ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 14 Desember 2014

Review Clinical Hypnotherapy Al-Quran

Review Clinical Hypnotherapy Al-Quran


Review Buku :
Judul :  Clinical Hypnotherapy Al-Quran, New Guidence For Medic & Therapist.
Penulis : Imam Masrur, M, Th. I. CH, CHt, CI
Publisher : International Scientific Hypnotherapy

Pada awalnya saya memang sedang mencari buku yang bertemakan hypnosis serta hypnotherapy dalam sudut pandang serta kajian Islami. Sehingga akhirnyalah saya menemukan buku ini "Clinical Hypnotherapy Al-Quran" yang ditulis oleh Imam Masrur, M, Th. I. CH, CHt, CI.

Namun setelah saya sekilas membaca, nampaknya ini hanyalah buku hypnosis biasa, sama juga dengan buku hypnosis yang lain. Hanya saja di dalamnya ada bertebaran dalil Qur'an dan juga hadits. Dan Saya merasa buku ini masih belum dapat menjelaskan fenomena hypnosis dalam sudut pandang Islam.. Dan masih terlihat terlalu dipaksakan dan mengada-ada ketika mengaitkan antara Hypnosis dengan ajaran Islam.. Serta belum menyentuh esensi hakiki dari hypnosis itu sendiri..

Karena definisi hypnosis yang digunakan di dalam buku ini sendiri masih belum tepat sasaran alias masih belum menyentuh Inti Substansinya, sehingga ayat serta hadits yang digunakan juga masih belumlah tepat.

Buku ini hanya menyentuh aspek permukaan saja dari ilmu hipnosis, dan belum sampai pada inti hakikinya. Sehingga pengaitan antara Hypnosis dengan Islam bersifat melingkar-lingkar alias berputar-putar saja dan tidak menohok langsung pada intinya. Hanya membicarakan ranting dan dahannya saja, sedangkan pohonnya itu sendiri sama sekali tidak disentuh.

Misalnya mengenai Definisi Hipnosis, dalam buku ini dituliskan bahwa :
  • Hypnosis adalah Kondisi Relaksasi pikiran, saat pikiran berada di Alpha Theta
  • Hypnosis adalah proses diterimanya sugesti oleh pikiran yang tidak menganalisa.
Nah, definisi yang ditulisakan di atas hanya menjelaskan fenomena kondisi hipnosis dan tidak menuliskan secara tegas apa definisi hypnosis itu sendiri. Padahal Definisi Hypnosis itu sederhana saja.

Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau “Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar yang diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti”. (U.S. Department of Education, Human Services Division)

Nah sederhana bukan definisi Hypnosis itu, dan itulah Inti dari Hypnosis. Sedangkan Kondisi gelombang otak Alpha Theta dan juga Kondisi rileksasi pikiran, itu hanyalah sekedar menjelaskan tanda-tanda dari kondisi hypnosis. Yang mana tanda-tandanya itu buaaanyak sekali. Jadi kalau kita menyebut bahwa Hypnosis adalah Kondisi Relaksasi pikiran, saat pikiran berada di Alpha Theta. Itu sama saja dengan kita mengatakan bahwa Gajah adalah binatang yang tipis dan lebar, karena yang kita pegang adalah telinga gajah.

Sedangkan Definisi yang kedua yang ditulis di dalam buku ini yaitu Hypnosis adalah proses diterimanya sugesti oleh pikiran yang tidak menganalisa. Yang tampaknya merupakan plesetan serta modifikasi dari definisi Hypnosis menurut U.S. Department of Education, Human Services Division. yang Justru membuat definisi yang sudah jelas menjadi malah membingungkan.

Karena yang dimaksud dengan Pikiran Yang tidak menganalisa itu tentu  terkait dengan karakter pikiran sadar yang mempunyai karakter Analitis. Padahal karakter Pikiran sadar itu tidak hanya itu, Pikiran sadar mempunyai fungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang sudah ada dalam memori kita, menganalisa data yang baru masuk tersebut dan memutuskan data baru akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara.

Contoh lain lagi, Test sugestibilitas dihubungkan dengan prinsip (YAKIN) keyakinan, penerimaan dan ketundukan... Ini menurut saya tidak tepat... Karena test sugestibilitas itu untuk mengetahui karakter psikologi seseorang dalam sudut pandang Psikologi Hypnosis terkait dengan kemampuan dasarnya menerima sugesti.. Jadi ini bukan soal yakin, menerima, ataupun ketundukan... Ini soal karakter... Karena bagi yang bertype emosional dan juga intelektual (Type sulit masuk kondisi Hypnosis), itu banyak juga yang sangat ingin mampu lulus test sugestibilitas, mereka sudah mencoba menerima dan tunduk terhadap sugesti hipnosis yeng diberikan.. Tetapi tetap saja tak dapat melakukan Test Sugestibilitas sebaik yang bertype Physical. Walaupun sudah dilakukan Hipnotic Training yang cukup lama.

Jadi ini bukan soal yakin atau tidak yakin, tetapi soal psikologi Hypnosis yang dimiliki oleh seseorang...

Contoh lain, Induksi dan deepening di asosiasikan dengan Naum (Tidur)... Lha... Hipnosis itu sendiri tidak identik dengan tidur kok... Coba Baca kembali Definisi Hypnosis menurut U.S. Department of Education, Human Services Division di atas. Dan tentu saja juga menjadi tidak tepat pula bila dikatakan bahwa NAUM dalam istilah Arab yang berarti mengantuk itu identik dengan definisi Hypnosis.

Kalau mengantuk dan tidur disebutkan sebagai salah satu tanda-tanda dari fenomena kondisi hypnosis. Nah, itu baru saya setuju. Tetapi kalau mengidentikkan Hypnosis adalah naum alias mengantuk ataupun Tidur, maka tentu saja itu menjadi tidak tepat bukan..?

Sekilas mengenai Naum & Tidur yang saya copaskan dari sebuah blog.***
Mengingat kata “tidur” adalah asli produk dalam negeri dan belum diserap menjadi salah satu kosakata bahasa Arab secara resmi, maka untuk mengawali penelusuran ayat-ayat yang membahas tentang tidur, penulis berusaha mencari padanan kata ini dalam bahasa Arab. Adapun cara yang digunakan adalah mencari persamaan kata Arab untuk “tidur” dalam kamus Indonesia-Arab. Pada pencarian ini, penulis menemukan ada dua kata bahasa Arab yaitu naum dan subat.[1]

Dalam Lisan al-Arab, an-naum berarti nu’as (ngantuk). Lebih lanjut Ibnu al-Mandzur menjelaskan bahwa kata nama yanamu memiliki dua bentuk mashdar yakni naum dan niyam sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Sibawaih. Seseorang dikatakan tidur apabila ia telah berbaring (raqada).[2] Sedangkan Menurut Ibnu Faris, kata naum dengan huruf nun, wawu dan mim menunjukkan arti jumud dan sukunu harakah yakni seperti benda mati yang tidak bergerak/ statis.[3]

Ar-Raghib al-Ashfihani dalam kamusnya menjelaskan bahwa naum adalah istirkhou a’shab ad-dimagh bi rathubat al-Bukhor al-musha’id ilaih (beristirahatnya urat syaraf otak disebabkan sejuknya udara yang masuk ke dalamnya). Ia juga menambahkan bahwa ungkapan naum ini bisa berarti Allah mewafatkan jiwa tanpa kematian. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa naum merupakan kematian sebentar, sedangkan kematian pada hakikatnya adalah tidur yang cukup lama/panjang. [4]

Jadi Naum itu mungkin lebih tepat bila dijelaskan sebagai penjelasan atas salah satu fenomena Hypnosis yaitu SLEEP LIKE HYPNOSIS atau Sleep Hypnosis, salah satu fenomena Kondisi Hypnosis yang mirip dengan tidur. Dan tidak dapat digunakan untuk menjelaskan keseluruhan dari fenomena hypnosis itu sendiri.


Di Halaman 63 penulis juga dengan sangat berani menuliskan bahwa "QURAN ITU HYPNOSIS" bagaimana pendapat para ulama' di dalam hal ini...?Apakah mereka semua sudah sepakat bahwa Qur'an itu Hypnosis.

Seandainya itu dituliskan begini : "Al-Quran mampu menghipnosis manusia.." yang artinya bahwa Al-Quran itu mampu mempengaruhi Pikiran bawah sadar (hati) manusia sehingga mau dan mampu berubah ke arah yang lebih baik. Nah, itu saya baru sepakat. Tetapi kalau disebut bahwa "QURAN ITU HYPNOSIS"... Wah... apakah Umat akhirnya tidak semakin menjadi rancu dan malah menjadi semakin bingung tuh...?

Selain itu, ada ketidak sesuaian antara Judul Buku dengan isi buku. Bukunya berjudul "Clinical Hypnotherapy Al-Quran, New Guidence For Medic & Therapist". Seolah-olah buku ini menjanjikan sebuah panduan yang cukup lengkap dan praktis untuk mengaplikasikan Clinical Hypnotherapy. Namun faktanya, di dalam buku ini saya tidak menemukan pembahasan yang cukup lengkap mengenai aspek Klinis dari Hypnotherapy ataupun petunjuk tekhnis sebagai Guidence atau panduan bagi pembaca. Ataupun petunjuk praktis penerapan Hipnotherapy pada kasus Klinis. Misalnya, Bagaimana mengatasi kasus kasus klinik seperti kanker, kasus kasus pasca stroke, kasus kasus di Gastro Intestinal Tracts atau kasus kasus saluran pencerna'an, kasus diabet, asthma , dll.

Memang ada beberapa tekhnik Hypnotherapy yang ditulis, seperti Suggestion Therapy, Age Reression, Parts Therapy, Chair Therapy, Reframing, Dissociation, Role Model, Swish Pattern, & Object Imagery yang merupakan materi standard dalam kelas pelatihan Advanced Hypnotherapy. Namun, inipun hanyalah sekedar penjelasan filosofinya saja. Penjelasan Tekhnis dan juga aspek klinis sama sekali tidak disebutkan. Sehingga hal ini juga membuat bingung pembaca, mengapa ada kata-kata "Guidence, Clinical, & juga Medic".

By The way, buku ini cukup bagus kalau sekedar digunakan sebagai rujukan belajar Hypnosis. Tetapi bila tujuannya adalah untuk mencari rujukan Hypnosis dalam sudut pandang Islam secara tepat dan benar, maka buku ini masihlah belum terlalu tepat sasaran. Tapi kalau sekedar untuk membingungkan para ahli agama yang tidak faham Hypnosis, maka buku ini cukup bolehlah digunakan sebagai bahan untuk debat kusir dengan para ahli agama yang anti dengan hipnotis.

Namun bagaimanapun, saya memberikan penghargaan serta hormat yang setinggi-tingginya serta salam santun saya buat penulis buku ini. Karena bagaimanapun juga, buku ini telah dapat meramaikan khasanah pendidikan hypnosis di Indonesia dan juga dunia.

Demikianlah sekedar kritikan dari saya, semoga ada peningkatan kualitas pada edisi berikutnya... Karena saya juga berharap, ada intelektual Islam Yang Pakar Hypnosis dan mampu menjabarkan hypnosis secara baik dalam sudut pandang Islam... Dan saya berharap, penulis ini masih mau mengembangkan diri dengan belajar Ericksonian Hypnotherapy, sehingga semakin memahami bahwa Hypnosis itu tidak identik dengan Tidur.

Terima Kasih telah membaca tulisan ini dan Salam Ukhuwah...

Footnote :
[1] A.W.Munawir, M. Fairuz, Kamus Al-Munawwir Indonesia-Arab,(Surabaya: Pustaka Progessif), cet I, 2007 hal.893
[2] Ibn al-Mandzur, Lisan al-Arab, (Kairo: Dar al-Ma’arif), tt. Jilid VI,1999, Hal.4583
[3] Abu al-Husain Ahmad bin Faris, Maqayis al-Lughah, ( Dar al-Fikr), tt jilid V, Hal.372
[4] Husain bin Muhammad, Mufradat Gharib al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’arif) tt, hal. 510.

***Referensi : http://pkitgusdur.blogspot.com/2014/01/kajian-al-quran.html