ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 04 Februari 2014

Frame, Framing, & Frame Game Dalam Neo Hipnotis

The person who sets the frame for communication can control it”.
~ NLP Presupposition ~


Frame of Mind atau Bingkai Pikiran alias kerangka berpikir. Frame atau bingkai merupakan sebuah metafora yang tepat untuk pemikiran. Frames atau bingkai ibarat wadah dari suatu foto. Ingat saja sebuah bingkai foto. Bingkai ini tentu saja berfungsi sebagai pembatas yang jelas dan tegas dari lembaran foto itu sendiri. Jadi dapat disimpulkan jika frames dalam NLP adalah bingkai atau wadah untuk menggambarkan dengan jelas batas-batas dari suatu peristiwa yang kita alami.

Frame menunjukkan batasan yang jelas sejauhmana seseorang berfikir, seluas atau sesempit apa batasan fikirannya. Bingkai ini dalam NLP berarti cara yang kita gunakan untuk menginterpretasikan dunia dan seisinya yang kita lihat, dengar dan rasakan dengan filter yang kita miliki. Oleh karena filter setiap orang berbeda-beda maka setiap orang memiliki interpretasi yang tidak sama mengenai dunia. Bahkan untuk suatu pengalaman yang sama, misalnya sama-sama berada di ruangan training atau berada di suatu jamuan makan.

Sebuah pengalaman yang sama bisa jadi mempunyai makna yang berbeda. Yak, tepat..!!! pengalaman baru akan memiliki makna, jika dan hanya jika ia diletakkan dalam konteks tertentu. Sebuah belaian bisa berarti kasih sayang jika kita mendapatkannya dari seorang yang kita sayangi seperti keluarga ataupun kekasih, namun ia bisa pula berarti kengerian jika yang memberikannya adalah seseorang yang tidak kita kenal di pinggir jalan nan gelap gulita. Konteks inilah yang di dalam NLP seringkali disebut dengan frame alias kerangka berpikir.

Jadi salah satu alasan penting mengapa NLP menganggap keberadaan frames ini menjadi penting adalah karena efeknya yang luar biasa dalam menginterpretasikan dunia. Ternyata frames ini juga menjadi salah satu kunci perubahan yang luar biasa dalam diri seseorang. Singkatnya, dengan mengubah frames kita mengenai suatu hal maka pemaknaan kita pun akan sangat jauh berbeda dari biasanya.

Bingkai pemikiran seperti juga kaca mata yang kita kenakan untuk melihat dunia. Dunia yang terlihat oleh kita sangat dipengaruhi oleh kaca mata yang kita gunakan untuk melihat dunia. Apakah hitam, merah, kuning, biru, ataukah bening warna kaca mata kita. Maka warna itulah yang akan mempengaruhi warna gambar dari dunia yang terlihat oleh kita.

Frame memberi batasan pada kita bagaimana kita memandang dunia. Frame juga mempengaruhi bagaimana kita berfikir mengenai dunia. Dan Frame jugalah yang mengatur bagaimana kita bersikap serta berperilaku. Dan dalam aspek yang lebih dalam, frame inilah yang juga membentuk Pola energi dari medan energi diri kita.

Frame inilah yang menjadi kerangka kerja bagi kekuatan pikiran kita. Baik Pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar.

Saat kita mengubah Frame, kita juga mengubah banyak hal di dalam diri kita. Mengubah cara kita memandang dunia. Mengubah Cara berfikir kita. Mengubah cara-cara kita dalam menilai serta mengambil keputusan. Mengubah cara-cara kita dalam bersikap dan bertindak.

Ya..
Frame hakikatnya adalah sebuah Operating System bagi komputer pikiran kita dan juga keseluruhan diri kita. “Mind and Body are One System” ~ Tubuh, Pikiran, dan juga perasaan adalah satu kesatuan.

Frame membentuk Mindset atau Pola Fikir kita. Dalam buku “The secret Of Mindset”, Adi W Gunawan, mengutip dari kamus elektronika menyebutkan mind-set terdiri dari dua kata : Mind dan set. Kata “mind” berarti “sumber pikiran dan memori; pusat kesadaran yang menghasilkan pikiran, perasaan , ide, dan persepsi, dan menyimpan pengetahuan dan memory”. Kata “Set” berarti ” mendahulukan peningkatan kemampuan dalam suatu kegiatan, keadaan utuh/solid”.

Mindset :
  1. kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang; sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berpikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap, dan masa depan.
  2. Sikap mental tertentu atau watak yang menentukan respons dan pemaknaan seseorang terhadap situasi.
Jadi mindset sebenarnya kepercayaan (belief), atau sekumpulan kepercayaan (set of beliefs), atau cara berfikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang. Pemikiran yang mendalam sehingga mencapai level yang di sebut dengan keyakinan. Mindset ini di bentuk dari apa yang masuk ke dalam diri kita selama bertahun-tahun.

Dengan kata lain, Mindset adalah pola pikir seseorang yang terbentuk karena pendidikan, pengalaman serta prasangka yang mempengaruhi pola kerja atau cara berfikir yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Mindset ini di bentuk dari apa yang masuk ke dalam diri kita selama bertahun-tahun dan terukir di dalam pikiran bawah sadar kita sebagai sebuah program pikiran yang mempengaruhi sikap, kata-kata, perilaku, pandangan hidup, dan bahkan kondisi kehidupan yang kita alami...

Seseorang melakukan sesuatu karena didorong dan digerakkan oleh pola pikirnya. Jadi, kalau kita mau merubah perilaku seseorang maka pola pikirnya dulu yang harus dirubah. Pola pikir berubah, perilaku pasti berubah!

Karena Mindset ini hakikatnya adalah sebuah Program Pikiran yang terletak di dalam pikiran bawah sadar. Maka untuk meng-Up Grade sebuah Mindset. haruslah di lakukan di dalam pikiran bawah sadar..

Masalahnya adalah, meskipun Anda tahu bahwa pikiran menentukan kualitas hidup, Anda tidak bisa dengan mudah mengubah pikiran Anda sendiri. Mungkin Anda sadar bahwa sekarang ini Anda merasa perlu “membenahi” pikiran Anda. Namun Anda tidak tahu atau belum bertemu cara yang efektif...

Oleh Karena itu, tidaklah heran jika dikatakan bahwa 3 % orang – orang yang berhasil dalam hidupnya secara signifikan adalah orang – orang yang benar – benar serius meningkatkan potensi dan kekuatan pikiran bawah sadarnya!
Walaupun makna ditentukan oleh frame, dan kita banyak memiliki frame yang ditentukan oleh lingkungan, bukan berarti hidup kita dikendalikan olehnya. Akan tetapi, dengan mengetahui Hukum-hukum Pikiran, Cara dan Proses berfikir, mekanisme dari cara kerja pikiran. Maka kita dapat menginterupsi dan mengintervensinya demi kepentingan kita sendiri. Kita dapat mengeset suatu frame terlebih dahulu untuk memunculkan sebuah makna tertentu sesuai outcome yang kita harapkan. Inilah Intisari dari Frame Game yang kita mainkan dalam praktek Neo Hipnotis.
Perhatikan kedua kalimat di bawah ini:
  • Sebagai orang tua, bagaimana Anda akan menanggapi masalah kenakalan remaja seperti ini?
  • Mencermati masalah kenakalan remaja seperti ini, bagaiamana Anda bisa membantunya sebagai seorang sahabat?
Anda bisa merasakan efek perbedaan perasaan yang muncul demi mendengar kedua kalimat di atas?

Contoh lain adalah dalam dunia sales:
  • Apakah memang Anda ingin mengorbankan keamanan dengan hanya membeli barang yang berharga murah?
Itu baru satu dua kalimat. Bagaimana dengan budaya?
  • Alon-alon waton kelakon
  • Adat basandi Syara, Syara’ basandi Kitabullah
Yak, budaya adalah frame yang terintegrasi. Kalimat-kalimat yang dijadikan pedoman hidup, ritual-ritual yang dijadikan kebiasaan, simbol-simbol, cara berpakaian, dll kesemuanya adalah frame yang menandakan suatu budaya tertentu dan membedakannya dari budaya yang lain. Apa yang akan Anda pikirkan jika melihat seseorang berjalan di pinggir jalan raya hanya dengan mengenakan penutup kemaluan? Orang gila, bukan? Ya, jika Anda melihatnya di jalanan kota seperti Jakarta. Tidak, jika Anda melihatnya di pedesaan Irian Jaya.

Bagaiamana pula dengan agama?
Aha, ini adalah frame yang amat luar biasa. Tidak saja ia mampu menjadi pedoman hidup bagi seseorang, ia bahkan mampu melintasi batas-batas wilayah dan budaya. Jika sebuah budaya bisa menjadi bahan pertengkaran antara beberapa suku, maka agama bisa menjadi titik peperangan antara beberapa bangsa. Sebaliknya, agama pun bisa menyatukan begitu banyak orang tidak peduli dari mana asalnya, warna kulitnya, ataupun bahasa yang ia gunakan.

Kita bersatu atau bertengkar karena makna. Kita sedih atau gembira karena makna. Kita susah atau senang karena makna. Kita sukses atau gagal karena makna. Kita menang atau kalah karena makna.

Kita adalah makhluk makna. Dan karena makna ditentukan oleh frame, maka kita pun adalah makhluk dengan frame.

OK, cukup bahasan filosofisnya. Lebih praktis sekarang.

Aplikasi Frame dalam Neo Hipnotis sangatlah berbeda dengan aplikasi Frame dalam NLP. Dalam Neo Hipnotis pengaplikasian Frame ini saya sebut dengan Framing. Yang mana digunakan untuk :
  1. Framing For Branding,  Imaging, & Seeding Idea.
  2. Framing For Connecting. 
  3. Framing For Locking People in A Frame.
  4. Framing For TranceHypnosis.
  5. Framing For TranceLogic Building,
  6. Framing For TranceFormation & Healing.
Penjelasan praktis dari masing-masing framing ini untuk lebih jelasnya akan saya sampaikan di Kelas Pelatihan Neo Hipnotis.

Namun sekedar sebagai gambaran, berikut ini saya kutipkan aplikasi Framing For Locking People in A Frame yang dilakukan oleh Pak Yan Nurindra di dalam salah satu pelatihan Hipnotisnya.

Pada sekitar tahun 2000an awal ketika Pak Yan Nurindra memulai pelatihan Hypnosis dan Hypnotherapy untuk publik, maka tentu saja terdapat variasi yang sangat luas dari latar belakang para peserta pelatihan, juga variasi dari ekspektasinya. Berbeda dengan hari ini dimana sebagian besar peserta pelatihan Pak Yan Nurindra adalah para Dokter dan Psikolog yang cenderung sudah “melek pengetahuan” tentang Hypnotism.

Pada saat itu cukup banyak paranormal yang mengikuti kelas Pak Yan Nurindra, dan juga mereka-mereka yang berharap memperoleh ketrampilan Hypnosis dengan cara yang “ajaib”, misalkan dengan cara di-inisiasi, di-isi, dsb.

Nah dapat dibayangkan kekacauan yang akan terjadi jika Pak Yan Nurindra tidak melakukan “Locking People in a Box” terlebih dahulu untuk menyamakan referensi.

Cara yang dilakukan Pak Yan Nurindra sangat sederhana. Setelah bertegur sapa, saling berkenalan di awal acara, maka Pak Yan Nurindra membingkai mereka dengan sebuah lontaran pernyataan :

“Selamat pagi semuanya. Senang sekali hari ini kita dapat berkumpul di sini untuk suatu pelatihan yang luar biasa. Saya yakin sekali bahwa semua yang hadir disini benar-benar mengharapkan pengetahuan dan ketrampilan Hypnosis dari sisi yang benar-benar ilmiah, jauh dari hal-hal yang terkait dengan mistis apalagi gaib. Ilmu pengetahuan sudah dapat menjelaskan fenomena Hypnosis dengan sangat ilmiah, dan telah meninggalkan aroma mistis yang mungkin lekat di jaman awal mesmerisme.”

“Bagaimana ? Setuju ?”

Ya tentu saja mereka semua dengan sukarela akan menjawab : “Setujuuuuuu !!!”. Dan merekapun “masuk” ke Box.

Dan percayalah, sejak saat itu, bahkan mereka yang “berangkat” dari keinginan untuk memperoleh “keajaiban” akan dengan sendirinya menjadi “sangat ilmiah”. Beres ….!

Referensi :
Yan Nurindra; http://lingkarnlp.com/frame-suatu-perangkat-ajaib-untuk-memenangkan-komunikasi/
Teddy Prasetya Y. ; http://idnlpsociety.wordpress.com/2007/09/18/frame-we-live-by/