ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 19 Oktober 2015

Cara Membentuk Keyakinan Di Dalam Hati

Orang sering menasehati kita agar yakin, baik saat berdoa ataupun saat hendak meraih tujuan tertentu. Namun masalahnya, orang hanya bisa menyuruh kita yakin tetapi tidak tahu caranya bagaimana membentuk atau menciptakan keyakinan di dalam hati, karena Yakin itu gak bisa pura-pura.... Bagaimana mau yakin jika di hatinya ternyata nggak merasa yakin ...? Betul..?

Baca artikel "Cara Membentuk Keyakinan Di Dalam Hati" ini sampai tuntas, dan semoga ini dapat menjadi inspirasi bagi anda.

Keyakinan itu Power Energi yang dapat mewujudkan apapun saja. Baik dalam hal penyembuhan, pencapaian tujuan, pengabulan doa, ataupun dalam hal pekerjaan dan juga keilmuan.... Serta apapun saja...

Keyakinan adalah Power...
Keyakinan kita menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan..
Keyakinan kita menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kita raih....

Jika keyakinan kita tidak penuh, maka hasilnya juga tidak akan penuh... Itu sebabnya, kita harus menemukan faktor apa saja yang dapat membuat kita yakin dalam melakukan sesuatu. Sehingga kita dapat melakukan perbaikan diri agar diperoleh keyakinan yang absolut....

Cara Membentuk Keyakinan Di Dalam Hati : SYARAT YAKIN.

Ketika kita melangkah, kemudian merasa tidak yakin.. Maka tanyakan pada hati sendiri... Apa syaratnya supaya yakin... Dan jika sudah dapat jawaban, maka laksanakanlah....

Misalnya, anda baru merasa yakin pekerjaan anda akan sukses dan berhasil jika anda rajin sholat. Maka, laksanakan itu... Rajinlah sholat... Karena itu adalah syarat yang diminta oleh hatimu....

Namun, kamu tidak wajib memaksakan resep keyakinanmu itu pada orang lain. Karena tiap orang punya resep yang berbeda...

Misalnya dalam contoh di atas, kamu baru merasa mantabz dan yakin sukses dalam pekerjaan jika rajin sholat. Maka jangan memaksa saya untuk memakai resep itu... Karena saya punya resep sendiri... Yaitu cukup dengan merasakan kehadiran Allah dalam pekerjaan saya, maka saya sudah merasa yakin dan mantabz...

Syarat Yakin ini bersifat kontekstual, tergantung konteksnya... Jadi, belum tentu sama untuk setiap hal... Oleh sebab itu, sering-seringlah berdialog dengan hati. Agar senantiasa yakin dalam setiap langkah....

Cara Membentuk Keyakinan Di Dalam Hati : 4 PILAR KEYAKINAN

Mengapa Keyakinan harus dilandasi 4 pilar...?

Ya, karena yakin ini sebenarnya ada tiga macam :
1. Pertama, yakin yang hanya bermain di level kognisi atau pikiran sadar.
2. Kedua, yakin yang bermain pada level afeksi atau pikiran bawah sadar.
3. Ketiga yaitu yakin yang “Bonek / Bondo Nekad”. Yakin tipe ini adalah yakin yang berlebihan atau overconfident dan biasanya bersifat tidak ekologis.

Saat memutuskan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, hendak mencapai sesuatu, dan bersiap menghadapi apapun yang ada di depan, berbekal perencanaan matang, pengetahuan dan kecakapan yang memadai... ini namanya TEKAD.

Keputusan yang sama tanpa didukung perencanaan, pengetahuan dan kecakapan yang memadai, hanya mengandalkan jurus "pokoknya" ... ini namanya NEKAD.

Tekad mampu memberikan hasil yang diinginkan. Nekad lebih sering membawa petaka. Walau hanya beda huruf awal, keduanya sangat berbeda.

Yakin tipe ketiga ini sangat berbahaya. Ini ada satu cerita nyata. Guru sahabat saya pernah bercerita bahwa ada seorang klien, sebut saja Pak Wongso, yang setelah mengikuti suatu pelatihan motivasi, menjadi begitu semangat dan menjadi sangat-sangat yakin bahwa ia akan bisa sukses dalam waktu yang sangat singkat dan mudah.

Sepulang dari pelatihan itu Pak Wongso dengan “haqul yaqin” (sangat yakin) memutuskan bahwa ia dalam waktu maksimal 3 (tiga) bulan akan menjadi orang kaya dan akan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 3 Miliar. Benar, anda tidak salah baca, 3 bulan untuk Rp. 3 miliar. Sungguh dahsyat sekali bukan..?

Pilar #1 : Yakin yang diikuti dengan Semangat .
Yang menjadi komponen atau bagian dari Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.

Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”

Kekuatan Semangat ini yang menjadi pendorong Thomas Edison untuk terus mencoba walaupun ia telah berkali-kali “belum berhasil” menemukan bahan yang sesuai untuk membuat bola lampu listrik. Kekuatan Semangat ini pula yang mendorong Harland Sanders untuk terus menawarkan resep ayam gorengnya yang istimewa Kentucky Fried Chicken, walaupun ia telah ditolak berkali-kali.

Nah, bagaimana dengan kisah Pak Wongso..? Saya lanjutkan ya ceritanya.

Pak Wongso, dengan bekal keyakinan yang “pasti” dan “kuat” memutuskan untuk menjalankan suatu usaha yang akan menjadi kendaraannya untuk mengumpulkan Rp. 3 miliar dalam waktu 3 bulan. Pak Wongso bekerja dengan sungguh-sungguh serius.

Pilar #2 : Yakin yang diikuti dengan Kekuatan Fokus.
Berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.

Saat Kekuatan Fokus bekerja kita akan sangat memperhatikan hal-hal detil dalam upaya mencapai keberhasilan. Kekuatan Fokus ini yang mendorong kita untuk menghasilkan master piece.

Sekarang saya lanjut lagi cerita tentang Pak Wongso. Apakah Pak Wongso fokus? Oh, sangat fokus. Begitu fokusnya sehingga ia bisa melihat banyak sekali peluang di sekitar dirinya. Pak Wongso mengajak kawannya kerjasama. Ia bahkan bersedia menanamkan modal yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis kawannya karena ia yakin bisnis ini bisa memberikan sangat banyak uang dalam waktu yang singkat. Bahkan saat kawannya, yang selama ini telah menggeluti bisnis itu, mengatakan bahwa tidak mungkin bisa secepat itu perkembangan bisnisnya, walaupun mendapat suntikan dana besar, Pak Wongso tetap yakin, semangat, dan fokus berkata, “Ah, yang penting yakin. Kalau yakin maka segala sesuatu mungkin terjadi.”

Pilar #3 : Yakin yang diikuti dengan Kedamaian Pikiran.
Syarat ketiga ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.

Saat kita yakin, semangat, dan fokus melakukan sesuatu maka kita perlu memeriksa apakah kita merasakan ketenangan baik di pikiran maupun di hati. Jika jawabannya “Tidak” maka kita perlu memeriksa ulang keyakinan kita.

Kita perlu memeriksa apakah keyakinan kita itu sudah benar-benar yakin ataukah lebih karena dorong emosi tertentu, misalnya emosi takut atau keserakahan.

Pada kasus Pak Wongso, ternyata ia sama sekali tidak merasakan kedamaian. Hal ini tampak dalam kehidupannya. Pak Wongso, dalam upaya mencapai targetnya, ternyata tidak mendapat dukungan dari istrinya. Namun Pak Wongso tetap memaksakan kehendaknya. Ia bersikeras bahwa dengan keyakinannya yang pasti, maka ia akan dapat mencapai apapun yang ia inginkan.

Apa yang terjadi..?
Pak Wongso sering ribut dengan istrinya dan selalu tampak murung dan stress.

Bila keyakinan kita bersifat ekologis, didasari dengan pikiran yang benar dan kebijaksanaan, maka saat kita bekerja keras dan giat untuk mencapai impian-impian kita, pikiran dan hati kita akan tetap merasa tenang, damai, dan bahagia. Ini adalah satu aspek penting yang jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang.

Perasaan tenang, damai, dan bahagia merupakan indikasi bahwa apa yang kita lakukan benar-benar kita yakini akan berhasil. Kita hanya tinggal melakukan kerjanya saja dan sukses (insyaAllah) sudah pasti akan kita dapatkan. Sukses hanyalah efek samping yang pasti akan terjadi.

Pilar #4 : Yakin yang diikuti dengan Kebijaksanaan.
Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan pada keyakinan kita.

Setelah kita memperkuat keyakinan kita dengan 3 pilar sebelumnya yang bersumber dari kekuatan Otak Kanan dan Pikiran Bawah Sadar kita, maka sekarang saatnya kita menggunakan Otak Kiri dan pikiran sadar kita untuk menganalisa kelayakan keyakinan yang kita ambil.

Dengan menggunakan kebijaksanaan, kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan, maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.

Jika hasilnya sudah seperti yang kita inginkan maka, dengan menggunakan kebijaksanaan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan pencapaian itu.

Kebijaksanaan juga perlu digunakan untuk memeriksa keyakinan atau kepercayaan yang menjadi langkah awal tindakan kita untuk mencapai goal. Dengan bijaksana kita dapat memeriksa keabsahan keyakinan kita. Apakah kita sudah benar-benar yakin secara benar ataukah kita sebenarnya tidak yakin tapi memaksa diri... Yakin karena kita takut?

Pak Wongso ternyata tidak menggunakan Kekuatan Kebijaksanaan dalam mengejar impiannya. Setelah mendengar penjelasannya secara cukup detil, guru sahabat saya akhirnya menyimpulkan bahwa Pak Wongso ini sebenarnya tidak yakin namun ia memaksakan kehendak, tanpa mempertimbangkan kondisi riil yang sedang ia alami, untuk bisa sukses.

Ternyata emosi yang mendorong Pak Wongso untuk “Yakin” adalah ketakutannya akan masa depan. Ia, setelah menghadiri seminar motivasi, menjadi “sangat yakin” dengan apa yang diajarkan oleh si pembicara dan akhirnya menjadi “buta” oleh emosinya sendiri.

Hal ini diperkuat lagi saat Pak Wongso mendapat peneguhan dari mentornya, pembicara tadi, yang mengatakan, “Pokoknya, kalo kamu yakin, maka kamu bisa mencapai apapun yang anda inginkan.”

Sahabat sekalian, KEYAKINAN/BELIEF seperti ini, yang menggunakan kata-kata “pokoknya”, yang saya kategorikan sebagai “belief” yang perlu diwaspadai. Belief ini seringkali tidak membumi dan menyesatkan.

Bila kita membentuk KEYAKINAN yang telah saya jelaskan dalam tulisan ini maka dengan pilar SEMANGAT, FOKUS, DAMAI, & BIJAKSANA niscaya kita akan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal untuk menggapai tujuan kita.

Salah satu metode praktis Cara Membentuk Keyakinan Di Dalam Hati di dalam pelatihan saya biasanya adalah dengan memberikan sesi praktek Glass Walking yaitu berjalan di atas pecahan beling / kaca..

Glass walking dapat dijadikan sebagai media untuk mengatasi Rasa ketakutan yang menjadi Mental Block kita. Dalam sesi Glass walking, Setiap peserta akan berjalan di atas pecahan beling dan tanpa alas kaki dengan aman tanpa terluka sedikitpun untuk memahami konsep kekhawatiran dan ketakutan serta menghalaunya dalam hitungan cepat. Dengan terlampauinya segala tantangan dan terhapuskannya segala ketakutan, diharapkan seluruh peserta akan memulai pengejaran atas kesuksesannya dengan semangat maksimal.

Makna berjalan di atas pecahan beling :
¤ Ketakutan itu tidak ada. Ketakutan adalah hasil imajinasi kita sendiri
¤ Tahu posisi anda di mana.
¤ Tahu kemana anda akan menuju
¤ Punya rencana melakukan apa
¤ Melakukan action sesuai rencana
¤ Harapkan terbaik
¤ Hadapi ketakutan
¤ Syukuri dan rayakan hasilnya
¤ Hilangkan sifat sombong dan tergesa - gesa

Melangkahlah dengan sepenuh keyakinan serta keberanian..
Maka masa depan sudah berada dalam genggaman tangan...

Sekian, semoga bermanfaat.

SALAM

Edi Sugianto
(Founder NAQS DNA Institute)

SMS/WA : 0812 3164 9477
HP : 0822 3458 3577
Pin BB : 7ccd0ca5
Twitter : @edi5758
Facebook : https://www.facebook.com/haryopanuntun
Google Plus : +Edi Sugianto, C.Ht., MNLP

Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.