ruang. Jika cinta sudah terpatri dalam seluruh jaringan badan kita, vibrasinya akan menghapus semua kebencian. Sebagai manifestasinya dalam kehidupan, begitu bertemu dengan seseorang, ia tersenyum sebagai ungkapan dan tanda rasa cinta.

Nikmat sekali ‘bermesraan’dengan Allah SWT.  Kadang tidak terasa air mata meleleh. Air mata kerinduan dan air mata tobat inilah yang kelak akan memadamkan api neraka. Air mata cinta akan memutihkan noda-noda hitam dan menjadikannya suci. Cinta tidak bisa diungkapkan, hanya bisa dirasakan. Terkadang terasa tidak cukup kosa kata yang tersedia untuk menggambarkan bagaimana nikmatnya cinta. Kosa kata yang tersedia didominasi oleh kebutuhan fisik sehingga untuk mencari kata yang bisa memfasilitasi keinginan rohani tidak cukup. Terminologi dan kosakata yang tersedia lebih banyak berkonotasi cinta kepada fisik materi, tetapi terlalu sedikit kosa-kata cinta secara spiritual. Mungkin itulah sebabnya mengapa Allah SWT memilih bahasa Arab sebagai bahasa Alquran karena kosa kata spiritualnya lebih kaya.

Cinta Allah bersifat primer, sementara cinta hamba sekunder. Primer itu inti, substansi. Yang sekunder itu tidak substansial. Pemilik cinta sesungguhnya hanya Allah SWT. Hakikat cinta yang sesungguhnya adalah unconditional love (cinta tanpa syarat). Tanpa pamrih ini cinta primer. Ini berbeda dengan cinta kita yang memiliki kepentingan. Ketika sebelum kawin, masya Allah, kita sampai kehabisan kata-kata melukiskan kebaikan pujaan kita. Akan tetapi, sesudah kawin, kata-kata paling kasar pun tak jarang kita lontarkan.

Unconditional love pernah di tunjukkan Rasulullah SAW, ketika dilempari batu sampai tumitnya berdarah-darah oleh orang-orang Thaif. Rasul hanya tersenyum. ”Aduh umatku, seandainya engkau tahu visi misi yang kubawa, engkau pasti tidak akan melakukan ini,” demikian bisiknya.

Ketika datang malaikat penjaga gunung Thaif menawarkan bantuan untuk membalas perbuatan orang-orang Thaif, Nabi berucap, “Terima kasih. Allahlebih kuasa daripada makhluk. Jangan diapa-apakan. Mereka hanya tidak tahu. Kelak kalau mereka sadar, mereka akan mencintai saya."

Ada sebuah ungkapan dari ahlihakikat, ”Kalau cinta sudah meliputi, maka tak ada lagi ruang kebencian di dalam diri seseorang. Sejelek apa pun orang lain,ia tak akan membalas dengan kejelekan."

Banyak ulama besar kita telah mencapai tingkatan itu. Imam Syafi’i pernah dikerjain oleh seorang tukang jahit saat memesan pembuatan baju. Lengan kanan baju itu lebih besar atau longgar dibanding lengan kirinya yang kecil dan sempit. Imam Syafi’i bukannya komplain dan marah kepada tukang jahit itu, malah berterima kasih. Kata Imam Syafi’i, “Kebetulan, saya suka menulis dan lengan yang lebih longgar ini memudahkan saya untuk menulis sebab lebih leluasa bergerak."

Semakin meningkat kadar cinta maka semakin mesra pula “belaian” Allah SWT. Bagaimanakah nikmatnya belaian Allah SWT..? Bayangkanlah seorang bayi yang dibelai ibunya. Tersenyum dan sekelilingnya menggoda. Itu baru belaian makhluk. Apalagi, belaian Sang Pencipta.

Kita pun akan semakin akrab dengan Allah dan semakin tipis garis pembatas alam gaib di hadapan kita sehingga semua rahasia akan terkuak dan semakin banyak keajaiban yang kita lihat. Seperti sepasang kekasih yang saling mencintai, masih adakah rahasia antara keduanya?

Roh sifatnya tinggi dan cenderung dekat dengan Allah. Raga sifatnya rendah dan jauh dari Allah. Roh itu terang, sedangkan raga gelap. Para sufi mengungkapkan, “Wahai raga, sibukkan dirimu dengan shalat dan puasa. Wahai kalbu, sibukkan dirimu dengan bisikan munajat kepada Allah. Wahai raga, ungkapkan iyyâka na'budu. Wahai kalbu, ungkapkan iyyâka nasta'în.

Ta'abbud mendaki ke atas, sedangkan isti'ânah turun ke bawah. Yang melakukan ta'abbud adalah hamba, sedangkan isti'â-nah adalah Tuhan. Siapa yang naik akan memancing yang di atas untuk turun menyambut. Kalau tidak pernah naik, jangan harap akan ada yang turun. Indah perjumpaan itu.

Ada ketakutan dan ada harapan. Kadang kita takut kepada Allah, tetapi juga kita berharap. Ada al-khasya dan ada al-raja'. Di balik ketakutan sehabis berdosa, ada harapan kita akan diampuni, ada keinginan bersama Allah kembali. Di sinilah arti penting institusi tobat. Seperti pendaki gunung yang tak pernah bosan, naik ke atas, terperosok ke bawah, naik lagi, terperosok, dan naik lagi.

Ada ketakjuban dan ada keakraban. Ketakjuban itu ada jarak. Untuk mengagumi suatu objek, kita harus mengambil jarak dari objek itu. Indahnya sebuah lukisan hanya akan terasa jika kita agak jauh dari lukisan itu. Keakraban itu tidak ada jarak atau sangat dekat sekali. Inilah perumpamaan kita dengan Tuhan. Akrab, tetapi takjub.

Ada pemusatan dan ada penyebaran. Allah Maha Esa. Kita fokus ke situ. Akan tetapi, apa yang dilihat panca indera itu beragam dan beraneka. Namun, semuanya terhubungkan dengan Allah. Warna-warni yang kita lihat di alam semesta ini sumber-nya satu, Allah Yang Esa.

Ada kehadiran dan ada ketiadaan. Ini lebih menukik. Satu sisi kita merasakan Allah hadir dalam diri kita, di sisi lain hampa. Kadang kita kosong, kadang penuh. Kadang Dia muncul, kadang tiada. Dia adalah Maha Ada, meski tak terlihat. Dan yang terlihat ini sebetulnya adalah manifestasi dari Yang Ada. Ketiadaan di sini bukan berarti menafikan.

Ada kemabukan dan ada kewarasan. Yang bisa memabukkan bukan hanya alkohol dan narkoba. Ada mabuk positif dan ada mabuk negatif. Mabuk bagi seorang sufi adalah super sadar (diatas kesadaran). Kesadaran seperti ini susah dijelaskan. Ketika kita sedang bermesraan dengan Allah, menangis di atas sajadah, terisak-isak, orang lain mungkin melihat kita sedang tidak sadar. Akan tetapi, sebenarnya kita sangat sadar, bahkan kita sedang berada di puncak kesadaran bersama Allah.

Ketika mencintai seseorang saja kita bisa mabuk, begadang semalaman, membuat surat, dan lain-lain. Berkhayal, berimajinasi, membayangkan si dia hadir bersama kita. Bagaimana mabuknya kalau kita mencintai Allah?

Seorang sufi yang sedang mabuk kepada Allah suka mengungkapkan ucapan-ucapan yangterdengar aneh di mata orang lain (syuthuhat). Misalnya, “Tak ada di dalam jubahku ini selain Allah.” Berarti dalam jubah itu ada dua sosok yang bergumul menjadi satu, hamba dan Tuhan. Atau ungkapan subhânî subhânî (Mahasuci Aku). Aku adalah Allah, Allah adalah aku.

Aku ini siapa? Tak ada. Yang ada hanyalah Allah. Hanya Allah-lah yang wujud. Selain itu, hanya efek dari yang wujud. Ada penafian dan ada penetapan. Kadang kita ragu, benarkah yang datang di dalam kalbu iniAllah? Jangan-jangan bukan, melainkan hanya imajinasi saja. Di sini terjadi pertentangan antara rasio dan rasa. Maka, untuk meyakinkannya, kecilkan rasio dan besarkan rasa. Yakinilah bahwa ketika kita telah mendaki dan kita sudah sampai puncak. Maka, yang kita jumpai pastilah Allah. Maka akan ada penampakan. Dan segala rahasia gaib pun tersibak.

“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.29:5)

Sesungguhnya kedudukan mencintai ALLAH adalah kedudukan yang paling tinggi dan mulia guna menuju keridhaan ALLAH, karena hanya ALLAH yang Maha Besar, Maha Penguasa, Maha Suci, Maha Pencipta dan Maha Pemberi, ALLAH lah yang melimpahkan berbagai nikmat kepada manusia. Sesungguhnya kecintaan ALLAH adalah yang benar-benar menyembuhkan penyakit hati manusia.

Sebagaimana sabda Nabi MUHAMMAD Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam “Barangsiapa yang luput dari kecintaan ALLAH maka ia akan dihinggapi penyakit-penyakit hati”.

Hendaknya kecintaan kepada ALLAH ini dijadikan motivasi guna mencapai kedudukan yang mulia dan tinggi, karena sungguh alangkah nikmatnya orang-orang yang memiliki kecintaan kepada ALLAH, barangsiapa yang mencintai ALLAH maka ALLAH pun juga mencintainya, baginya taufiq, dikabulkan doa-doa nya dan dilindungi dari hal-hal yang buruk. Sebagaimana sabda Nabi MUHAMMAD Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam “Sesungguhnya ALLAH jika mencintai seorang hamba, ALLAH beritahukan kepada malaikat JIBRIL dan malaikat JIBRIL pun mencintaimya kemudian diberitahukan kepada seluruh penduduk langit untuk mencintai hamba itu.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Cinta kepada Allah SWT merupakan cinta yang paling luhur dan mampu mendatangkan puncak kebahagiaan dan kedamaian spiritual (hati). cinta kepada Allah SWT semestinya menjadi pijakan semua tindakan seorang mukmin. ia merupakan kekuatan yang bisa mengarahkan perilaku manusia ke arah kebaikan. ketika cinta kepada Allah SWT melekat dalam jiwa manusia, maka semua perbuatannyaakan tunduk dalam rangka taat kepada Allah SWT. ia akan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridhai-Nya, menjauhi perbuatan maksiat dan setiap perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT.

Manusia biasanya cinta kepada orang yang berbuat baik kepadanya. karena itu cinta seorang anak kepada orang tuanya disebabkan karena pemeliharaan, pembelaan, kasih sayang, dan pendidikan yang telah diberikan orang tua kepadanya. jika kita merenungkan nikmat-nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita, kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah SWT telah menciptakan kita dalam bentuk yang paling baik, lebih memuliakan kita daripada makhluk-makhluk-Nya, menundukkan alam bagi kita, menjadikan kita sebagai khalifah dimuka bumi, mengutus para Nabi dan Rasul sepanjang masa untuk menyelamatkan kita dari kesesatan, menunjuki kita ke jalan yang benar, dan memberikan kita pedoman hidup yang lurus agar kita hidup bahagia dunia dan akhirat kelak.

Oleh karena itu, sudah selayaknya manusia menjadikan cinta cinta kepada Allah SWT lebih besar daripada cintanya kepada yang lain. Allah SWT berfirman: "Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak mendatangkan petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS 9:24)

Rasulullah SAW pun menganjurkan manusia untuk mencintai Allah SWT atas nikmat-nikmat-Nya yang berlimpah. beliau bersabda: "Cintailah Allah karena DIA telah memberimu makanan dari nikmat-nikmat-Nya." walaupun Rasulullah SAW adalah orang yang paling mencintai Allah SWT dan paling dekat dengan-Nya, tetapi beliau selalu memohon kepada Allah SWT untuk diberu anugerah berupa cinta kepada-Nya, karena dalam cinta ini beliau mendapatkan kepuasan ruhani paling tinggi yang tidak ada bandingannya.

Rasulullah SAW pernah berucap dalam doanya: "Ya Allah, berilah aku rezeki berupa cinta-Mu kepadaku dan cintanya orang-orang yang Engkau cintai."

Allah SWT juga menyuruh Rasulullah SAW berdoa dengan doa ini: "Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu."

Unconditional Love
Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.”(Muttafaq ‘alaih; dalam Shahih Bukhari no. 6104 dan Shahih Muslim no. 2725; lafal hadits ini dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. Al-A’raf: 56)

Unconditional Love Meditation adalah meditasi ke tiga dalam rangkaian 21 hari Internalisasi Quantum Love - Magnet Cinta. Meditasi ini dilakukan selama 7 hari.

Tata caranya :
  1. Duduk, diam, mata terpejam. Kedua telapak tangan diletakkan di atas paha, kedua telapak tangan menghadap ke atas.
  2. Tekuk lidah anda ke atas (langit-langit mulut), bibir terkatup rapat.
  3. Rileksasikan seluruh tubuh & fikiran.
  4. Baca doa 1 :  "Ya Allah, berilah aku rezeki berupa cinta-Mu kepadaku dan cintanya orang-orang yang Engkau cintai."
  5. Baca doa 2 :  "Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu."
  6. Baca doa 3 (Khusus Muslim) : "Ilaahi Anta Maqsudi Wa Ridlooka Mathlubi A'tinii Mahabbataka wa Ma'rifataka Bi Rohmatika Ya Arhamarroohimiin." ( Yaa Allah engkaulah yang aku maksud, ridhoilah aku, karuniakan cinta hanya kepada-Mu dan sebenar-benar mengenal-Mu. )
  7. Tarik napas panjang pelahan-lahan melalui hidung. Tahan sebentar. Kemudian hembuskan habiskan napas anda dengan segera. Ini akan membuat otot-otot anda mengalami rileksasi. Ulangi sebanyak tiga kali.
  8. Kemudian bernafaslah dengan rileks, tarik napas pelahan dan hembuskan sebelum nafas menjadi penuh. Tarik nafas kembali sebelum nafas habis. Lakukan berulang-ulang sesuka hati anda. Nikmati relaksasi yang dihasilkan.
  9. Biarkan pikiran anda menunjukan kejernihannya kepada anda. Tenang.....santai.....damai.....
  10. Bila anda telah memutuskan untuk mengakhirinya. Gerakkan jari-jari anda, dan buka mata anda pelan-pelan.
Langkah selanjutnya adalah Stay Connected atau God Centered Activity sbb:
  • Sadari bahwa apapun aktifitas anda adalah sebagai persembahan untuk ALLAH.
  • Ucapkan dalam hati “ALLAH” dalam setiap degupan jantung anda, dimanapun dan kapanpun saja.
Hanya hati yang suci yang dapat terhubung dengan Kekuatan Langit

Allahu A’lam

Info Terbaru Jadwal Training QUANTUM MIND TECHNOLOGY NAQS DNA di Jakarta :
✔ JAKARTA, 2 & 3 Maret 2013

ALAMAT PELATIHAN :
✔ Jakarta : Atlantic Hotel, Jl. Salemba Raya 26, Kramat, JAKARTA PUSAT

Tujuan workshop
Training berbasis Terapi & Pemberdayaan Potensi diri ini secara khusus di Desain dengan tujuan untuk membantu peserta pelatihan mengalami Transformasi Kehidupan secara Holistik dan Transendental. Info lengkap, Klik http://www.naqsdna.com/2013/01/info-training-naqs-dna-di-jakarta.html