Tidak ada dalil bermaaf-maafan saat lebaran

Tidak ada dalil bermaaf-maafan saat lebaran

Tidak berarti hal ini tidak boleh dan terlarang untuk dilakukan.

Menanggapi Video Yang sedang Viral di Facebook, mengenai Fatwa seorang Ustadz Yang melarang Tradisi Halal bihalal atau saling bermaaf-maafan di Hari Raya Idul Fitri, berikut ini Pendapat Ustadz Perdana Ahmad, Founder Qur'anic Healing International yang juga seorang Tokoh Agama beraliran Salafy.

MELARANG TRADISI BERMAAF-MAAFAN SAAT LEBARAN ITU SIFATNYA SETAN
(dikutip dari Status Ustadz Perdana Ahmad Lakoni)

Ada banyak bilang bid'ah, padahal, Bukan bid'ah, bermaaf-maafan adalah aktifitas mutlak, tidak terikat oleh waktu. Kapan pun dilakukan boleh-boleh saja, mau di hari raya, atau bukan hari raya.

Tidak ada syariat khusus bermaafan saat lebaran bukanlah berarti tradisi maaf maafan perkara bid'ah apalagi sampai menyesat-nyesatkan mayoritas umat muslim yang melakukan tradisi maaf-maafan.

Yang mengatakan bid'ah adalah perkataan yang ghuluw (berlebihan), tidak memahami watak agama ini dan Ushul Fiqh. Mungkin maunya mereka, harus benar-benar ada contoh bahwa Nabi ﷺ pernah maaf-maafan di hari raya. Ini bukan cara istidlal (berdalil) yang tepat. Dalam urusan duniawi, adat dan tradisi keduniaan, seperti maaf-maafan, hukum asalnya adalah boleh, kecuali adanya dalil jelas dan kuat yang mengatakan terlarang. Dalil itu dibutuhkan jika dalam urusan ibadah ritual, maka tidak boleh merekayasa.

Membuat video atau tulisan "Tidak ada dalil bermaaf-maafan saat lebaran" dan ditunjukkan pada kaum muslimin yang sedang berhari raya merupakan bentuk bantuan kepada setan dalam upayanya untuk membuat manusia tetap saling bermusuhan.

Video, Tulisan atau nasehat seperti itu dihari raya seperti ini, adalah tulisan salah alamat. Setelah orang-orang membacanya hanya akan memunculkan perasaan untuk malas bermaaf-maafan bahkan menanamkan sifat untuk tidak mau memaafkan, dengan dalih tidak adanya dalil untuk bermaafan pada saat lebaran.

Padahal pada saat lebaran seperti ini MOMENT PAS saat semua keluarga, sanak saudara, tetangga berkumpul dari berbagai tempat yang jauh bersuka ria, hati manusia begitu lapang untuk memaafkan dihari raya, khususnya di negri ini yang telah terbiasa dengan adat saling memaafkan setelah ied.

Tidak mampunya seseorang membedakan jenis ibadah maghdah dan ibadah ghairu maghdah menjadi asal kebodohan ini. Sehingga ia akan selalu berharap ada dalil-dalil khusus yang mengaturnya.

Padahal, dalil secara umum telah ada, sehingga jika tidak ada yang mentakhsis ia tetap dalam keumumannya. Misalnya saling memaafkan. Telah ada dalil umum dalam hal ini, sehingga kapan saja kita dianjurkan untuk saling memaafkan termasuk dihari raya. Bahkan ini menjadi sesuatu yang telah maklum min ad-din bidhdharurah. Bukan saja agama islam yang menganjurkan saling bermaafan, bahkan seluruh agama yang ada.

Kemudian, budaya saling bermaafan setelah lebaran merupakan wujud dari sifat takwa yang ingin kita raih saat berpuasa. Salah satu sifat takwa yang disebutkan dalam surah ali imran adalah "Wal 'Aafiina 'an-Nas". Yaitu sifat memaffkan orang lain.

Budaya ini, menunjukkan mereka telah terbiasa dengan satu sifat takwa, yang memang kita upayakan untuk raih pada bulan ramadhan itu.

Menghalang-halangi manusia untuk saling bermaaf-maafan pada moment seperti ini bisa jadi menunjukkan seseorang tidak meraih predikat takwa yang kita harapkan meraihnya dengan menjalankam ibadah puasa sebulan penuh. Nasehat saya jauhi orang yang sok paling sunnah itu. Karena biasanya mereka hanya mengajari sikap kebencian pada saudara muslim yang lain.



Demikian isi Status Ustadz Perdana Ahmad.

Dan dalam kesempatan ini, Kami Keluarga Besar NAQS DNA mengucapkan :


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.
Taqobalallahu Minnaa wa Minkum,
Shiyamana wa shiyamakum,
wa Ja’alna Minal ‘Aidin wal Faizin,
Mohon Maaf Lahir Batin.

"Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan dari kami dan dari kalian. Dan semoga juga puasaku dan kalian diterima. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."


SALAM BAHAGIA.


• Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.combasupati.comsabdasakti.com

WA : +62 813 8141 1972
HP : +62 822 3458 3577
Telegram : @Hipnotis
Pin BB : DA927129
Twitter : @edi5758
Facebook : https://www.facebook.com/haryopanuntun
Google Plus : +Edi Sugianto, C.Ht., MNLP

Click To Chat :
Simak Materi Pelatihan Gratis Yang lain di Group Telegram JRC, KLIK DI SINI... untuk bergabung.

Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.


ads
Tidak ada dalil bermaaf-maafan saat lebaran Tidak ada dalil bermaaf-maafan saat lebaran Reviewed by Edi Sugianto, C.Ht., MNLP on 14.59 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.