ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 14 Februari 2014

SmackDown Ustadz Ngamuk (Fenomena Hipnotis Ustadz)

Saat ini lagi heboh diberitakan diberbagai media, mengenai seorang ustadz yang berinisial Hr. yang terekam kamera sedang ngamuk dan men-Smack Down seorang Tekhnisi Sound System dari acara ceramahnya. Untuk kasus ini, saya tidak akan mengulasnya di dalam artikel ini. Silahkan anda cari beritanya di Google. Pasti ketemu. Karena kasus ini lagi hangat-hangatnya dibahas di berbagai media dan jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter..

Dalam artikel ini saya hanya mengupas Fenomena Hipnotis yang melatar belakangi kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh beberapa tokoh terhormat seperti itu. Baik kekerasan Verbal ataupun kekerasan fisik. Dan bagaimana kasus yang seperti itu dapat terjadi. Dan bagaimana agar hal ini tidak terulang kembali di tengah masyarakat kita.

Bila ditinjau dari sudut ilmu hipnosis. Pintu yang digunakan oleh sebagian oknum ustadz untuk memasukkan nasehat mereka di tengah umatnya adalah Pintu Authority. Yaitu mengandalkan sosok Figur Otoritas yang mana dalam hal ini adalah sosok diri sang ustadz.

Dan karena keseringan menggunakan Pintu ini, sehingga sering terjadi sang tokoh Otoriter ini menjadi Mabuk Otoritas alias Mabuk Kekuasaan, dan menjadi mengamuk ketika Otoritasnya disenggol...  Yang artinya, para tokoh terhormat ini ternyata mentalnya tidak kuat memikul kursi yang dia sandang, sehingga egonya naik dan menjadi sombong.

Authority terkait dengan Otoritas atau suatu Daya Kuasa atau kekuasaan yang ada pada diri seseorang. Yang mana dengan otoritas yang ada dia kemudian menjelma menjadi sosok Figur Otoritas bagi orang lain. Dengan demikian dia dapat mempengaruhi, menguasai, dan bahkan mengendalikan orang lain. Dan dalam hal ini saya sedang tidak berbicara mengenai ilmu gaib lho...

Karena Authority atau Otoritas yang ada pada diri seseorang bisa jadi menjadi ada karena merupakan hasil dari suatu kesepakatan bersama, atau karena ada jabatan yang melekat padanya, atau karena unsur senioritas, dituakan, dipercaya, dll..

Secara natural, menurut Dr. Robert, manusia lebih mudah ‘patuh’ terhadap perkataan atau perintah dari orang yang ia segani atau kagumi yang merupakan sosok Figur Otoritas baginya.

Dalam ilmu Leadership, Max Weber mennyoroti Authority atau kewenangan  yang dimiliki seorang pemimpin dalam suatu organisasi sebagai berikut:

1. Rational legal authority
Kewenangan yang diperoleh seorang pemimpin karena tingkat posisi yang diduduki dalam organisasi.

2. Traditional authority
Kewenangan yang diperoleh seorang pemimpin karena kedudukan dalam kehidupan sosial masyarakat atau adat-istiadat.

3. Charismatic authority
Kewenangan yang diperoleh seorang pemimpin ini karena pembawaan pribadi atau keunggulan pribadi.

Dalam dunia pengetahuan, dikenal Empat cara pendekatan ilmu pengetahuan [Kerlinger 1973]
  1. Metode keuletan/kegigihan (method of tenacity)
  2. Metode kekuasaan (method of authority)
  3. Metode apriori/intuisi (method of intution)
  4. Metode ilmu pengetahuan (method of science)
Method of Authority
Kebenaran merupakan milik para pemegang otoritas. Kebenaran merupakan milik otoritas yang memiliki kekuasaan atau dianggap sebagai terpercaya.

Contoh :
  • Ketika seorang dokter (Figur Otoritas di bidang kesehatan), menyatakan bahwa "Manusia membutuhkan tidur minimal 8 jam perhari". pernyataan tersebut dianggap benar hanya karena dia seorang dokter (Yang terpercaya di bidang medis) menyatakan demikian.
  • Contoh lain, Ketika MUI sebagai pemegang otoritas Label Halal menyatakan sebuah product adalah "Halal", serta merta product tersebut akan diyakini kehalalannya karena MUI sudah berkata demikian.
Masalahnya adalah, apa yang dinyatakan dan dikatakan oleh Otoritas tidaklah selalu benar dan tidak mutlak kebenarannya. Kita perlu berfikir secara "Think Out of The Box" untuk mengetahui sebuah kebenaran dengan sebenar-benarnya.

Contoh :
Galileo dihukum oleh Gereja Katolik karena mendukung ide Heliosentris (Matahari sebagai pusat tata surya), sementara saat itu gereja mendukung penuh ide Geosentris (Bumi sebagai pusat Tata surya).

Authority Mind Programming
Authority Mind Programming adalah Salah satu metode alamiah untuk menginstal sebuah saran, nasehat, ide, atau sugesti agar menjadi suatu nilai baru (Program Pikiran) di dalam pikiran bawah sadar seseorang melalui sosok Figur Otoritas .

Masuknya sebuah Program pikiran di alam bawah sadar, pasti melalui salah satu, dua, tiga, atau semua cara dari kelima cara di bawah ini :
  1. Repetisi / pengulangan / pembiasaan / disiplin / wirid.
  2. Identifikasi Kelompok, Komunitas, atau Keluarga.
  3. Ide yang disampaikan oleh Figur yang dipandang memiliki otoritas.
  4. Emosi yang intens.
  5. Hipnosis (Alpha State)
Setiap upaya masuk ke kondisi hipnosis, baik itu waking hypnosis, self hypnosis, atau hetero-hypnosis, pasti mempunyai tiga komponen.

Pertama, orang yang melakukan hipnosis harus mempunyai otoritas, atau paling tidak dipandang sebagai figur otoritas di bidangnya. Ini adalah langkah awal untuk menembus atau membuka celah di critical factor pikiran sadar.

Setelah berhasil, dibutuhkan komponen kedua untuk membuat critical factor bersedia menerima informasi yang akan disampaikan. Critical factor akan bertanya, “Mengapa ini bisa bekerja?” Untuk bisa membuat critical factor “puas” maka digunakan salah satu dari tiga otoritas informasi berikut, yaitu doktrin, paradigma (teori atau model) dan trance-logic.

Setelah itu baru komponen ketiga digunakan yaitu message unit overload atau membanjiri pikiran dengan sangat banyak unit informasi sehingga pikiran menjadi overload.

Saat terjadi overload maka secara alamiah kita masuk dalam mode fight (lawan) atau flight (lari). Jika subjek melakukan fight (melawan) maka ia tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Saat subjek memutuskan untuk flight (lari) maka saat itu ia akan “masuk” ke dalam pikirannya, melarikan diri dari serbuan unit informasi yang begitu banyak, dan ia masuk ke kondisi hipnosis.

Mode Flight adalah tombol Penurut, sedangkan Mode Fight adalah Tombol pemberontak. Saat kita merasa tidak nyaman dengan nasehat orang lain, kita akan cenderung melawan atau resisten dan memberontak .

Nah, bila anda adalah tokoh masyarakat, public Figur, dan lain-lain. Itu artinya anda mempunyai otoritas untuk mempengaruhi orang lain. Namun peluang ini akan menjadi hilang tatkala anda secara tidak sadar atau secara tidak sengaja memicu tombol pemberontak yang ada di dalam diri seseorang. Sehingga yang muncul bukan lagi saran anda dipatuhi, tetapi akan timbul gelombang antipati terhadap anda...

Inilah sebenarnya fenomena yang yang terjadi dibalik kasus Hebohnya Ustadz Yang lagi Ngamuk. Dimana para ustadz ini kebanyakan terlalu mengandalkan Tekhnik Figur Otoritas atau Authority Programming ini untuk melakukan Transformasi diri pada umatnya. dan ketika tekhniknya tidak berhasil... Maka, ngamuklah dia.... Karena merasa otoritasnya tidak diakui.

Authority Programming, Membuka Gerbang Pikiran Bawah Sadar.

Mari kita lihat praktik atau ritual agama. Kita mulai dengan bentuk bangunan ibadah. Bagaimana bentuknya? Pasti berdiri tegak, besar, dan megah. Lalu, saat kita berada di dalam bangunan ini, bagaimana bentuk dan ketinggian plafon? Apakah rendah ataukah (sangat) tinggi dan megah? Sudah tentu plafonnya tinggi dan megah.

Apa tujuan atau efeknya terhadap diri kita?

Kita, secara sadar atau tidak, akan merasa kecil. Merasa tidak ada apa-apanya. Otoritas gedung ini, ditambah lagi kita tahu bahwa ini adalah tempat ibadah, membuat kita “takluk” dan “pasrah”. Lalu bagaimana dengan pemuka agama yang menyampaikan “pesan”? Dari mana mereka menyampaikan “pesan” mereka? Apakah mereka berdiri sejajar dengan umat ataukah lebih tinggi?

Sudah tentu lebih tinggi. Biasanya di atas mimbar khusus yang hanya diperuntukkan untuk orang-orang khusus. Ini juga salah satu bentuk otoritas. Begitu pikiran sadar kita melihat figur otoritas maka critical factor langsung terpengaruh dan mulai membuka.

Inilah langkah Authority Programming yang pertama, yaitu untuk membuka Critical Area dari pikiran sadar.

Lalu, apa yang digunakan untuk komponen kedua? Benar, sekali. “Pesan” yang disampaikan itu dikutip dari kitab suci, langsung menembus critical factor, dan masuk ke pikiran bawah sadar. “Pesan” ini biasanya dalam bentuk doktrin.

Inilah langkah Authority Programming yang kedua, yaitu Pendalaman atau deepening..

Bagaimana dengan komponen ketiga, message unit overload? Caranya adalah dengan menggunakan repetisi atau emosi. Saat sesuatu “pesan” disampaikan berulang-ulang atau suatu emosi berhasil digugah dan dibuat menjadi intens, baik itu emosi positif maupun negatif, misalnya kebahagiaan karena akan masuk surga atau kengerian dan ketakutan siksa neraka, maka semua unit informasi ini membanjiri pikiran dan menciptakan kondisi overload. Menggugah emosi bisa juga dengan melalui lagu-lagu dengan irama yang lembut dengan syair yang menghanyutkan perasaan atau dengan wangi-wangian tertentu.

Sekarang coba kita lihat ritual doa. Apa yang dilakukan umat sebelum berdoa? Apakah mereka akan ribut, cerita-cerita sendiri, ataukah mereka akan berlutut, diam, hening, dan memusatkan perhatian mereka pada doa yang akan diucapkan? Kondisi pemusatan perhatian ini sebenarnya adalah untuk masuk ke kondisi hipnosis, yang kalau dalam bahasa agama disebut dengan kondisi khusyuk. Setelah pikiran terpusat, hati tenang, barulah doa dibacakan atau diucapkan. Doa yang diucapkan ini sebenarnya adalah sugesti atau afirmasi. Jika doa ini diucapkan sendiri maka ia menjadi auto-suggestion melalui self hypnosis.

Dan inilah langkah inti dari Authority Programming yaitu Sugesti, afirmasi, Installation, ataupun Mind Programming.

Bagaimana doa dengan hanya membaca satu atau dua ayat tertentu dan diulang-ulang? Inipun sama saja. Dengan pemusatan pikiran terhadap doa yang dibacakan akan tercipta kondisi hipnosis (baca: khusyuk).

Bagaimana dengan latihan meditasi dengan objek pernapasan? Bagaimana dengan orang yang melakukan liamkeng atau berlatih meditasi dengan fokus pada suara yang timbul akibat ketukan pada alat bantu tertentu?

Semuanya sama saja. Intinya adalah adanya pemusatan perhatian atau fokus pada sesuatu objek dan adanya repetisi (Diulang-ulang / wiridan). Semua akan mengakibatkan kondisi overload yang akhirnya akan mengakibatkan kondisi hipnosis.

Banyak orang sangat ingin masuk ke kondisi khusyuk. Namun kondisi ini hanya bisa mereka capai sesekali saja. Tidak bisa diulang sesuai keinginan. Mengapa? Karena kebanyakan kita tidak mengerti mekanisme untuk masuk ke kondisi khusyuk ini. Kita selama ini hanya menggunakan cara trial and error. Ada yang bisa dengan sangat mudah menjadi khusyuk namun ia tidak bisa menjelaskan atau mengajarkan caranya kepada orang lain.

Sulitkah untuk menjadi fokus atau khusyuk? Sama sekali tidak. Justru bila kita tahu caranya kita bisa membuat diri kita khusyuk kapanpun dan di manapun dengan sangat mudah dan cepat.

Banyak orang yang saat berdoa, begitu khusyuknya, sampai merasakan keheningan luar biasa yang disertai perasaan gembira, bahagia, dan damai yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Sungguh pengalaman euphoria spiritual yang sangat luar biasa. Apakah ini ada hubungan dengan kondisi hipnosis? Sudah tentu. Kondisi ini mirip sekali dengan salah satu kondisi hipnosis yang sangat dalam, yang bila kita bisa masuk ke kondisi ini, kita akan merasakan perasaan bahagia, damai, dan luar biasa “enak”. Orang yang berhasil masuk ke kondisi ini biasanya ingin seterusnya berada di kondisi ini karena begitu luar biasanya perasaan mereka.

Kondisi hipnosis jugalah yang sebenarnya digunakan untuk membentuk, membangun, dan memperkuat belief seseorang terhadap doktrin suatu agama. Saat anak masih kecil basically mereka sangat sering berada dalam kondisi hipnosis secara alamiah. Bila doktrin agama diajarkan pada saat anak masih kecil maka efeknya akan sangat kuat.

Mengapa?

Karena saat masih kecil, usia 0-3 tahun, anak belum mempunyai critical factor. Saat usia 3 tahun critical factor baru mulai terbentuk dan akan semakin menebal dan kuat pada usia 8 tahun. Critical factor akan benar-benar tebal saat usia 11 tahun dan ke atas.

Agar doktrin benar-benar diyakini kebenarannya, dipegang dengan sangat kuat oleh seseorang maka doktrin ini harus masuk dalam bentuk belief yang dikaitkan dengan emosi yang sangat intens. Dan belief ini bila terus diperkuat, dengan berbagai repetisi, akhirnya menjadi faith atau iman.

Berikut saya kutipkan definisi faith dari kamus elektronika Encarta, “Faith: belief or trust: belief in, devotion to, or trust in somebody or something, especially without logical proof” atau “Iman: kepercayaan pada, kepercayaan yang sangat kuat pada seseorang atau sesuatu, biasanya tanpa bukti yang logis."

Belief yang sudah berhasil dibentuk, dibangun, dan diperkuat akhirnya akan mengkristal menjadi value, yang biasanya menempati level tertinggi dalam hirarki value seseorang. Dan untuk mengubah value ini, sangat-sangat sulit, jika tidak mau dikatakan tidak bisa.

Jadi bagi Anda yang memiliki figur otoritas, Anda punya peran penting dalam pembentukan keyakinan bahkan cara pandang hidup seseorang. Jadilah seorang figur yang bijak.

Jika Anda merasa telah terprogram oleh figur otoritas dengan program yang salah, maka saatnya Anda mengambil kendali atau tanggung jawab kehidupan Anda 100%. Tetapkan keputusan dalam diri Anda untuk tidak mengijinkan Anda untuk menerima ini lagi demi kebahagiaan dan kesuksesan hidup Anda.

Sumber Artikel : Authority Programming