ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 01 November 2013

Authority Programming, Membuka Gerbang Pikiran Bawah Sadar

Authority Programming adalah Salah satu metode alamiah untuk menginstal sebuah saran, nasehat, ide, atau sugesti agar menjadi suatu nilai baru (Program Pikiran) di dalam pikiran bawah sadar seseorang melalui sosok Figur Otoritas .

Masuknya sebuah Program pikiran di alam bawah sadar, pasti melalui salah satu, dua, tiga, atau semua cara dari kelima cara di bawah ini :
  1. Repetisi
  2. Identifikasi Kelompok, Komunitas, atau Keluarga.
  3. Ide yang disampaikan oleh Figur yang dipandang memiliki otoritas.
  4. Emosi yang intens.
  5. Hipnosis
Setiap upaya masuk ke kondisi hipnosis, baik itu waking hypnosis, self hypnosis, atau hetero-hypnosis, pasti mempunyai tiga komponen.

Pertama, orang yang melakukan hipnosis harus mempunyai otoritas, atau paling tidak dipandang sebagai figur otoritas di bidangnya. Ini adalah langkah awal untuk menembus atau membuka celah di critical factor pikiran sadar.

Setelah berhasil, dibutuhkan komponen kedua untuk membuat critical factor bersedia menerima informasi yang akan disampaikan. Critical factor akan bertanya, “Mengapa ini bisa bekerja?” Untuk bisa membuat critical factor “puas” maka digunakan salah satu dari tiga otoritas informasi berikut, yaitu doktrin, paradigma (teori atau model) dan trance-logic.

Setelah itu baru komponen ketiga digunakan yaitu message unit overload atau membanjiri pikiran dengan sangat banyak unit informasi sehingga pikiran menjadi overload.Setiap upaya masuk ke kondisi hipnosis, baik itu waking hypnosis, self hypnosis, atau hetero-hypnosis, pasti mempunyai tiga komponen. Pertama, orang yang melakukan hipnosis harus mempunyai otoritas, atau paling tidak dipandang sebagai figur otoritas di bidangnya. Ini adalah langkah awal untuk menembus atau membuka celah di critical factor pikiran sadar.

Saat terjadi overload maka secara alamiah kita masuk dalam mode fight (lawan) atau flight (lari). Jika subjek melakukan fight (melawan) maka ia tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Saat subjek memutuskan untuk flight (lari) maka saat itu ia akan “masuk” ke dalam pikirannya, melarikan diri dari serbuan unit informasi yang begitu banyak, dan ia masuk ke kondisi hipnosis.

Mode Flight adalah tombol Penurut, sedangkan Mode Fight adalah Tombol pemberontak. Saat kita merasa tidak nyaman dengan nasehat orang lain, kita akan cenderung melawan atau resisten dan memberontak .

Nah, bila anda adalah tokoh masyarakat, public Figur, dan lain-lain. Itu artinya anda mempunyai otoritas untuk mempengaruhi orang lain. Namun peluang ini akan menjadi hilang tatkala anda secara tidak sadar atau secara tidak sengaja memicu tombol pemberontak yang ada di dalam diri seseorang. Sehingga yang muncul bukan lagi saran anda dipatuhi, tetapi akan timbul gelombang antipati terhadap anda...

Inilah sebenarnya yang yang terjadi pada kasus dunia perdukunan di Indonesia. Dimana para dukun kebanyakan terlalu mengandalkan Tekhnik Figur Otoritas atau Authority Programming ini untuk melakukan Transformasi diri pada kliennya. dan ketika tekhniknya tidak berhasil... Maka tuduhan penipuan, hingga diseret ke meja hijau adalah resikonya... Padahal belum tentu ada unsur penipuan ataupun tindakan kriminal di dalamnya. Korban melaporkan sang dukun, hanya karena merasa dirugikan secara finansial akibat tekhnik sang dukun tidak berhasil pada dirinya.

Padahal, di dunia profesional yang lain. Di bidang kedokteran misalnya. Tidak pernah ada tuntutan gara-gara sakitnya tidak sembuh setelah di obati oleh dokter tersebut misalnya.

Kembali pada pembahasan efek Figur Otoritas terhadap pembentukan program pikiran di dalam pikiran bawah sadar. Mungkin Anda mengingat beberapa pesan yang disampaikan oleh orangtua Anda atau mungkin guru Anda di sekolah. Kekuatan otoritas yang sempat mereka pegang atas diri kita mungkin masih bisa memberikan efek yang sangat besar dalam situasi tertentu. Inilah Authority Programming yang terjadi secara alamiah.

Misalnya, orang yang mengalami masalah kelebihan berat badan akan benar-benar mengosongkan piringnya karena program dari figur otoritas pada masa kecilnya. Bahkan sampai dewasa ini, banyak orangtua mengajarkan anaknya untuk makan segalanya, apakah mereka lapar atau tidak, sampai piringnya kosong. Program seperti inilah yang menghantui orang yang ingin menurunkan berat badannya, dan mempersulit proses penurunan berat badannya. Atau bahkan menghalanginya.

Authority Programming dari Figur otoritas umum atau idola juga bisa secara langsung mempengaruhi pikiran bawah sadar kita, yang kemudian menciptakan sebuah respon yang cepat untuk mematuhi atau memberontak.

Contohnya, Sosok idola dari kalangan artis, selebritis, dan tokoh idola yang lain. Apapun yang mereka katakan dan juga lakukan akan mewarnai pola fikir para penggemarnya. Mulai Cara berpakaian, Gaya bicara mereka, hobi, dll. akan memicu tombol penurut di dalam pikiran bawah sadar penggemarnya untuk mengikuti apapun yang mereka katakan dan juga lakukan.

Contoh otoritas umum lainnya misalnya tokoh agama, atau personal (misalnya; atasan Anda, pemimpin negara, atau otoritas profesional atau dokter salah satunya), organisasi (pemerintah), yang bukan perseorangan (hukum kesehatan).

Anda mungkin mengenal seorang yang dulunya perokok yang tiba-tiba saja berhenti total dari kebiasaannya karena ketakutan atas ancaman kesehatan akan dirinya. Ketika Dokter pribadinya (Yang merupakan Figur Otoritas di bidang kesehatan) membabarkan efek negatif dari rokok.

Banyak remaja yang menjadi perokok karena justru ingin menentang beberapa otoritas dalam kehidupan mereka; dan banyak perokok yang merasa kesulitan untuk berhenti karena mereka justru jengkel karena diminta berhenti merokok oleh figur otoritas dalam hidup mereka sekarang, misalnya atasan mereka. Ini adalah sebuah contoh kalau “tombol” memberontak yang ditekan. Ada beberapa klien yang bertemu saya untuk berhenti merokok mengatakan bahwa justru keinginan merokok mereka meningkat setelah dokter mereka menyarankan mereka untuk berhenti merokok. Ironis sekali bukan?

Nah, kembali ke diskusi kita mengenai Authority Programming, Membuka Gerbang Pikiran Bawah Sadar.

Mari kita lihat praktik atau ritual agama. Kita mulai dengan bentuk bangunan ibadah. Bagaimana bentuknya? Pasti berdiri tegak, besar, dan megah. Lalu, saat kita berada di dalam bangunan ini, bagaimana bentuk dan ketinggian plafon? Apakah rendah ataukah (sangat) tinggi dan megah? Sudah tentu plafonnya tinggi dan megah.

Apa tujuan atau efeknya terhadap diri kita?

Kita, secara sadar atau tidak, akan merasa kecil. Merasa tidak ada apa-apanya. Otoritas gedung ini, ditambah lagi kita tahu bahwa ini adalah tempat ibadah, membuat kita “takluk” dan “pasrah”. Lalu bagaimana dengan pemuka agama yang menyampaikan “pesan”? Dari mana mereka menyampaikan “pesan” mereka? Apakah mereka berdiri sejajar dengan umat ataukah lebih tinggi?

Sudah tentu lebih tinggi. Biasanya di atas mimbar khusus yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang khusus. Ini juga salah satu bentuk otoritas. Begitu pikiran sadar kita melihat figur otoritas maka critical factor langsung terpengaruh dan mulai membuka.

Inilah langkah Authority Programming yang pertama, yaitu untuk membuka Critical Area dari pikiran sadar.

Lalu, apa yang digunakan untuk komponen kedua? Benar, sekali. “Pesan” yang disampaikan itu dikutip dari kitab suci, langsung menembus critical factor, dan masuk ke pikiran bawah sadar. “Pesan” ini biasanya dalam bentuk doktrin.

Inilah langkah Authority Programming yang kedua, yaitu Pendalaman atau deepening..

Bagaimana dengan komponen ketiga, message unit overload? Caranya adalah dengan menggunakan repetisi atau emosi. Saat sesuatu “pesan” disampaikan berulang-ulang atau suatu emosi berhasil digugah dan dibuat menjadi intens, baik itu emosi positif maupun negatif, misalnya kebahagiaan karena akan masuk surga atau kengerian dan ketakutan siksa neraka, maka semua unit informasi ini membanjiri pikiran dan menciptakan kondisi overload. Menggugah emosi bisa juga dengan melalui lagu-lagu dengan irama yang lembut dengan syair yang menghanyutkan perasaan atau dengan wangi-wangian tertentu.

Sekarang coba kita lihat ritual doa. Apa yang dilakukan umat sebelum berdoa? Apakah mereka akan ribut, cerita-cerita sendiri, ataukah mereka akan berlutut, diam, hening, dan memusatkan perhatian mereka pada doa yang akan diucapkan? Kondisi pemusatan perhatian ini sebenarnya adalah untuk masuk ke kondisi hipnosis, yang kalau dalam bahasa agama disebut dengan kondisi khusyuk. Setelah pikiran terpusat, hati tenang, barulah doa dibacakan atau diucapkan. Doa yang diucapkan ini sebenarnya adalah sugesti atau afirmasi. Jika doa ini diucapkan sendiri maka ia menjadi auto-suggestion melalui self hypnosis.

Dan inilah langkah inti dari Authority Programming yaitu Sugesti, afirmasi, Installation, ataupun Mind Programming.

Bagaimana doa dengan hanya membaca satu atau dua ayat tertentu dan diulang-ulang? Inipun sama saja. Dengan pemusatan pikiran terhadap doa yang dibacakan akan tercipta kondisi hipnosis (baca: khusyuk).

Bagaimana dengan latihan meditasi dengan objek pernapasan? Bagaimana dengan orang yang melakukan liamkeng atau berlatih meditasi dengan fokus pada suara yang timbul akibat ketukan pada alat bantu tertentu?

Semuanya sama saja. Intinya adalah adanya pemusatan perhatian atau fokus pada sesuatu objek dan adanya repetisi. Semua akan mengakibatkan kondisi overload yang akhirnya akan mengakibatkan kondisi hipnosis.

Banyak orang sangat ingin masuk ke kondisi khusyuk. Namun kondisi ini hanya bisa mereka capai sesekali saja. Tidak bisa diulang sesuai keinginan. Mengapa? Karena kebanyakan kita tidak mengerti mekanisme untuk masuk ke kondisi khusyuk ini. Kita selama ini hanya menggunakan cara trial and error. Ada yang bisa dengan sangat mudah menjadi khusyuk namun ia tidak bisa menjelaskan atau mengajarkan caranya kepada orang lain.

Sulitkah untuk menjadi fokus atau khusyuk? Sama sekali tidak. Justru bila kita tahu caranya kita bisa membuat diri kita khusyuk kapanpun dan di manapun dengan sangat mudah dan cepat.

Banyak orang yang saat berdoa, begitu khusyuknya, sampai merasakan keheningan luar biasa yang disertai perasaan gembira, bahagia, dan damai yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Sungguh pengalaman euphoria spiritual yang sangat luar biasa. Apakah ini ada hubungan dengan kondisi hipnosis? Sudah tentu. Kondisi ini mirip sekali dengan salah satu kondisi hipnosis yang sangat dalam, yang bila kita bisa masuk ke kondisi ini, kita akan merasakan perasaan bahagia, damai, dan luar biasa “enak”. Orang yang berhasil masuk ke kondisi ini biasanya ingin seterusnya berada di kondisi ini karena begitu luar biasanya perasaan mereka.

Kondisi hipnosis jugalah yang sebenarnya digunakan untuk membentuk, membangun, dan memperkuat belief seseorang terhadap doktrin suatu agama. Saat anak masih kecil basically mereka sangat sering berada dalam kondisi hipnosis secara alamiah. Bila doktrin agama diajarkan pada saat anak masih kecil maka efeknya akan sangat kuat.

Mengapa?

Karena saat masih kecil, usia 0-3 tahun, anak belum mempunyai critical factor. Saat usia 3 tahun critical factor baru mulai terbentuk dan akan semakin menebal dan kuat pada usia 8 tahun. Critical factor akan benar-benar tebal saat usia 11 tahun dan ke atas.

Agar doktrin benar-benar diyakini kebenarannya, dipegang dengan sangat kuat oleh seseorang maka doktrin ini harus masuk dalam bentuk belief yang dikaitkan dengan emosi yang sangat intens. Dan belief ini bila terus diperkuat, dengan berbagai repetisi, akhirnya menjadi faith atau iman.

Berikut saya kutipkan definisi faith dari kamus elektronika Encarta, “Faith: belief or trust: belief in, devotion to, or trust in somebody or something, especially without logical proof” atau “Iman: kepercayaan pada, kepercayaan yang sangat kuat pada seseorang atau sesuatu, biasanya tanpa bukti yang logis."

Belief yang sudah berhasil dibentuk, dibangun, dan diperkuat akhirnya akan mengkristal menjadi value, yang biasanya menempati level tertinggi dalam hirarki value seseorang. Dan untuk mengubah value ini, sangat-sangat sulit, jika tidak mau dikatakan tidak bisa.

Jadi bagi Anda yang memiliki figur otoritas, Anda punya peran penting dalam pembentukan keyakinan bahkan cara pandang hidup seseorang. Jadilah seorang figur yang bijak.

Jika Anda merasa telah terprogram oleh figur otoritas dengan program yang salah, maka saatnya Anda mengambil kendali atau tanggung jawab kehidupan Anda 100%. Tetapkan keputusan dalam diri Anda untuk tidak mengijinkan Anda untuk menerima ini lagi demi kebahagiaan dan kesuksesan hidup Anda.

Artikel Terkait : Kabel Pedhot Authority

Referensi :
Agus Setiawan
Adi W Gunawan