ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 14 September 2014

Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi

Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi

Apakah anda pernah melihat atau bahkan pernah mengalami sebuah sesi dalam suatu forum seminar motivasi, ataupun seminar-seminar yang lain dimana hampir semua peserta menjerit-jerit dan menangis? Itulah sesi Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi yang diaplikasikan oleh Trainer atau fasilitator Seminar tersebut. Atau Mungkin Anda punya teman yang berkeluh kesah & minta saran jalan keluar dari masalah hidupnya. Namun saat diberi saran malah mengabaikan & terus berkeluh kesah. Orang seperti ini sedang butuh katarsis (pelepasan emosi) & tidak butuh masukan. Jadi jangan dulu memberikan nasehat (Sugesti), tetapi fasilitasi katarsis yang terjadi sedemikian hingga semua beban emosinya menjadi hilang. Barulah nasehat yang positif dapat anda berikan dan akan dia terima dengan baik.

Melepaskan beban emosi yang menjadi penyebab terjadinya penyakit psikosomatis, stress, depressi, dan bahkan mental Block merupakan salah satu tahapan yang sangat penting di dalam hipnoterapi.

Sebagaimana di tuliskan oleh Charles Tebbet dalam bukunya yang berjudul Miracles on Demand, bahwa dalam sebuah Terapi Hipnoterapi, terdapat empat langkah Terapi, yaitu :
  1. Sugesti Post Hipnosis dan Imajinasi (Posthypnotic Suggestion & Imagery)
  2. Release Emosi
  3. Menemukan  Akar Suatu Permasalahan (Discovering The Root Cause)
  4. Pemahaman Baru (Re-Learning / Rewriting History)
Di saat klien memasuki tahapan Release Emosi yang menjadi akar masalahnya, biasanya klien akan mengalami Abreaksi atau Katarsis. Yaitu Proses pelepasan emosi yang berupa histeria, berteriak-teriak, menjerit, memukul, menendang, menangis, dll.


Sebagaimana kita ketahui, bahwa Hipnoterapi adalah sebuah metode terapi yang memanfaatkan kondisi Hipnotic State (Trance). Hipnoterapi modern sangat dipengaruhi oleh pengetahuan psikoterapi, dimana pengetahuan psikoterapi ini selalu berkembang terus, sejalan dengan pengembangan yang dilakukan oleh keilmuan psikologi. Hipnoterapi modern sangat banyak mengadopsi teknik-teknik Psikoterapi /yang banyak dikembangkan di dunia Psikologi.

Psikoterapi Dalam Hipnoterapi
Psikoterapi sesuai dengan namanya merupakan terapi terhadap aspek psikis, atau secara umum merupakan terapi terhadap hal yang berkaitan perasaan dan perilaku manusia. Psikoterapi lebih dekat ke dunia psikologi, karena disiplin ilmu psikologi-lah yang mengembangkan berbagai metode psikoterapi, antara lain : Psychoanalysis, Gestalt Therapy, Cognitive Behavioural Therapy, dll.

Lalu apa hubungan antara Psikoterapi dan Hipnoterapi ?

Seperti telah diketahui bahwa perkembangan Hipnotis dan Hipnoterapi dimulai dari era Mesmer di abad ke-19. Pada saat itu tentu saja teknik Hipnoterapi masih sangat sederhana, hanya sekedar penerapan sugesti langsung, dimana manusia dianggap dapat ”diprogram” dengan bebas dalam keadaan trance. Oleh karena itu hipnoterapi di masa silam lebih bersifat spekulasi, atau dapat dikatakan memiliki tingkat kesuksesan yang rendah.

Di sisi lain, psikoterapi yang dikembangkan oleh dunia psikologi semakin berkembang, akan tetapi pada umumnya psikoterapi diterapkan dalam kondisi klien sepenuhnya ”sadar”, sehingga menimbulkan kerumitan tersendiri.

Sebagai contoh salah satu teknik Psikoterapi untuk mengatasi phobia adalah dengan metode ”Systematic Desensitization”, atau mengurangi sensitivitas secara bertahap dan sistematis. Misalkan seorang klien mengidap phobia terhadap kecoa, maka klien tersebut akan ”dilatih” secara bertahap untuk menghadapi kecoa secara fisik, dimulai dari jarak tertentu, dan akhirnya semakin dekat.

Tentu saja teknik Systematic Desensitization ini cukup merepotkan jika phobia yang dihadapi klien adalah phobia yang membutuhkan alat peraga yang lebih rumit, misalkan phobia ular, phobia naik pesawat terbang, dll.

Hipnotis dapat menciptakan kondisi ”trance” dimana dalam kondisi ini klien dapat membayangkan sesuatu secara jelas, bahkan dapat masuk kepada kondisi ”benar-benar mengalami”. Misalkan benar-benar nyata mengalami naik pesawat terbang, melihat ular, bahkan memegang ular.

Dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Psikoterapi dan Hipnoterapi, jika kekuatannya digabungkan, maka akan menghasilkan metode terapi yang jauh lebih efektif.

Oleh karena itu, pada hari Hipnoterapi moderen banyak mengadopsi teknik-teknik yang berasal dari Psikoterapi, misalkan : Gestalt, Parts Therapy, Forgiveness Therapy, dll. Dimana teknik-teknik ini akan menjadi sangat efektif jika diimplementasikan ketika klien dalam keadaan trance.

Hal ini pulalah yang menyebabkan munculnya berbagai variasi dalam pelatihan Hipnoterapi. Saat ini ada pelatihan Hipnoterapi yang berdurasi 8 jam, ada pula yang 36 jam, 100 jam, bahkan 300 jam. Dimana perbedaan utamanya ? Ya, perbedaan utamanya justru kepada banyaknya pengetahuan Psikoterapi yang ditambahkan.

Bagaimana pula dengan seorang Hipnoterapis yang hanya dilatih dalam waktu yang singkat, memiliki ketrampilan yang tinggi untuk menempatkan klien ke kondisi trance tetapi tidak memperoleh pelatihan Psikoterapi ? Tentu saja mereka ini dapat mempelajari Psikoterapi secara mandiri, karena berbagai info mengenai Psikoterapi terkini sangat mudah diperoleh di buku-buku psikologi populer dan juga di dunia maya. Hanya dibutuhkan kemampuan untuk belajar secara mandiri dan kemauan untuk mengembangkan kreativitas …..!

Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi
Katarsis memiliki arti penyucian diri; suatu metode psikologi untuk menghilangkan beban mental seseorang; dan kelegaan jiwa / emosional diri. Katarsis yang didasarkan pada psikoanalisa Sigmund Freud ini berasumsi bahwa emosi yang tertahan bisa menyebabkan ledakan emosi yang berlebihan, maka dari itu diperlukan sebuah penyaluran yang terstruktur dan sistematis atas emosi yang tertahan tersebut.

Freud dan Breurer dalam bukunya Study in Hysteria mengungkapkan bahwa catartic method atau katarsis adalah suatu pembersihan konflik emosional dalam diri melalui berbicara tentangnya (Graf, 2004). Freud berpandangan bahwa emosi yang tertahan bisa menyebabkan ledakan emosi berlebihan sehingga diperlukan sebuah penyaluran atas emosi yang tertahan tersebut (Qonitatin, Widyawati, Asih, 2011). Sedangkan Wibisono dalam kaitanya dengan menulis menyebutkan bahwa katarsis adalah kelegaan jiwa ketika penulis berhasil merampungkan tulisannya. (Hidayah, 2011).

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, disebutkan bahwa :
Katarsis atau katharsis, (dari bahasa Yunani: κάθαρσις) pertama kali diungkapkan oleh para filsuf Yunani, yang merujuk pada upaya "pembersihan" atau "penyucian" diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. Istilah ini digunakan antara lain oleh:
  1. "Penyucian" yang dihasilkan pada para pemirsa dalam sebuah pentasan sandiwara, menurut Aristoteles
  2. Metode psikologi (psikoterapi) yang menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkannya menceritakan semuanya (JS Badudu, hlm 175).
  3. Dalam agama Kristen pembaharuan mental yang dicapai dalam penyucian diri.
  4. Kelegaan jiwa, ketika seorang penulis berhasil merapungkan tulisannya (Wibisono, hlm 204).
Dalam KBBI, katarsis diartikan
  1. penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan;
  2. cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas;
  3. kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.
Katarsis adalah suatu metode terapi dimana pasien diminta untuk mengingat kembali dan melepaskan emosi yang tidak menyenangkan, mengalami kembali ketegangan dan ketidakbahagiaannya dengan tujuan untuk melepaskan dari penderitaan emosional/gangguan mental. Terapi katarsis ini dikenalkan oleh Josef Breuer dan kemudian dikembangkan oleh Sigmund Freud. Freud mengembangkan pengobatan  “katarsis”  untuk orang yang menderita gejala histeris melalui penggunaan hipnosis.

Fanny dalam millisnya “OCEAN” menulis “banyak orang yang kurang begitu familiar dengan istilah katarsis. Istilah ini terkait erat dengan tekanan, stress, beban, emosi. Bila diumpamakan, seperti sedang mengisi air di bak mandi, bila terus menerus diisi tentunya air akan meluber keluar, begitu pula dengan tekanan dan emosi, bila tidak ada katup penyaluran atau pengeluaran tentunya dapat meledak. Masalah yang ada dapat semakin parah bila emosi yang keluar meledak-ledak. Jadi apa itu katarsis? Untuk lebih mudahnya, katarsis merupakan suatu mekanisme untuk penyaluran dan pereduksian emosi atau tekanan agar psikis manusia tetap dapat mempertahankan fungsinya menjaga realitas. atau lebih mudahnya. Seperti perumpamaan di atas, katarsis merupakan suatu sumbat yang bila dicabut dapat mereduksi air dalam bak sehingga tidak meluber. Begitu halnya dengan emosi dan tekanan yang terus menerus dipendam dapat menjadi suatu ledakan yang berakibat fatal bila tidak disalurkan. Selain itu, emosi dan tekanan yang terus menerus direpresi dapat menyesakkan dada dan teralihkan menjadi masalah fisik”.

Mengacu pada penjabaran di atas, dapat dipahami bahwa katarsis itu adalah proses bagaimana kita mengeluarkan emosi yang tertahan. Adapun cara katarsis tiap orang berbeda, tergantung dari karakter orang itu sendiri. Ada berbagai jenis katarsis seperti curhat, menangis, karaokean, bermain video games yang keras, bermain air, berteriak, mengeluh, curhat di Facebook, dan sebagainya. Adapun proses katarsis yang mudah dilakukan secara klasikal (dalam proses pembelajaran) diantaranya dengan menulis, bermain air, berteriak untuk mengeluarkan ekspresi (bermain peran), dan permainan yang memicu adrenalin (out bond).

Lalu bagaimana melakukan  Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi..?
Terapi Katarsis dapat dilakukan secara mandiri oleh diri sendiri (Self Hypnotherapy) dengan menuangkan isi pikiran dan perasaan ke dalam sebuah buku harian. Rottenberg dan Rosler (2005) menjabarkan beberapa tahapan katarsis melalui buku harian yang dikenal sebagai The Model of diary Catharsis as a Multi Stages Process yang meliputi tiga tahap, yaitu :
  1. Tahap pertama, dinamakan Distress Description.
    Penulis merekam kemudian mengungkapkan kembali pengalaman atau peristiwa yang telah dialami menggunakan penulisan deskriptif. Dalam hal ini kemampuan dalam menyimpan dan memanggil kembali data informasi dalam ingatan berpengaruh dalam aktivitas menulis.

  2. Tahap selanjutnya yaitu Physical-Emotional Catharsis.
    Penulis mulai menguraikan pengalaman atau peristiwa yang dialami bukan hanya secara fisik dan verbal melalui tulisan deskriptif saja tetapi mulai menggunakan dialog batin juga untuk merasakan, meninjau dan menilai dirinya sendiri melalui peristiwa atau kejadian yang dialami. Peristiwa-peristiwa menggangu yang dituliskan akan memberikan pemahaman baru tentang peristiwa emosional itu sendiri.

  3. Terakhir tahap ketiga yaitu Cognitive-Emotional Catharsis.
    Penulis berusaha mencari wawasan dan sudut pandang baru setelah merasakan dan memahami peristiwa emosional itu sendiri yang dijelaskan pada tahap sebelumnya. Melibatkan proses berpikir dan perenungan dari pengalaman dan peristiwa yang telah dialami.
Esensi dari katarsis ini adalah mengeluarkan energi emosional yang menggangu sekaligus membersihkan tubuh dan jiwa dengan cara mengangkat sebab yang terpendam dari gangguan emosional tersebut ke permukaan, menganalisisnya kemudian mengujinya dengan kenyataan untuk mengetahui sejauh mana kebenaran dan kemudian mencari cara untuk mengekspresikan dorongan yang telah terhalangi sehingga seseorang dapat mengubah sikap dan mengembangkan pandangan-pandangan yang lebih menyeluruh (Hurlock, 2007).

Namun, adakalanya tekhnik mandiri ini kurang efektif dan tidak meraih hasil sesuai yang diharapkan. Dan disinilah peran seorang hipnoterapist dapat membantu memberikan mediasi bagi klien untuk dapat merelease beban emosinya dengan tuntas.

Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi dengan menggunakan bantuan seorang Hipnoterapist meliputi beberapa tahapan yaitu :

Tune In ke dalam masalah, kemudian dengan menggunakan tekhnik Affect Bridge klien di bawa ke masa lalu dimana sumber permasalahan ini bermula. Di sini beberapa Hypnotherapeutic strategy dapat diterapkan sesuai dengan kondisi yang di alami klien untuk melepaskan beban emosinya, misalnya menggunakan The Informed Child Technique, Forgiveness Therapy, Ego State Therapy, Reframing, Object Imagery (Desentisization by Object Projection), Implosive Desensitization, dll. Kemudian dilanjutkan dengan Future Pacing, untuk melihat apakah klien sudah dapat melepaskan semua emosinya itu dalam kehidupannya di masa mendatang dan dapat menikmati hidup dengan normal dan sehat. Proses kemudian di akhiri dengan Terminasi dan Verbalizing.

 Hypnotherapeutic Strategy ini dapat anda pelajari dalam kelas Professional Hypnotherapy yang saya selenggarakan. Info Jadwal Pelatihan, KLIK DI SINI..

Salah satu contoh tekhnik Terapi Katarsis Dalam Hipnoterapi secara sederhana dapat anda lihat dalam video saya yang berjudul Life Reborn di bawah ini :



Referensi :
  1. Psikoterapi Dalam Hipnoterapi by Yan Nurindra
  2. Wikipedia
  3. Katarsis dalam pendidikan
  4. eBook MENULIS BUKU HARIAN SEBAGAI MEDIA KATARSIS STRES REMAJA OLEH AMILDA PUTRI A