ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 20 Agustus 2011

ALAM SEMESTA ADALAH KITAB SUCI

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
( QS. Al-Alaq : 1-5 )

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat TANDA-TANDA bagi orang-orang yang berakal, ( QS. Ali Imran 3:190 )"

Sahabat setia NAQS DNA, tentu anda sudah membaca artikel saya yang berjudul "Berguru Pada Bambu", "Berguru pada laba-laba", "Berguru Pada Semut", atau "Spirit Elang", atau "JARINGAN ENERGI INFORMASI ALAM SEMESTA", Mengendarai Ombak Kehidupan, dan banyak lagi artikel sejenis yang intinya saya mengajak anda semua untuk membaca Alam semesta dalam rangka mencari makna mengenai Jati diri kita dan untuk apa kita diciptakan dan kemana tujuan hidup kita. Karena Alam semesta adalah sebuah Buku Besar yang berisi Ayat-ayatNya.

Sering beberapa sahabat di dunia maya suka mencela bahkan sangat antipati ketika saya mengajaknya membaca ayat-ayat Kauniyah, seakan-akan itu lebih rendah dari ayat-ayat Allah swt yang tertulis di Al-Quran. Dan kegiatan itu dianggap sekedar sebagai membuang waktu yang sia-sia. Karena perbuatan yang sia-sia maka tidak mendapat pahala.... he..he..he.. Pahala Oriented nih ye....

Padahal, Merenungi ayat-ayat, yang Allah ciptakan di langit dan di bumi tersebut, menghayati, memperhatikan dan memikirkannya merupakan hal yang membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia dalam menguatkan dan mengokohkan keimanannya. Karena, dari situlah ia mengetahui keesaan pencipta dan penguasaNya, dari situlah ia mengenali kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bertambah besarlah pengagungan dan penghormatannya kepada-Nya. Bertambahlah ketaatan dan ketundukannya kepada Allah. Ini merupakan buah yang paling besar dari proses tadabbur tersebut.

Apabila Anda memperhatikan apa yang diserukan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk direnungkan, hal itu akan mengantarkan kamu pada ilmu tentang Rabb, tentang keesaan-Nya, sifat-sifat keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya, seperti qudrat, ilmu, hikmah, rahmat, ihsan, keadilan, ridha, murka, pahala dan siksa-Nya. Begitulah cara Dia memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya dan mengajak mereka untuk merenungi ayat-ayat-Nya.

Diantara sebab yang menumbuhkan keimanan dan mendorongnya adalah tafakkur merenungi penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang ada di dalamnya. Merenungi penciptaan diri sendiri serta berbagai macam sifat yang ada di dalamnya. Hal itu akan menguatkan iman. Karena keajaiban makhluk-makhluk tersebut menunjukkan kudrat dan keagungan penciptanya. Demikian pula keindahan, kerapian dan kekokohannya yang membuat kagum ulul albab (orang yang berakal). Semua itu menunjukkan keluasaan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keluasaan hikmah-Nya. Berbagai macam manfaat dan nikmat yang sangat banyak tiada terhingga dan tiada terhitung, yang mana itu menunjukkan keluasaan rahmat Allah, kemahapemurahan dan kebaikan-Nya. Semua itu mendorong kita untuk mengangungkan pencipta dan pembuatnya, mendorong kita untuk mensyukuri dan selalu mengingat-Nya serta mengikhlaskan agama ini hanya untuk-Nya semata. Itulah ruh keimanan dan rahasianya.

Allah telah menyediakan untuk kita dua jenis ayat. Yang pertama, Ayat Qauliyah, yaitu ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah. Yang kedua, Ayat Kauniyah, yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS Fushshilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Hubungan antara Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah
Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21:

“Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta (ath-thabi’ah, nature).

Dalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”

Ini juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah).

Disamping itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an. Tidak jarang dalam Al-Qur’an Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-Qur’an diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah.

Karena itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah.

Kewajiban Kita terhadap Ayat-ayat Allah
Setelah kita mengetahui bentuk ayat-ayat Allah, yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah apa yang harus kita lakukan terhadap ayat-ayat tersebut. Atau dengan kata lain, apa kewajiban kita terhadap ayat-ayat tersebut? Dan jawabannya ternyata hanya satu kata: iqra’ (bacalah), dan inilah perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq: 1-5)

Lalu bagaimana kita membaca ayat-ayat Allah? Jawabannya ada pada dua kata: Tadabbur dan Tafakkur.

Terhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban kita adalah tadabbur, yakni membacanya dan berusaha untuk memahami dan merenungi makna dan kandungannya.

Sedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah, kewajiban kita adalah tafakkur, yakni memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama. Dan untuk melakukan dua kewajiban tersebut, kita menggunakan akal pikiran dan hati yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Mengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai melakukannya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang berakal (ulul albab). Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Tujuan Membaca Ayat-ayat Allah
Tujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2)

Dan yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat kauniyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191)

Selanjutnya, kita juga membaca ayat-ayat Allah agar kita memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah), baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).

Dengan memahami ketentuan syar’i, kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat yang ia kehendaki, dan dalam hal ini kita bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun, apapun pilihan kita, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.

Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan.

Nah sebagai tambahan, dalam kesempatan ini mari kita simak sebuah catatan dari sahabat saya Kang Mualimin Ali, yang mencoba menguraikan mengenai misteri Alam semesta. Yang pada prinsipnya Alam semesta terdiri 5 komponen, yaitu :
  1. ENERGI :
    Bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah berbahan dasar energi. Itulah saat-saat awal kejadian alam semesta, sesaat setelah meledaknya sop kosmos sebagai cikal bakal jagat raya. Saat itu yang ada hanyalah lautan energi semata.
  2. RUANG & WAKTU :
    Bersama dg munculnya lautan energi setelah peledakan sop kosmos Allah menciptakan ruang dan waktu sebagai wadah bagi proses-proses yg berlangsung. Ruang sebagai pembatas posisi dan keberadaan, sedangkan waktu sebagai pembatas umur proses, sehingga ada waktu Awal dan Akhir(auwalu, wal akhiru) .
  3. MATERI :
    Sesaat berikutnya diciptakanlah materi. Materi adalah bentuk lain dari energi. Boleh diumpamakan sebagai energi yg menggumpal, sehingga membentuk segala jenis benda pengisi alam semesta raya ini. Materi dan energi bisa bolak balik berubah satu sama lain. Sekali waktu energi berbentuk materi, diwaktu yg lain materi berubah menjadi energi. Sampai kini.
  4. INFORMASI :
    Dalam waktu yg bersamaan Allah menciptakan informasi sebagai pengisi dari segala keberadaan. Disetiap energi, materi, ruang dan waktu, terdapat informasi. Ia berupa kode2 yg memiliki arti dan makna. Infomasi itulah sebenarnya yg menjadi inti keberadaan segala sesuatu. Ia adalah "kalimat" Sang Pencipta yg disampaikan sebagai pesan2 kepada mahluk-Nya. Di dlm benda dan pesan yg bermakna, dan di dalam ruang dan waktu pun ada pesan dan makna. Tanpa adanya informasi segala yg ada ini menjadi tidak bermakna.

    Informasi itu meresap ke dlm energi, materi, ruang dan waktu dlm bentuk kombinasi kode2. Atau "tanda2" dlm istilah Alqur'an. Ibaratnya, huruf2 yg membentuk kata, membentuk kalimat, membentuk paragraf2, menjadi bab, dan akhirnya menjadi buku. Jadi alam semesta ini sebenarnya adalah buku. Di dlmnya terdapat informasi berupa kata2 dan kalimat2 Allah yg menceritakan segala sesuatu, benda, peristiwa, sejarah, kehidupan, kematian, kebahagiaan, penderitaan, bahkan sampai pada kehancuran alam semesta ini sendiri, kelak di akhir sejarah waktu.

    Seluruh isi cerita buku ini telah ditulis seluruhnya oleh Allah, seluruh awal cerita, isi cerita, akhir cerita, semua ada di gengamanNya. Kita pun sebenarnya "boleh jadi" bisa mengetahui cetita di bab2 selanjutnya, meskipun kita masih di bab awal. Misalnya lewat deja vu. - Untuk yg belum faham tentang deja vu : Deja vu yaitu suatu perasaan yg kuat serasa pernah mengalami persis seperti peristiwa yg saat ini anda alami, padahal sesungguhnya anda belum pernah sama sekali mengalami sebelumnya. Atau anda saat ini beberapa kali melihat seseorang yg anda kenal atau sesuatu, setiap anda dekati ia menghilang karena memang sesungguhnya ia tdk ada. (Nah, Siapa dari teman2 yg pernah mengalami?... Deja vu ini)
  5. KHALIFAH (Manusia) :
    "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."( QS. Al Baqarah 2:30 )

    "Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)." (QS. An Naml 27:62 )

    "Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang- siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka." ( QS. Faathir 35:39 )

    Kita adalah salah satu aktor dan aktris dlm cerita buku tersebut. Kita sedang mengendarai "kereta waktu" dari masa lalu ke masa depan. Kita melanglang jagat, melintasi ruang, melintasi materi dan energi, melintasi berbagai peristiwa dan informasi, bahkan "aku" mengembara di dalam badan sendiri, tubuh kecil kita, tubuh remaja, dewasa, menua lalu mati, hingga badan kembali hancur ke tanah, kemudian ke alam Barzakh sampai kembali lagi ke DzatNya. Semuanya sudah ada. Tertulis dalam buku semesta ini.

    Kereta waktu tdk pernah berhenti. Ia terus melaju ke masa depan. Siapa saja yg lengah akan kehilangan momen sejarah hidupnya. Dan tiba2 ia sudah sampai di "terminal terakhir" dimana ia harus menyelesaikan perjalanannya. Terus melanjutkan perjalanan ke alam berikutnya. Seluruh peristiwa di dlm buku itu, tak lebih adalah cerita tentang diri "Sang Pengarang". Dia bercerita tentang mas lalu, masa kini dan masa depan, yg itu adalah "DiriNya". Dia juga berkisah tentang keindahan semesta dimana kita berada, yg semua itu juga adalah "DiriNya". Dia pun bercerita tentang bahagia dan penuh derita, yg itu pun adalah "DiriNya". Semua tentang drama kehidupan ini Dia ceritakan dalam buku tersebut, dan itu adalah "DiriNya".

    Kita adalah pembaca buku itu, tetapi kita juga adalah pelaku cerita dlm buku itu, dan itu pun adalah "DiriNya". Dia menempatkan kamera2 di seluruh penjuru kehidupan, agar kita bisa menonton dan memahami isi cerita yg lebih utuh. Karena skenario cerita yg harus kita lakoni ini tidak diberitahukan di awal drama, melainkan harus kita pahami dan praktekkan secara bersamaan dg jalan cerita.

    Beruntunglah siapa saja yg tahu rahasia ini, karena banyak pemain drama yg tidak tahu dia harus berperan apa dlm hidupnya. Dan akhirnya, ia hanya menjadi orang linglung sampai saat terakhir drama selesai ..... Segeralah ambil peran anda "sekarang" juga, bukan disana atau disitu. Karena sesungguhnyalah hidup ini terjadi "saat ini" dan di "tempat ini". Selebihnya cuma mimpi2 tak berarti....

WALLAHU ALAM BISH-SHOWAB...
Semoga kita selalu dibimbing-Nya di jalan-Nya yang lurus...
Semoga Rahmat dan Ridho Allah SWT selalu tercurah untuk kita semuanya...