Ilmu Berbasis Kesadaran Ilahi
Ilmu Berbasis Kesadaran Ilahi
Memahami Aliran Kesadaran yang Murni, Netral, dan Tidak Bisa Dipaksakan
Ilmu berbasis kesadaran adalah keilmuan yang bekerja dengan memahami dan mengikuti aliran Kesadaran Ilahi secara asli, murni, dan tidak menyimpang. Keilmuan ini tidak berangkat dari aturan keras, pantangan ketat, atau larangan moral yang dipaksakan dari luar, melainkan dari hukum kesadaran itu sendiri.
Artinya, ilmu ini tidak bekerja karena seseorang “patuh”, melainkan karena kesadarannya selaras. Inilah sebab utama mengapa ilmu berbasis Kesadaran Ilahi tidak memerlukan pantangan khusus. Bukan karena semua perilaku dibenarkan, tetapi karena setiap perilaku yang bertentangan dengan hukum kesadaran secara otomatis membuat ilmu ini tidak berfungsi.
Kesadaran Memiliki Hukumnya Sendiri
Dalam ilmu berbasis kesadaran, tidak diperlukan larangan seperti:
- jangan sombong,
- jangan berbuat jahat,
- jangan menyalahgunakan ilmu,
- atau daftar pantangan lainnya.
Mengapa? Karena ketika seseorang bersikap sombong, serakah, menuruti nafsu, atau merugikan orang lain, aliran Kesadaran Ilahi tidak dapat mengalir. Keilmuan ini runtuh dengan sendirinya, bukan karena dihukum, tetapi karena mekanismenya memang tidak mendukung perilaku tersebut.
Dengan kata lain, bukan pantangan yang membuat ilmu ini “gugur”, melainkan ketidakselarasan batin. Ilmu ini bekerja seperti sistem alami: jika sistemnya dijalankan sesuai prinsipnya, ia berfungsi. Jika tidak, ia berhenti.
Mengapa Ilmu Berbasis Kesadaran Bisa Macet
Ilmu berbasis Kesadaran Ilahi hanya bekerja ketika:
- niat tetap jernih,
- ego tidak mengambil alih,
- dan kesadaran tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.
Begitu kesadaran bergeser menjadi ambisi, keinginan menguasai, dorongan untuk pamer, atau upaya memanfaatkan orang lain, maka aliran Kesadaran Ilahi menjadi macet.
Ini bukan persoalan dosa atau pahala. Ini persoalan mekanisme kesadaran. Dalam bahasa sederhana: sistemnya tidak kompatibel dengan ego.
Ilmu Aliran Putih dan Aliran Netral
Dalam terminologi lama, ilmu berbasis kesadaran dikenal sebagai: Ilmu Aliran Putih atau Ilmu Aliran Netral. Disebut “putih” atau “netral” bukan karena ia memihak kebaikan secara moral, tetapi karena ia tidak bisa digunakan untuk tujuan gelap maupun kepentingan ego.
Ilmu ini tidak bisa dipakai untuk kesombongan, digunakan untuk menekan orang lain, atau dimanfaatkan untuk pemuasan nafsu. Bukan karena dilarang, tetapi karena struktur kesadarannya menolak itu secara alami.
Bagaimana dengan Ilmu Hitam dan Ilmu Merah?
Ilmu hitam dan ilmu merah bekerja dengan menafsirkan Kesadaran Ilahi secara menyimpang. Kesadaran tetap digunakan, tetapi dialihkan untuk dominasi, pemuasan nafsu, ambisi kekuasaan, atau kepentingan ego. Karena itu, ilmu hitam dan ilmu merah tetap bisa berfungsi, bahkan sering terlihat “lebih cepat” atau “lebih kuat”.
Namun fungsi ini dibayar mahal. Penyimpangan tersebut menciptakan cacat pada sistem energinya, baik pada pelaku maupun dalam jangka panjang kehidupannya.
Perumpamaan Mesin agar Mudah Dipahami
Bayangkan sebuah mesin kendaraan. Jika mesin dirancang untuk menggunakan bahan bakar berkualitas tinggi, bukan berarti mesin langsung mati ketika diisi bahan bakar berkualitas rendah atau oplosan. Mesin tetap bisa berjalan.
Namun dampaknya jelas:
- performa menurun,
- komponen cepat aus,
- kerusakan terjadi perlahan,
- dan usia mesin menjadi jauh lebih pendek.
Begitu pula dengan keilmuan. Ilmu yang menyimpang dari Kesadaran Ilahi tetap bisa “jalan” dan menghasilkan efek, tetapi bekerja dengan kerusakan tersembunyi. Kerusakan ini sering tidak langsung terasa, namun dapat muncul sebagai kegelisahan batin, konflik berulang, ketergantungan, atau kehancuran perlahan.
Mengapa Ilmu Berbasis Kesadaran Terlihat “Tidak Dramatis”
Ilmu berbasis Kesadaran Ilahi sering dianggap terlalu sederhana, tidak spektakuler, tidak agresif, dan “kurang menarik”. Justru karena ia:
- tidak menjanjikan kekuasaan,
- tidak memberi sensasi instan,
- dan tidak memanjakan ego.
Keilmuan ini bekerja diam-diam, melalui kejernihan batin, ketepatan sikap, ketenangan dalam tekanan, dan wibawa yang tidak dibuat-buat. Ia tidak menonjol, tetapi stabil dan berjangka panjang.
Ilmu yang Tidak Bisa Dimanipulasi
Salah satu ciri utama ilmu berbasis Kesadaran Ilahi adalah: ia tidak bisa dimanipulasi. Tidak bisa dipaksa bekerja, tidak bisa “diaktifkan” sesuka hati, dan tidak bisa dipakai saat ego memimpin.
Ia hanya bekerja ketika manusia jujur pada kesadarannya, tidak menipu dirinya sendiri, dan tidak berusaha mengambil jalan pintas. Karena itu, ilmu ini bukan milik siapa pun. Ia tidak tunduk pada manusia. Manusialah yang harus selaras dengannya.
Penutup
Ilmu berbasis Kesadaran Ilahi tidak membutuhkan pantangan keras, karena kesadaran itu sendiri sudah memiliki mekanisme seleksi alami. Ia tidak menghukum, dan juga tidak memanjakan.
Ia hanya bekerja ketika kesadaran dijaga tetap jernih, netral, dan tidak dikuasai ego. Dan ketika tidak bekerja, itu bukan kegagalan—melainkan peringatan halus bahwa arah kesadaran telah bergeser.
Seni Pemberdayaan Diri Nusantara Modern
Semua praktek dilakukan sendiri
Tanpa Trik • Tanpa Rekayasa • Tajrib Nyata
📌 INFO & PENDAFTARAN
Klik WhatsApp: 0812-3164-9477
Salam
Edi Sugianto,
Founder NAQSDNA

Terima Kasih sudah membaca Ilmu Berbasis Kesadaran Ilahi. Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.
Reviewed by Edi Sugianto
on
16.16
Rating:











Tidak ada komentar: