ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 04 Oktober 2013

Success Learning dengan Meta DTI

Tahukah anda, siapakah pembelajar sejati yang paling sukses dan berhasil di dunia ini...??? Itulah anda sendiri... Ketika anda masih anak-anak, ketika anda masih balita... Bukankah anda semua terlahir dengan NOL pengetahuan..?

Ada sebuah dialog yang lucu antara si kampret dan si sodron, dengarkan dialog mereka ya :
Kampret : "Dron, anak amerika itu cerdas-cerdas lho.."
Sodron : "ah... siapa bilang..? apa buktinya hayo..."
Kampret : "Buktinya, mereka masih kecil aja sudah pinter bahasa inggris. Padahal kita belajar bahasa inggris dari dulu masih belum bisa. Nah, mereka cerdas khan....?"
Sodron "Ya, lebih pinter anak madura. Mereka dari kecil sudah bisa bahasa madura. Padahal saya tiap hari ngobrol sama Tukang Sate ayam madura. tetep ndak ngerti apa yang mereka omongkan.."
Nah, dialog yang luar biasa khan....? hehehehehe....

Lalu apa yang membuat kita semua saat masih kecil dulu begitu luar biasa..?

Ada dua hal yang membuat anak-anak luar biasa dalam belajar :
1. Spirit anti kegagalan.
2. Aktifnya Neuron Mirror secara maksimal.

SPIRIT ANTI GAGAL
Anak kecil tidak mengenal kata gagal dalam belajar, ketika mereka terjatuh saat baru belajar berjalan. Mereka tidak timbul rasa malu, rendah diri, minder, grogi, hilang kepercayaan diri, dll. Ketika mereka terjatuh, mereka segera bangkit dan belajar berjalan lagi. TITIK. Begitu juga saat mereka mulai belajar bicara, walau lafadz yang mereka ucapkan masih cedal dan sering keliru. Mereka tetap saja maju terus pantang mundur.

Mengapa anak-anak bisa sukses dalam belajar dan tanpa ada sedikitpun merasa gagal ketika gagal dalam belajar...??? Ya, itu karena program pikiran mengenai kegagalan belum ada di dalam pikiran mereka. Demikian juga program pikiran mengenai Rasa Malu, Minder, Grogi, Percaya Diri, dll. Itu semua belum ada di dalam pikirannya. Pikiran mereka masih polos. Oleh karena itulah mereka adalah pembelajar sejati yang sangat sukses dalam mempelajari apapun.

Lalu darimana segala hambatan diri yang menghambat kita dalam belajar saat ini...??
Semua hambatan diri itu tidak datang secara kebetulan atau tiba-tiba, semua mental block itu pernah kita instal ke dalam fikiran kita. Baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Dan karena anda tidak memahami mekanisme kerja dari pikiran, maka anda tidak dapat secara sadar meng-Instal Program Positif dan meng-Un-Instal Program pikiran yang negatif. Anda mengira itu semua adalah bagian dari watak anda, yang inheren dengan diri anda. Dan selamanya tidak dapat di ubah.

Padahal sesungguhnya yang disebut dengan watak, itu adalah serangkaian program pikiran juga. Semua berawal dari pikiran, kemudian memunculkan kebiasaan, dan akhirnya menjadi watak (Habit).

Watak anda bisa di ubah dan di upgrade, bila anda mau meng-Upgrade-nya. Caranya...? Pelajarilah ilmunya. Klik di sini misalnya...

Neuron Mirror (Monkey see Monkey Do)
Di pertengahan era 1990-an, ada sebuah eksperimen menarik yang dilakukan oleh kwartet neuroscientist dari Universitas Parma Italia: Giacomo Rizzolatti, Vittorio Gallese, Luciano Fadiga, dan Leonardo Fogassi.

Para scientist asal Italia ini menemukan bahwa di dalam otak manusia terdapat sebuah area unik yang mereka namakan Mirror Neuron. Dinamakan seperti itu karena bagian ini memungkinkan kita untuk mereplikasi perilaku orang lain yang kita lihat, seolah-olah kita sendiri yang melakukannya.

Ditemukannya mirror neuron system atau sistem saraf cermin pada monyet jenis macaque yang dipublikasikan pada tahun 1996 oleh Giacomo Rizzolati dari Universitas Parma Italy memberikan bukti neurologis bahwa modelling itu penting. Sistem saraf cermin adalah saraf binatang dan manusia yang menyala saat melakukan suatu aksi maupun menyaksikan aksi yang sama dilakukan oleh binatang atau manusia lain.

Sistem saraf cermin (SSC) terletak pada bagian precortex otak. SSC ini membantu untuk memahami tindakan yang dilakukan oleh orang lain, sehingga memungkinkan untuk diimitasi/dimodel.

Imitasi atau meniru atau Modelling adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan melibatkan indera sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk mengolah informasi dari rangsang dengan kemampuan aksi untuk melakukan gerakan motorik. Proses ini melibatkan kemampuan kognisi tahap tinggi karena tidak hanya melibatkan bahasa namun juga pemahaman terhadap pemikiran orang lain

Imitasi saat ini dipelajari dari berbagai sudut pandang ilmu seperti psikologi, neurologi, kognitif, kecerdasan buatan, studi hewan (animal study), antropologi, ekonomi, sosiologi dan filsafat. Hal ini berkaitan dengan fungsi imitasi pada pembelajaran terutama pada anak, maupun kemampuan manusia untuk berinteraksi secara sosial sampai dengan penurunan budaya pada generasi selanjutnya.

Imitasi harus dibedakan dengan peniruan gerakan yang sama saja (mimikri) maupun peniruan tujuan (emulasi), namun pada proses imitasi manusia melakukan prinsip peniruan suatu aksi dengan memahami tujuan aksi dan diarahkan oleh pencapaian target tujuan (goal). Imitasi sering dikaitkan pula dengan teori belajar sosial dari Albert Bandura.

Selain itu dengan imitasi, dikatakan bahwa anak membentuk teory pemikirannya (Theory of Mind) melalui imitasi terhadap aksi orang lain maupun persepsi terhadap rangsang yang diterima dari lingkungannya.

Mirror neuron ini benar-benar berfungsi seperti cermin. Dia memantulkan/memaknai hasil pengamatan yang dilakukan seseorang. Mirror neuron ini memungkinkan manusia untuk ber-empati, ber-simpati, merasakan perasaan orang lain, memaknai ekspresi wajah, dan belajar dengan cara meniru.

Monkey see, monkey do. Monyet melihat monyet melakukan. Phrasa kalimat itu sebenarnya sedang menjelaskan mengenai cara kerja dari Neuron Mirror dalam kehidupan kita. Bagaikan berdiri di depan cermin, apapun tindakan yang kita lakukan didepan cermin selalu memantul kembali ke diri kita, begitu pula dengan manusia. Selain mendapat balasan senyuman dari orang yang tersenyum untuk kita, juga apabila kita memarahi seseorang, reaksi yang dapat ditebak adalah orang tersebut juga terbawa emosi. Keuntungannya adalah, kita bisa mengendalikan perasaan kita untuk mengendalikan perasaan orang lain.

Contoh lain adalah, ketika ada seseorang disamping kita yang sedang menguap. Entah kenapa tidak lama kemudian kita juga ikut-ikutan menguap. Demikian juga saat kita sedang mengendarai kendaraan kita di jalan raya, bila saat itu rata-rata kendaraan melaju dengan kecepatan 70 km/jam. Biasanya kita juga ikut-ikutan mempertahankan laju kendaraan dalam kecepatan 70 km/jam untuk mengimbangi ritme arus kecepatan kendaraan yang ada. Namun ketika ada sebuah kendaraan yang menyalip kita dengan kecepatan tinggi, entah kenapa tanpa alasan yang jelas. Kitapun muncul rasa dan keinginan untuk meningkatkan laju kecepatan kendaraan kita. Dan semua perilaku kita tersebut sebenarnya sedang dikendalikan oleh bagian Neuron Mirror yang sedang aktif.

Kemampuan tersebut menjadikan mirror neuron memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Misalnya saja saat kita menyaksikan seseorang berlatih menggiring bola di tanah lapang, saat itu pula sebenarnya mirror neuron sedang membantu kita untuk belajar menggiring bola sendiri. Di level bawah sadar, mirror neuron memungkinkan kita untuk belajar hanya dengan melihat (Learning just by watching).

Namun mirror neuron masih menyimpan satu rahasia lagi yang tidak kalah dahsyat: kemampuan untuk mengelitacit informasi tentang orang lain. Neuron ini tidak hanya membantu proses belajar kita, namun juga membantu kita menyelami kehidupan orang lain. Membaca pikiran dan juga perasaan orang lain. Kita pun menjadi lebih mudah memahami apa yang dirasakan orang lain : kebahagiaan saat mereka bahagia dan kesedihan saat mereka berduka, termasuk memahami kegelisahan dan keinginan mereka yang paling dalam (anxiety and desire). Fenomena inilah yang saya ajarkan dalam materi META DTI di kelas saya. Dengan kemampuan ini, anda akan dengan mudah membangun keakraban (Building Rapport) dengan orang lain. Dan dalam aspek yang lebih jauh, kita akan dengan mudah dapat mempengaruhi orang lain. Karena kita tahu hasrat yang terpendam di dalam hatinya.


Dalam dunia HypnoTeaching yang berkembang di Indonesia, Neuron Mirror ini juga sudah di singgung. Namun dalam aplikasi yang terbatas. Sekedar digunakan untuk melakukan Pacing Leading terhadap siswa. Dengan cara kita memunculkan suatu State tertentu, misalnya ceria, semangat, ramah, tersenyum, dll. Dan kemudian state itu kita induksikan kepada siswa. Dengan demikian suasana kelas akan mengikuti state yang di induksikan tersebut.

Dan hanya itulah aplikasi Neuron Mirror dalam HipnoTeaching. Padahal sesungguhnya Sistem Saraf Cermin ini dapat lebih di optimalkan lagi penggunaannya. yaitu kita gunakan untuk memodel keunggulan orang lain dengan tekhnik Ngemat atau Meta DTI. Dengan Ngemat, siswa dapat memodel keunggulan seorang juara olimpiade matematika umpamanya. Atau memodel prestasi-prestasi di dalam bidang pelajaran lain.

Ngemat itu sama dengan Modelling dalam ilmu NLP, yaitu sebuah tekhnik untuk memodel keunggulan orang lain. dan dalam pelajaran energi disebut sebagai langkah attunement/vibration alignment ataupun channeling, yaitu proses penyelarasan vibrasi dan frekwensi...

Ngemat dalam bahasa agama disebut menteladani ...
Allah swt berfirman :
Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri te ladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Kalimat "Diri Rasulullah" dalam ayat di atas itu lebih ke arah aspek Ruhaniahnya atau akhlaknya dan bukan pada aspek zahiriahnya, jadi yang dimodel adalah keunggulannya bukan keseluruhan pribadinya...

Dalam pembelajaran ada 4 tahap dalam kita belajar sesuatu, yaitu :
  1. Unconscious Incompetence
  2. Conscious Incompetence
  3. Conscious Competence
  4. Unconscious Competence
Nah, Ngemat (Meta DTI) itu adalah sebuah langkah revolusioner dalam pembelajaran, karena dengan ngemat. Kita tidak harus melalui dari tahap 1. Tetapi langsung melompat ke tahap 4. Namun agar Keunggulan yang dimodel menjadi sempurna. Ngemat juga harus dipadukan dengan langkah-langkah pembelajaran seperti di atas. Atau bila ditinjau dari Neurological Level (NLL), kita belajar dimulai dari tangga teratas sekaligus juga mulai dari tangga terbawah. Syariat & hakikat disinergikan, sehingga tercipta proses pembelajaran yang cepat, selamat, dan akurat.....

Dengan Meta DTI, anda tidak hanya punya kemampuan Learning just by Watching, tetapi bahkan anda dapat melakukan Learning just by Thinking. Kemampuan ini akan dapat melejitkan prestasi anda dalam bidang apapun yang anda ingin tingkatkan.

Meta DTI tidak hanya untuk memodel keunggulan serta prestasi orang lain saja lho.. Dengan Meta DTI kita dapat juga mengulang kembali prestasi kita sendiri. Mengakses kembali State of Mind di saat kita pernah Jaya, unggul, sukses, dan berprestasi. Untuk kita rasakan dan hadirkan kembali di saat ini. Sehingga dapat menjadi Power yang dapat kita gunakan untuk meraih sukses yang kita inginkan sekarang.

Modelling berbeda dengan imitating mimikri..
  • Imitating mimikri itu berarti kita meniru dan menjiplak 100%. Dan kita menjadi orang lain serta kehilangan jati diri.
  • Sedangkan Modelling, kita hanya menyerap keunggulan tertentu untuk kemudian diselaraskan dengan kepribadian, karakter, dan pembawaan kita sendiri. Jati Diri kita tetaplah utuh sebagai diri kita sendiri.
Mau tahu lebih jauh mengenai Meta DTI dan aplikasinya dalam mensukseskan pembelajaran kita, ikuti Trainingnya ya..

Jadwal terdekat :
Surabaya, 5 & 6 Oktober 2013 Info lengkap, klik di sini..
Jakarta, 19 & 20 Oktober 2013 Info lengkap, klik di sini..
Smart Teaching Awareness (STA) Workshop awal November. Info lengkap, klik di sini..