ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 21 April 2013

Syukur Yang Salah Kaprah

Apabila direnungkan secara mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah yang telah kita terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Allah berfirman, ''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS 16: 18).

Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat. Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7).

Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah. Ini bisa dipahami dari perintah Alah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia. Firman Allah SWT, ''Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.'' (QS 31: 14).

Perintah bersyukur kepada orang tua sebagai isyarat bersyukur kepada mereka yang berjasa dan menjadi perantara nikmat Alloh. Orang yang tidak mampu bersyukur kepada sesama sebagai tanda ia tidak mampu pula bersyukur kepada Alloh swt . Nabi bersabda, ''Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka ia tidak mensyukuri Alloh.'' (HR Tirmidzi).

Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Allah berfirman, ''Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.'' (QS 27: 40).

SYUKUR SALAH KAPRAH

Apa pendapat anda mengenai nasehat orang tua ini :

Nak, kita ini orang kecil. Kita harus menerima saja apa yang sudah kita miliki. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita punya. Jadi, tidak usah macam-macamlah. Hidup kita sekarang ini saja sudah bagus…

atau yang ini :

Perubahan itu tidak penting pak, yg penting bisa bahagia, bukankah syukur aja dah bisa buat kita bahagia. pd intinya perubahan, kan untuk mendapatkan kesempurnaan, hingga membuat ht bahagia, bukan…? trus sampai kpn…. apa tdk lelah… kpn kita menjadi diri sendiri bila slalu berubah…

Sahabat…
Tangkap energi yang keluar dati kalimat di atas…
Apakah mempunyai ENERGI SYUKUR, ataukah ENERGI PUTUS ASA….??

Apakah pesan di atas didasarkan pada suatu kesadaran akan makna syukur yang sebenarnya..? ataukah sekedar suatu bentuk kamuflase dari ketakutan dan keputus asaan dalam menjalani kenyataan hidup..?

Sahabat…
Syukur bukanlah hanya sekedar ucapan yang keluar dari lisan kita, bukan hanya sekedar pikiran yang keluar dari pikiran sadar kita belaka. Syukur itu harus tulus keluar dari dalam hati, keluar dari alam bawah sadar kita. Dan terasa betul di dalam hati dan perasaan kita.

Kita harus jujur pada diri sendiri dalam menyelami pikiran dan perasaan kita.

SYUKUR YANG BENAR

SYUKUR YANG BENAR DAN TULUS PASTI MEMBAWA PERUBAHAN DIRI MENUJU KEMAJUAN DIRI KE ARAH YANG LEBIH BAIK…

Syukur selama ini oleh sebagian besar orang hanya difahami sebagai sebuah kondisi hati dan juga fikiran yang pasif saja… Sebagai suatu ungkapan terima kasih terhadap apa yang sudah di anugrahkan Tuhan pada kita. titik… dan hanya sampai di situ saja…. titik….

Apakah itu salah..?
Oo… tentu tidak, itu syukur dalam tahap ikhlas dan pasrah. dan itu sudah benar. hanya saja level energinya belum masuk pada level energi Syukur yang sebenarnya.

Energy Syukur yang benar, selain menumbuhkan sikap untuk ikhlas dan pasrah menerima apapun Nikmat Allah yang telah diperoleh. Juga mampu menumbuhkan semangat untuk mengembangkan Nikmat tersebut sehingga nilai manfaatnya dapat berlipat ganda…. Ini artinya kita melakukan suatu perubahan dan juga peningkatan terhadap sumber daya yang ada…

Inilah Syukur yang sebenarnya… Syukur yang tulus keluar dari dalam hati, keluar dari alam bawah sadar kita. Dan terasa betul di dalam hati dan perasaan kita. Sehingga terpancar juga dalam mewarnai tindakan dan perilaku kita. Dan Rasa Syukur seperti inilah yang akan dilipatgandakan nikmatnya oleh Allah swt sesuai dengan firmanNya di dalam Al-Quran :

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…...” (QS. Ibrohim : 7).

Jadi jelas bukan, Tolok ukur dari syukur yang benar adalah BERTAMBAHNYA NIKMAT ALLAH PADA KITA…
Dan yang namanya bertambah itu artinya ada perubahan dari kondisi awalnya bukan………..????

Syukur Menurut Ulama
Dalam mukaddimah kitab Al Waabilush Shayyib, Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa Syukur memiliki tiga rukun, yang bila ketiganya diamalkan, berarti seorang hamba dianggap telah mewujudkan hakikat syukur tersebut, meski kuantitasnya masih jauh dari ‘cukup’.

Ketiga rukun tersebut adalah:
  1. Bersyukur dengan Hati, Mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah.
  2. Bersyukur dengan Lisan. Mengucapkannya dengan lisan.
  3. Bersyukur dengan Perbuatan, Menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha Allah, karena Dia-lah yang memberikannya.
Inilah rukun-rukun syukur yang mesti dipenuhi..

SALAM KESADARAN..

* Edi Sugianto (Founder NAQS DNA) *