ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 03 November 2014

Asu, Matilah Kau Bangsat..!!!

Bagaimana perasaanmu, ketika setelah ditempelengi lalu diminta sadar dan sabar..... Kalau saya sih, boleh saja sadar dan sabar, tetapi setelah menempeleng balik... Ra Popo Piye....? Iso Hora Iso yo kudu ngantem disitlah.... Hajar saja dan katakan,"Asu, Matilah Kau Bangsat..!!!" Hehehehe....

Para arif bijaksana akan selalu menasehati kita agar senantiasa sabar dan memaafkan terhadap orang yang telah menzalimi kita. Namun fakta membuktikan, bahwa untuk memaafkan itu tidak mudah. Di dalam sesi Interview dalam praktek di Klinik Hipnoterapi saya, justru pasien yang dengan mudah berkata sudah memaafkan kesalahan orang yang telah menzalimi dan menyakiti hatinya. Justru sembuhnya lebih lama daripada orang yang mengakui bahwa di dalam dirinya masih menyimpan dendam dan sakit hati.

Mengapa begitu...???
Ya.. Karena sesungguhnya dia tidak tulus dan belum sepenuh hati memaafkan. Dia berkata sudah memaafkan itu karena alasan norma susila serta nilai moral yang dia terima sejak kecil. Sedemikian lamanya Nilai-nilai moral itu telah tertanam di dalam dirinya, sehingga tanpa sadar dirinya telah terpenjara di dalam penjara kemunafikan diri.

Mulut dan pikiran sadarnya berkata sudah memaafkan, namun jauh di dalam lubuk hati yang terdalam masih tersimpan bara api dendam dan kemarahan yang masih terus berkobar. Hanya saja, hal ini tiada disadarinya. Sedemikian besar kobaran api dendam tersebut, sehingga mengakibatkan dirinya mudah sekali terkena penyakit psikosomatis dan sering kali beroleh nasib sial. Tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya.

Lalu, apakah Nilai Moral serta ajaran budi luhur itu salah..?
Tentu saja tidak, semua ajaran luhur itu pastilah mulia dan baik. Hanya saja, Cara mengajarkan ajaran-ajaran luhur ini terkadang salah dalam menanamkannya dan salah dalam menerapkannya. Seringkali, ajaran luhur ini ditanamkan secara paksa dan diterapkan secara otoriter, dan bukan tumbuh dari kesadaran. Sehingga mengakibatkan tumbuh suburnya sifat kemunafikan yang secara psikologis berujung pada konflik diri dan bila hal itu berlarut-larut akan mengakibatkan munculnya berbagai gejala penyakit psikosomatis dan juga ketidak harmonisan dalam kehidupannya..

Api kemarahan yang ditimbulkan oleh rasa sakit hati itu seperti juga sifat api pada umumnya... Bila tidak dikendalikan akan dapat membesar dan membakar diri sendiri... Namun, bila apinya terlalu kecil juga tidak cukup untuk membuat masakan menjadi matang... Jadi disinilah perlunya kemampuan untuk mengendalikan Hawa Amarah sesuai kebutuhan....

Hawa amarah adalah juga bagian dari diri kita, dia ada tidak untuk dihilangkan.. Karena sejatinya memang tidak bisa dimusnahkan... Dia ada untuk dikendalikan dan digunakan serta di arahkan... ada kalanya di gunakan sebagai bahan bakar mencapai impian, dan adakalanya digunakan untuk membakar musuh... Semua itu disesuaikan dengan kebutuhan.....

Tidak semua rasa sakit hati perlu untuk diterapi dan dilupakan.... Terkadang kita perlu mengingat dengan baik setiap Nama dan peritiswa yang menyakitkan hati kita itu.... Dan rasa sakit itupun terkadang perlu untuk dirasakan kembali,... Sebagai cambuk untuk memperkuat tekad kita agar senantiasa maju lebih baik lagi......

Memelihara Rasa Sakit hati yang dilakukan dengan sadar tidak akan menjadi mental block penghambat diri.. Tetapi menjadi api pembakar semangat... Dan kekuatan untuk mendobrak kemalasan..

Itulah sebabnya, untuk beberapa kasus... Saya tidak akan pernah melupakan segala kejadian dan juga perbuatan yang membuat hati saya sakit..

Saya pernah diBully di sosmed secara keroyokan oleh Beberapa Trainer yang sudah punya nama besar di Indonesia, dan seandainya itu saya laporkan ke Polisi terkait dengan UU ITE, wah... Bisa menjadi berkah tuh bagi para penghuni penjara, karena banyak motivator yang dibui di sana... Hehehehe... Namun, tentu saja itu tidak saya lakukan.

Saat saya di Bully oleh beberapa Trainer itu... Ya... Tentu saja itu ada bekas dan efeknya bagi saya... Bila saya hanya bersandar pada kekuatan diri saya sendiri... Tentu saya akan hancur.... Namun, saat saya merenung, sayapun melakukan regresi mengingat awal karier saya sebagai Trainer, bahwa saat itu saya belum kenal segelintirpun Trainer besar.. Materi pelatihan saya hanya Reiki Sufi saja.. Dan itu telah membuat saya diperjalankan Tuhan dari sebuah desa kecil di daerah pantai utara gresik hingga ke Malaysia dan Ibu Kota Indonesia.. Jakarta...

Jadi, hasil perenungan saya itu memberikan sebuah pencerahan bagi saya dan saya berkesimpulan bahwa Bukan manusia yang memberikan saya tugas dan peran sebagai Trainer... Tetapi Tuhan... Jadi... Buat apa mundur hanya karena perbuatan segelintir Mafia Training...

Hal inilah yang membangkitkan semangat saya untuk tetap terus bergerak dan maju... Karena saya yakin, Tuhan selalu beserta saya... Spirit kalimah Bismillah memperkuat saya.....

Bismillahi Tawakaltu 'Alallah... Laa Haula Walaa quwwata illa Billah...

Terkait dengan hal ini, Seorang sahabat bercerita Via Inbox FB, sebut saja namanya A.
A : Asslmlkm.. pak edi saya mau berbagi cerita terkait status bapak soal rasa sakit hati itu tidak semua harus dihilangkan..

Begini..

Saat kelas 3 SD saya minta uang untuk jajan kepada ibu saya, saat itu ibu saya sedang setrika baju, ayah saya kerja.

Sebagai anak kecil saya agak merengek ketika ibu saya tidak memberi uang tersebut padahal nominal tidak besar hanya 300 rupiah, hanya ibu saya tipikal yg tidak mau di ganggu ketika melakukan pekerjaan rumahnya.

Alhasil saya kena setrika di bagian paha, saya pun menangis dan melupakan uang itu kemduian masuk kamar.

Semenjak saat itu saya 'agak' benci dam trauma sama setrika dan sikap ibu saya.

Alhamdulillah setelah dewasa sekarang ini saya malah bersyukur atas kejadian itu walaupun saya gak akan niru. Karena setiap mengingat itu saya merasa tercambuk untuk mandiri, memiliki penghasilan sendiri dan belajar untuk mengerti atas perlakuan orang tua saya.

Sejak saat itu pula saya mulai berwirausaha mulai dari memungut plastik untuk di kilo, jual es lilin, gorengan, hingga sekarang memiliki bisnis makanan yg bertahan lama dari lajang sampai punya anak dengan omset jutaan.

Saya : Wa'alaikum salam... Nah, itulah yg saya maksudkan...

Sahabat.. Sesungguhnya segala rasa sakit hati, kecewa, dendam, dan juga amarah itu tidak akan membahayakan diri kita serta orang lain. Bila kita mau dengan ikhlas menerima bahwa kita ini bukanlah malaikat. Kita ikhlas menerima diri kita seutuhnya sebagai manusia yang punya sisi kuat dan juga punya sisi lemah. Ikhlas menerima diri apa adanya, dan kemudian memutuskan untuk mengarahkan segenap potensi yang ada tersebut demi kebaikan serta kemajuan diri kita.

Nah, setelah kita bisa dengan ikhlas menerima diri apa adanya dan seutuhnya. Jujur pada diri sendiri. Barulah kita akan bisa mulai memaklumi serta memaafkan orang lain yang telah menyakiti hati kita.

Lalu bagaimana bila Hawa api amarah itu sedemikian besar sehingga membuat kita menjadi sakit atau bahkan terlibat dan terjerumus dalam suatu masalah..?

Bila hal itu terjadi pada diri anda, tentu saja anda membutuhkan bantuan seorang terapis. Atau anda melakukan self terapi pada diri anda sendiri. Yang tekhniknya telah saya tulis dalam eBook Gratis Quantum Kontak Anger Management. Silahkan download eBooknya di sini...

Nah, saat melakukan Self Therapy itulah anda boleh melepaskan semua beban emosi anda sepuas-puasnya. Kalau perlu berteriaklah, dan katakan,"Asu, Matilah Kau Bangsat..!!!" secara virtual kepada orang yang telah menyakiti hati anda. Sedemikian hingga semua beban emosi itu terlepas dan tersapu bersih dari dalam hati anda.

Dan setelah sesi Katarsis untuk meRelease Emosi Negatif itu anda lakukan, biasanya anda akan menjadi mampu untuk memaafkan orang lain dengan setulus hati dan sepenuh hati.

So...
Boleh saja anda mengatakan,"Asu, Matilah Kau Bangsat..!!!" asal tahu caranya dan tahu ilmunya. Kalau tidak, maka kalimat sumpah serapah itu hanya akan membuat anda semakin terpuruk dalam lumpur permasalahan anda saja.

Sekian ulasan saya mengenai bagaimana kita melakukan manajemen terhadap Emosi-emosi negatif kita. Semoga bermanfaat untuk sahabat semua.

Dan bila anda merasa artikel ini cukup bermanfaat, silahkan Share ke sahabat-sahabat anda. Terima kasih.