ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 28 Juni 2011

Aktivasi DNA ULUL ALBAB ; Kekuatan "Daya Pikir" [Potensi Ajaib Otak Manusia]

Synapsis [Koneksi sel saraf (‘neuron’) di dalam otak]

Perbedaan yang mendasar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya di muka bumi ini adalah “akal”. Para filsafat mengartikan akal sebagai kemampuan manusia dalam mengoptimalkan “otak” yang menjadi pusat pengendali seluruh unsur di dalam tubuh manusia. Bahwa sesungguhnya “otak” yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf (neuron) yang terhubung secara komplek ternyata mengandung energi yang sangat luar biasa yang biasa disebut dengan “daya pikir”. QT NAQS DNA

Para ahli biasa membagi segmen otak menjadi “otak kanan” dan “otak kiri” yang konon menurut mereka sebagian digunakan untuk mengaktivasi “logika (fisika)” dan sebagian lagi digunakan untuk mengaktivasi “naluri/imajinasi (meta fisika)”. Di dunia metafisika lazim diistilahkan sebagai “daya cipta”.

Sekarang makin marak orang membicarakan atau bahkan mencoba-coba "mempraktekkan" apa yang dinamakan dengan ESQ (Emotional Spiritual Quotion) yang konon katanya adalah semacam teknik untuk "menyeimbangkan diri" sehingga nantinya diharapkan fungsi kerja "otak kanan" dan "otak kiri" bisa seimbang. Kita juga mengenal istilah “mentalist” yaitu orang yang mampu mengoptimalkan kekuatan “jiwa/mental” nya untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Ada juga istilah “hypnotist” yaitu orang yang mampu mengoptimalkan kekuatan “daya pikir” nya untuk mempengaruhi orang-orang sekitarnya hingga pada batas hampir seperti mentalist. Adapun istilah “telepati” digunakan untuk para mentalist, hypnotist, atau sejenisnya untuk mengirimkan “sinyal” ke target secara jarak jauh.

Yang menarik di sini adalah baik mentalist, hypnotist, atau sejenisnya ternyata pada intinya mereka telah mampu mengoptimalkan “daya pikir” mereka hingga pada batas yang menurut orang biasa tidak lazim. Mereka meyakini bahwa secara logis telah dibuktikan otak yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan sel syaraf pada dasarnya mengandung kombinasi hubungan antar sel yang jumlahnya hampir tak terhingga. Terciptanya hubungan antar sel syaraf ternyata tergantung dari manusia itu sendiri bagaimana mengolahnya. Bila ada lebih dari satu sel syaraf yang terhubung maka terciptalah “synapsis” yang kemudian teraktivasi secara “unik” untuk menghasilkan “sesuatu” sesuai dengan maksud dan tujuannya. QT NAQS DNA

Bayangkan, bila setiap “synapsis” yang tercipta kemudian teraktivasi hingga menjadi “sesuatu", sementara dengan jumlah sel syaraf yang ribuan bahkan jutaan yang mampu dikombinasi hingga menjadi “synapsis” maka akan tercipta pula kemungkinan terjadinya “sesuatu” yang hampir tak terhingga jumlahnya. Subhanallah ...

NEURON
SECARA genetika, otak anak yang terlahir memang tidak bisa diubah lagi, namun bisa direkayasa oleh lingkungan sekitarnya. Dalam makalah yang ditulis Prof Dr Soemarmo Markam SpS, Dr Andre Mayza SpS, dan Dr Herry Pujiasuti SpS, dari bagian Neurologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, dijelaskan otak manusia bisa dimaksimalkan fungsinya dengan merekayasa lingkungan sekitarnya.

Menurut Prof Soemarmo, ketika bayi lahir berat otak kurang lebih 350 gram. Pada perkembangannya, terjadi penambahan berat otak bayi. Pada umur tiga bulan berat otak 500 gram, usia enam bulan 650 gram, umur sembilan bulan beratnya mencapai 750 gram, menginjak umur 12 bulan menjadi 925 gram, dan pada umur 18 bulan mencapai 1.000 gram.

Satuan yang membentuk otak ialah sel saraf yang merupakan neurochips, yang jumlahnya sedikitnya 100 miliar buah. Sel saraf ini mempunyai banyak synapsis (sambungan antarneuron). Semakin banyak synapsis, semakin banyak neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung pada banyaknya neuron yang membentuk unit-unit.

Setelah bayi lahir, jumlah sel sarafnys sendiri tidak bertambah lagi, karena sel saraf tidak dapat membelah diri lagi. Tetapi, synapsis–juluran, istilah awamnya mempunyai daya untuk bercabang-cabang dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut.

Keajaiban otak ini bila diprogram dengan cara belajar, maka cabang dan ranting juluran saraf akan tumbuh dan berkembang dan saling menjalin dan membentuk hubungan (networking)

Sebaliknya, apabila tidak digunakan, cabang-cabang ini akan melisut atau mengecil dan dapat menghilang hingga hubungan antarsel menjadi kurang rimbun, atau lebih gersang,” ujar Prof Soemarmo.

Fenomena yang menarik di sini adalah saat kapan manusia melakukan “kombinasi sel syaraf” nya hingga tercipta “sesuatu” dari synapsis yang teraktivasi ? Dengan pasti kita pun seharusnya mampu menjawabnya, dimulai dari pengamatan sederhana kita terhadap bagaimana seorang balita secara perlahan belajar beradaptasi dengan lingkungannya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini selalu memerlukan apa yang dinamakan sebagai “inisiasi” atau “trigger/pemicu”. Hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh manusia selama masih hidup di dunia adalah Hukum Sebab Akibat dan Aksi Reaksi.
  • Seorang bayi akan menangis bila lapar sehingga ia perlu asupan gizi/makanan.
  • Bayi tersebut menangis karena merasa lapar.
  • Ia merasa lapar karena cadangan makanan di tubuhnya sudah habis/mendekati minimal.
  • Cadangan makanan di tubuhnya sudah habis/mendekati minimal karena telah diolah menjadi sel-sel tubuh bagi perkembangan biologisnya.
  • Dan seterusnya.
Untuk lebih jelasnya ada baiknya kita bedah secara ringkas tentang “logika” dan “naluri”. Secara bebas, keduanya dapat diartikan seperti berikut :

Logika
Proses kompleks dan unik dari sekian banyak unsur kepastian yang menghasilkan suatu unsur kepastian juga. (Logis : pasti).

Naluri
Proses kompleks dan unik dari sekian banyak unsur ketidakpastian yang menghasilkan suatu unsur dugaan/perkiraan.

Jadi, logika lebih banyak difungsikan untuk memproses gejala-gejala yang mengandung unsur kepastian. Sedangkan naluri lebih banyak difungsikan untuk memproses gejala-gejala yang mengandung unsur ketidakpastian, ketidakmungkinan (mustahil) dan kemungkinan (probabilitas).

Ilustrasi singkat di bawah ini semoga bisa menjadi contoh yang mewakili makna dari kedua kata di atas.
  • Angka 9 dibagi 3 hasilnya 3. Karena 3 dikali 3 hasilnya 9.
  • Angka 10 dibagi 3 hasilnya 3 1/3 (dugaan hasil : 3,333…). Karena 3 dikali 3 1/3 hasilnya 10 (dugaan hasil : 9,999…).
  • Bila sebuah mata uang logam dilempar satu kali, maka kemungkinan yang keluar adalah “gambar” atau “angka”.
  • Dulunya orang berpikir sangatlah tidak mungkin manusia bisa terbang. Semenjak Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang yang pertama, maka gugurlah pernyataan “manusia tidak mungkin terbang”.
  • Di jaman Nabi Muhammad SAW, kaum Qurais tidak percaya dengan berita Muhammad telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Iraq) dalam satu malam. Sekarang manusia telah mampu melintas antar benua hanya dalam beberapa jam saja dengan menggunakan pesawat jet.
Dari ilustrasi di atas membuktikan bahwa logika memiliki batas wilayah sejauh tangkapan pancaindera secara fisik. Sedangkan naluri/firasat memiliki batas wilayah sejauh tangkapan indera secara meta fisik. Artinya, apapun gejala metafisik yang mengandung unsur ketidakpastian dapat menjadi wilayah logika (fisik) pada saat tangkapan pancaindera telah mampu meluaskan wilayahnya.

Naluri/firasat yang dikembangkan hingga menjadi imajinasi, bila diteruskan dengan tahap-tahap pembuktian yang “cermat dan hati-hati” akan masuk pula ke wilayah logika. Sebaliknya, logika yang tidak diteruskan dengan tahap-tahap pembuktian yang “cermat dan hati-hati” akan menjadi sekedar sebuah imajinasi.

Mari kita coba mengamati perilaku bayi dari lahir hingga menjelang pasca balita. Semua akan mengakui bahwa bayi yang baru dilahirkan tentulah belum memiliki fungsi pancaindera yang sempurna. Bagaimana bayi bisa melewati masa pertumbuhannya ? Jawabannya : naluri. Dengan berjalannya waktu, naluri bayi akan secara perlahan (tapi pasti) mulai memasuki wilayah logika, seiring dengan mulai berfungsinya pancaindera.

Sayangnya, proses beralihnya wilayah naluri ke wilayah logika pada bayi telah diartikan salah oleh sebagian orang. Kata “beralih” bukan berarti “berkurang dari…” kemudian “menambah ke…”. Bila seperti demikian adanya bisa jadi suatu saat nanti entah di umur berapa, manusia akan kehilangan wilayah naluri oleh karena telah beralih ke wilayah logika. Bahwa pada hakekatnya Allah telah menitipkan segala pengetahuan bagi manusia dengan cara yang “multikompleks”. Bila disederhanakan dapatlah kita menganggap bahwa naluri adalah sebersih-bersihnya dan sesempurnanya indera bagi manusia (seperti layaknya bayi). Seiring berjalannya waktu, seharusnya manusia mampu menyeimbangkan potensi naluri dengan potensi logika, seperti proses bayi tumbuh dan berkembang. Bila kondisi ini berhasil dicapai maka tidak ada kata yang tidak mungkin. Maka layaklah hubungan antara otak kanan dan otak kiri kita sebut sebagai “akal jernih”.

“Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. “(HR Tirmidzi,dalam Al Sunan, Kitab : Tafsir, Bab : Tafsir surat Al Hijr (hadits 3127).
“ Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat tanda- tanda bagi orang – orang yang “ Al Mutawassimin “ (QS Al Hijr: 75).

Al Mutawasimin menurut pengertian ulama adalah orang-orang yang mempunyai firasat, yaitu mereka yang mampu mengetahui suatu hal dengan mempelajari tanda-tandanya.

Sebagaimana firman Allah:
Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu benar- benar mengetahui mereka dengan tanda- tandanya.“ (QS Muhammad: 30).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.“( QS Ali Imran : 190-191)

Sungguh sudah jelas sekali pertunjuk Allah di dalam Al-Quran, bahwa manusia yang paripurna dalam mengoptimalkan KEKUATAN DAYA PIKIR ATAU MIND POWER disebut sebagai ULUL ALBAB yaitu manusia yang mepunyai Kecerdasan yang sempurna karena berpadunya antara zikir dan fikir, yang ketika dia  memikirkan sesuatu selalu melahirkan zikir terhadap yang menciptakan sesuatu Yaitu Allah SWT.

Menurut Prof . Dr. M. Qurash Shihab Kata al-Alba adalah bentuk jamak dari kata “lub” yaitu "sari pati" sesuatu. Kata ulul albab dalam Al-Quran tergantung dalam penggunaannya, bisa mempunyai berbagai arti. Dalam A Corcodance of the Quran (Hanna E. Kassis, 1983), kata ini bisa mempunyai beberapa arti, antara lain:
  1. pertama, orang yang mempunyai pemikiran (mind) yang luas atau mendalam.
  2. Kedua, orang yang mempunyai perasaan (heart) yang peka, sensitif atau yang halus perasaannya.
  3. Ketiga, orang yang mempunyai daya pikir (intellect) yang tajam atau kuat.
  4. Kempat orang yang mempunyai pandangan alam atau wawasan (insight) yang luas, mendalam atau menukik.
  5. Kelima, orang memiliki pengertian (understanding) yang akurat, tepat atau luas. Dan
  6. Keenam, orang yang memiliki kebijakan (wisdom), yakni mendekati kebenaran, dengan pertimbangan-pertimbangan yang terbuka dan adil.
Dari berbagai arti ulul albab di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ulul albab yaitu orang yang berakal, memilki pikiran, perasaan dan hati. Namun bukan hanya sekedar memilikinya akan tetapi mau menggunakannya secara maksimal sehingga ia mampu mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas serta pandangan yang tajam terhadap sesuatu. Penggunaan akal, pikiran dan perasaan ini tentu saja dengan cara yang benar dan dengan tujuan yang baik. Karena banyak orang yang memiliki komponen-komponen ini, namun tidak mau menggunakannya secara maksimal. Begitu juga banyak orang yang menggunakannya namun tidak dengan cara yang benar dan bukan untuk kebaikan, seperti orang yang menggunakan akalnya hanya untuk akal-akalan mencari keselamatan di dunia.

Ulul albab yaitu orang, baik laki-laki mapun perempuan yang selalu berdzikir (mengingat Allah) dengan lisan mapun hati dalam setiap situasi dan kondisi, dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, sedang bekerja, istirahat atau dalam keadaan apapun ia selalu mengingat Allah. Bukan sebatas ini saja, selain mengingat Allah ulul albab juga berfikir, yaitu memikirkan ayat-ayat Allah yang berupa alam semesta, langit bumi dan segala isinya serta dan perjalanannya yang melahirkan perubahan siang dan malam dan fenomena-fenomena alam lainnya. Setelah berpikir ulul albab akan mengambil kesimpulan dari fenomena-fenomena tersebut. Setelah mengambil hikmah ulul albab akan menjadikannya sebagai sarana untuk memperdalam keimanan dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bukan malah tenggelam di dalam fenomena tersebut.

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa obyek dzikir adalah Allah, sedangkan obyek fikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam. Ini berarti bahwa pengenalan kepada Allah lebih banyak dilakukan oleh Qalbu, sedang pengenalan alam raya didasarkan pada penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan zat Allah. Hal ini dapat dipahami dari sabda rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim melalui Ibnu Abbas: ”berpikirlah tentang makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Allah".

Semoga ciri-ciri ulul albab di atas sudah ada pada diri kita. Meskipun tidak seluruhnya setidaknya sebagiannya. Dan apabila memang belum ada, marilah melakukan aktivitas-aktivitas yang akan menjadikan kita manusia yang ulul albab yang akan mendapatkan balasan Jannatu 'adn sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam Surat Al-Ra'd ayat 23.

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ
"Salamun 'alaikum bima shabartum"
Artinya: keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.
( QS Ar Ra'd : 24 )