ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 07 Mei 2015

Karena Saya Miskin, Maka Saya Sukses

KARENA SAYA MISKIN, MAKA SAYA SUKSES
Sebagai anak seorang pedagang (Ayah Seorang Petani & Ibu seorang Pedagang), jiwa dagang juga kuat mengalir di dalam diri saya.... dan ketika saya lulus sekolah SMA tahun 90 an.. Ketika keadaan mengharuskan saya untuk tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang Universitas, maka sayapun memulai karier sebagai pedagang kaki lima di dalam pasar tradisional desa saya, dengan menggelar dagangan barang kelontong Kualitas bawah yang murah meriah..

Sebutannya waktu itu, Jualan plastik sewu telu (seribu dapat tiga item)... Ya.. dengan uang seribu rupiah, anda bisa mendapat Satu Cangkir plastik, piring plastik, sikat cuci... dll.. yang penting jumlahnya tiga biji.

Dan hanya dengan modal awal sebesar 300 ribu rupiah... lapak saya berkembang cukup pesat, bahkan saya mampu beli lapak di pasar desa di kecamatan sebelah, seperti kecamatan sedayu, kecamatan Bungah, dll....

Namun, ada yang membuat hati saya tidak puas waktu itu... galau, resah, dan gelisah.... Karena saya belum mampu beli lapak / Toko di pinggir jalan raya yang harganya Puluhan Juta... Maklum, karena dagangan saya memang dagangan kelas bawah, maka uang yang terkumpul juga tidak terlalu banyak...

Akhirnya, hal ini membuat saya bertekad... Bahwa saya harus berhasil tanpa harus punya toko & tanpa harus punya tanah..

Dan tekad ini membuat saya berhenti dagang.. saya merantau ke surabaya, mencari kursus-kursus ketrampilan untuk meningkatkan kualitas skill saya... Mulai kursus Montir Mesin Sepeda Motor & Mobil, kursus gulung dinamo, kursus service elektronik, kursus instalasi listrik, dll... Yang kemudian mengantarkan saya untuk bekerja di berbagai perusahaan, seperti di Hartono Motor surabaya, Petro Jaya boral gresik, dll...

Namun, bekerja diperusahaan ternyata juga tidak membuat saya betah, dan akhirnya membuat saya memutuskan untuk kembali ke kampung dan menganggur, Jobless. Dan untuk beberapa tahun saya seperti kehilangan arah, stress, dan depresi. Mungkin karena kelamaan menganggur. Dan menurut nasehat seorang ustadz, saya disuruh menikah agar kehidupan saya lebih terarah... maka akhirnya menikahlah saya.... dalam kondisi menganggur tidak punya kerjaan... dan karena sudah punya tanggung jawab keluarga.. maka apapun saya kerjakan untuk cari nafkah.. wes pokoke kerjo... gitu aja.... Termasuk menjadi penjual Es Krim keliling... membuka rental Play station, hingga ahirnya jadi satpam (Security), sampai jadi kepala Produksi & Logistik di sebuah perusahaan... Yang kemudian akhirnya kembali menjadi wiraswastawan di bidang pupuk alam.

Setelah terombang-ambing oleh berbagai dinamika kehidupan.... Ternyata GOAL SETTING saya dahulu ahirnya mendapat jawaban... dengan boomingnya Trend Internet.... maka sayapun mulai berkenalan dengan dunia internet... sekitar tahun 2008... dan hal itupun terjadi secara tanpa sengaja dan tanpa terduga. Berawal dari ajakan teman untuk ikutan bisnis MLM yang mana untuk mengetahui bonusnya harus melihat di internet. Maka, berawal dari itulah saya mulai mengenal internet.

Namun berbeda dengan orang lain yang main internet karena hobi atau hanya untuk buang-buang masa saja, saya main internet sejak awal adalah karena untuk mengembangkan bisnis... mulai jual pulsa hingga jual pupuk... Hal inilah yang membuat saya akhirnya mengenal dunia Blogger.. menulis di Blog.... dan juga sosial media Facebook.

Dan sebagai seorang yang berasal dari dunia pengembangan diri versi tradisional, tulisan-tulisan sayapun di dominasi oleh nuansa keilmuan tradisional. Yang saya kemukakan dengan bahasa yang lebih modern. Karena selain keilmuan Tradisional yang saya dapatkan dari berbagai perguruan dan pesantren. Saya juga termasuk orang yang amat sangat hobi membaca berbagai buku-buku tentang manusia. Termasuk yang mengupas mengenai kekuatan pikiran manusia.

Dan entah kenapa tanpa alasan yang saya sendiri tidak tahu. Tulisan-tulisan saya mendapat sambutan yang cukup hangat dari para pembaca. Banyak yang menyatakan berhasil ketika mereka menjalankan saran-saran dari saya. Baik untuk urusan peningkatan kesehatan, karir, rumah tangga, dll. Yang akhirnya membuat saya menciptakan sebuah metode pelatihan pengembangan diri dengan materi awal yaitu Quantum TranceFormation Reiki Sufi. Yang saya kompilasikan dari pengetahuan tradisional saya dengan pengetahuan modern yang saya miliki.

Bermula dari itulah saya kemudian tertantang untuk lebih mengembangkan skill dan kompetensi saya dengan mengikuti berbagai pelatihan Soft Skill modern lainnya. Seperti Hipnosis, Hipnoterapi, NLP, dll. (Silahkan Baca Profile Pendidikan saya di sini ...)

Yang akhirnya, membawa saya menjadi seperti sekarang ini... Menjadi seorang Trainer & Terapis yang sudah melanglang buana hingga ke manca negara...

Alhamdulillah... Ini adalah suatu kesuksesan luar biasa yang dianugrahkan Tuhan kepada saya.... walaupun bagi orang lain, apa yang saya peroleh ini hanyalah kecil saja... Namun, bagi saya... ini adalah suatu pencapaian Luar Biasa.... Jika dibandingkan dengan apa-apa yang telah saya capai sebelumnya.

Kisah ini sengaja saya tuliskan, dengan tujuan untuk memberi semangat kepada sahabat-sahabat yang saat ini masih berjuang memperbaiki nasib dirinya agar lebih baik dan lebih maju. Karena sangat sering saya mendapati betapa banyak sahabat yang mengeluh karena dilahirkan di dalam keluarga yang miskin dan kurang beruntung. Dan merasa bahwa keadaan mereka itulah yang membuat mereka tidak dapat meraih kesuksesan yang diharapkan.

Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Sukses itu adalah soal Mindset dan sikap. Soal bagaimana kita memandang kehidupan ini dan soal bagaimana kita mensikapi kehidupan ini.

Dalam sebuah status berformat tanya jawab di Facebook, saya menulis demikian :

ANTARA D3SAH DAN DERITA
  • Tanya : Mungkinkah orang terjatuh dan malas bangun lagi...?
  • Jawab : Mungkin saja, ketika mereka menikmatinya.....
  • Tanya : Mungkinkah ada orang yang jatuh dalam kegagalan dan tidak mampu bangkit lagi...? Mengapa...?
  • Jawab : Mungkin saja, dan ada banyak... Mereka tidak mampu bangkit lagi karena mereka menikmatinya...
  • Tanya : Kok bisa...? Bukankah mereka setiap hari merintih dalam penderitaan, bagaimana engkau mengatakan mereka menikmatinya....?
  • Jawab : Penderitaan yang mereka rasakan belum terlalu sakit bagi mereka sehingga mereka tidak bersegera berjingkat, melompat, dan melenting dari tempat kubangan deritanya. Kecerdasan mental mereka lebih memilih untuk nerimo dan beradaptasi dengan keadaan, menyerah dengan keadaan itu membuat mereka merasa lebih aman dan nyaman bagi mereka. Mental mereka terjebak di zona nyaman yang sesungguhnya tidak nyaman.
  • Tanya : Bukankah mereka selalu berkeluh kesah...?
  • Jawab : Keluh kesah mereka sesungguhnya hampir sama dengan desahan para pengantin perempuan di malam pertama.... Sakit, tapi nikmat, dan melegakan...
  • Tanya : Ah... Jorok ah bapak....
  • Jawab : itu hanyalah perumpamaan, dan memang begitulah nyatanya.... Keluh kesah mereka hanya membuat Niat, tekad, dan inner Power yang diperlukan untuk bangkit menjadi hilang... Bocor... Dan hanya sekedar menjadi desahan yang melegakan....
  • Tanya : Bukankah sikap Nerimo Ing Pandum itu juga diajarkan sebagai salah satu budi luhur yang wajib dipegang dan dijadikan pedoman hidup pak..?
  • Jawab : Sikap tawakal, pasrah berserah diri pada Tuhan dan Sikap Qonaah, merasa cukup, atau Nerimo ing Pandum itu adalah sifat dan juga sikap hidup yang baik. Namun selalu saja ajaran luhur ini sering salah tempat. Tawakal dan Qonaah itu seharusnya dilakukan setelah kita berikhtiar dengan seluruh sumber daya yang kita miliki. Barulah sikap tawakal dan qonaah dimunculkan. Namun faktanya tidaklah demikian. Seringkali ikhtiar yang dilakukan itu belum cukup maksimal, tetapi mereka sudah pasang sikap tawakal dan qonaah.
  • Tanya : Lho... mereka sudah bilang bahwa mereka itu sudah bekerja banting tulang peras keringat lho pak... Kok masih dikatakan belum maksimal...?
  • Jawab : Ya belum maksimal, karena mereka itu sombong.
  • Tanya : Lho....lho... kok malah dibilang sombong pak..?

  • Jawab : Ya.. benar.. sombong.. Karena biasanya mereka ini suka berkomentar bahwa mereka sudah melakukan semua upaya yang ada, bahkan mereka menyamakan kinerja dan cara kerja mereka sama  sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah berhasil sukses. Dan menurut mereka, semua orang sukses itu meraih kesuksesannya dengan cara yang tidak baik, haram, mencuri, korupsi, menipu, ngipri, punya pesugihan, bekerja sama dengan setan, dll. Karena mereka merasa sudah melakukan semua hal yang sama dengan orang sukses, tetapi kok tetap saja tidak sukses. Jadinya mereka mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang sukses itu pasti melakukan yang haram untuk meraih kesuksesan. Oleh sebab itu, nasib buruk yang mereka alami itu menurut mereka adalah wajar, karena tidak mau melakukan perbuatan yang haram. Nah... Ini adalah kesimpulannya orang yang sombong, merasa diri lebih baik dan lebih suci serta menganggap orang lain lebih buruk dan lebih bobrok moralnya.

    Tuhan tidak menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan ngawur. Semua ada rumusnya. Termasuk Rumus untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih maju. Rumus-rumus ini disebut sebagai Hukum alam atau disebut juga sebagai Ayat Kauniyah yang bersifat universal. Universal artinya berlaku bagi siapapun saja dan dimanapun saja. Seperti hukum gravitasi, yang mempengaruhi siapapun saja. Tidak perduli apakah dia orang yang beriman atau kafir. Jika dia menjatuhkan diri dari atap gedung bertingkat lima ke lantai dasar, maka tubuhnya pasti jatuh ke bawah dan hancur lebur.

    Sukses itu ada ilmunya, ada rumusnya. Ini adalah rumus yang universal, yang artinya... siapapun saja yang selaras dengan Ayat Kauniyah Tuhan ini, maka hidupnya pasti akan berubah menjadi lebih baik dan lebih maju.

    Inilah ilmu-ilmu sukses yang tidak mereka fahami, karena mereka sudah bersikap sombong. Makanya mereka tertutup oleh ilmu-ilmu ini. Bukankah mereka itu suka banget meremehkan majelis-majelis ilmu sukses... dan merasa sok tahu, padahal belum tahu dan tidak tahu apa-apa. Untuk sukses di dunia itu ada ilmunya, sebagaimana untuk sukses di akherat itu juga ada ilmunya. Semuanya harus dipelajari dalam proporsi yang seimbang.

    Kesombongan ini pulalah yang membuat mereka juga salah dalam menempatkan sikap Tawakal dan Qonaah tadi. Untuk urusan harta duniawi, memang harus Tawakal dan Qonaah setelah maksimal berikhtiar. Tetapi untuk ilmu, maka tidak mengenal istilah sudah cukup. Bukankah Rasulullah SAW menganjurkan agar kita terus-menerus belajar hingga titik nafas penghabisan kita..??? betul..? Itu artinya kita harus rajin belajar, rajin menuntut ilmu.

  • Tanya : Lalu bagaimana agar mereka dapat bangkit...?
  • Jawab : buang semua keluh kesah, kuatkan niat dan tekad... Perbanyak sabar dan syukur. Bukankah di dalam situasi yang paling parah sekalipun, akan selalu ada sesuatu yang dapat disyukuri, maka lihatlah itu, dan syukurilah itu.... Ubah keluhan menjadi zikir dan doa, tersambung dengan Tuhan dan memohon kekuatan pada Tuhan.... Ubah Su'ud Dzon menjadi Husnud Dzon, berprasangka baik pada Tuhan dan orang lain. Jadikan spirit pembelajar sejati  menjadi bagian dari hidup... Insya Allah, dalam waktu singkat, mereka akan dapat bangkit...
  • Tanya : Okey, Terima Kasih Pak...
  • Jawab : Sama-sama.
Sahabat...
Boleh saja kita terlahir dari keluarga miskin, tetapi pantang bagi kita untuk mati miskin. Dan karena saya terlahir dari keluarga miskin, maka saya harus sukses dengan kekuatan diri saya sendiri.

Karena saya miskin, maka sayapun berusaha dapat meraih sukses dengan modal apa saja yang ada di dalam diri saya... tanpa perlu bergantung pada Orang Tua, Sanak Famili, Modal Uang, Tanah, dan aset di luar diri yang lain.... dan ternyata hal itu memang dapat dilakukan....Dan saya yakin, anda juga dapat melakukannya.

Betul...???

Sekian sekilas Kisah hidup saya ini, semoga bermanfaat dan dapat memotivasi serta menginspirasi anda semua...

SALAM SUKSES UNTUK KITA SEMUA...

Edi Sugianto (Founder NAQS DNA)
WWW.NAQSDNA.COM