ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 29 Juli 2014

Idul Fitri Tidak Mau Memaafkan

Mensikapi Orang Yang Tidak Mau Memaafkan di Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri adalah sebuah momentum Final bagi kita untuk membersihkan hati dari segala kekotoran hati yang terkait dengan hubungan dengan orang lain (Hablum Minannas), setelah satu bulan penuh di bulan Ramadlan kemarin kita membersihkan hati terkait hubungan kita dengan Allah swt (Hablum Minallah). Lalu bagaimana kita mensikapi orang-orang yang bersikap acuh dan tidak mau memaafkan kita di hari Raya Yang Suci ini. Simak tulisan saya di bawah ini.

Tulisan ini saya buka dengan pertanyaan seorang sahabat yang diajukan kepada saya via inbox Facebook.

Tanya : Mungkin ada pak master sedikit org yg tidak bisa memaafkan diri kita !

PADAHAL MUNGKIN DIA TAU MEMBERI MAAF ITU LEBIH MULIA DRI PADA MEMINTA MAAF ..

Singkatnya ,, kita menyadari diri kita salah trus meminta maaf ,, berkali " ,,padahal ini tulus dri hati ,, tetapi yg di mintai maaf gx mau memaafkan walaupun di hari raya yg fitri ini gmana MENURUT PANDANGAN MASTER ? ...

Jawab : Yang terpenting anda bisa memaafkan diri sendiri, soal orang lain mau memaafkan atau tidak, dari sudut pandang Psikologis itu ndak penting.... Karena yang terpenting adalah anda bisa berdamai dengan diri sendiri. Sedemikian hingga vibrasi Damai tersebut bergetar dan terpancar dari kepribadian anda. Dan dengan ikhlas maafkanlah orang-orang yang belum mau memaafkan anda. Kemudian lakukan Tips Self Forgiveness Therapy yang saya tulis di akhir tulisan ini.

Orang yang tidak mau memaafkan dalam sudut pandang Hukum Universal alam semesta, adalah seseorang yang di dalam hatinya masih menyimpan dendam, sakit hati, kecewa, amarah, dll... dan itu artinya dirinya bergetar di Zona Force... dan orang seperti ini telah berkomitmen untuk menyakiti dirinya sendiri dengan sikapnya itu... dan akibatnya adalah akan terjadi ketidak seimbangan di dalam medan energi orang tersebut. Yang akan menyebabkan terjadinya gangguan di dalam beberapa aspek kehidupannya. Misalnya muncul gejala penyakit yang tidak jelas asal-usulnya yang bila diperiksakan ke dokterpun, dokter tidak tahu penyebabnya. Atau boleh jadi juga aliran rejekinya yang makin sempit, dll.

“Membenci dan dendam kepada orang lain ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati” (Pepatah Cina Kuno)

Memaafkan itu tidak harus melupakan, memaafkan itu tidak berarti mengizinkan diri kita untuk disakiti kembali, dan sesudah memaafkan kita juga tidak harus seakrab dulu lagi... Bukankah kita tetap dapat bersikap baik terhadap orang yang tidak kita kenal...?

Prinsip memaafkan dalam Hipnoterapi :
1. Memaafkan bukan berarti melupakan
2. Memaafkan tidak harus memberitahukan
3. Memaafkan adalah untuk kenyamanan diri sendiri
4. Memaafkan bukan berarti menyukai orang yg telah berbuat salah
5. Memaafkan bukan berarti mengijinkan kembali kesalahan itu untuk terjadi

Jadi, terhadap orang yang pernah bersalah pada kita. Tempatkan saja dia di lingkaran terluar dari lingkaran pergaulan kita... Masukkan ke dalam kategori lingkaran orang luar / orang yang tidak kita kenal...

Yang penting dari "Memaafkan" adalah bersihkan hati dari segala emosi negatif... Karena memaafkan adalah untuk kebaikan diri sendiri..

Lihat Bagan kesadaran dari Sigmund Freud di bawah ini :



Salah satu cara menolak kejahatan adalah memberi maaf kepada orang yang berbuat salah. Memberi maaf merupakan ajaran Islam yang sangat mulia.

Memberi maaf termasuk kebaikan hati yang dapat menghindarkan diri dari permusuhan dan dendam yang tidak pernah padam.

"Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan juga tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fushshilat [41]: 34-35)

Menurut Ibn Al-Qayyim, hakikat memberi maaf adalah menggugurkan hak untuk membalas dendam atau melawan karena kemurahan hati yang bersangkutan, meskipun ia dapat melampiaskan dendam dan permusuhannya.

Jadi, pemaaf adalah orang yang tidak mengambil haknya untuk menyakiti, mencaci maki, memusuhi orang lain yang telah menzhaliminya, meskipun ia sanggup melakukannya.

Orang yang bermurah hati seperti itulah yang dijanjikan oleh Allah SWT pahala (kebaikan dunia dan akhirat). "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya (menjadi tanggungan) Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim." (QS.. Asy-Syura [42]: 40).

Memaafkan adalah puncak kemuliaan hati orang yang disakiti atau dizhalimi. Dalam sejarah Islam, pemberian maaf (pengampunan) tidak hanya menarik simpati musuh-musuh Islam untuk memeluk Islam, tetapi juga menunjukkan betapa keluruhan Islam dibangun atas fondasi kemanusiaan yang kokoh: persaudaraan, persatuan, perdamaian, dan toleransi.

Musthafa as-Siba'i, dalam bukunya, Min Rawa'i Hadharatina (Di antara Pesona Peradaban Kita), menyatakan memberi maaf adalah kata kunci rekonsiliasi dan sinergi potensi umat manusia.

Ingatlah bagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan orang-orang kafir Quraisy yang dalam kondisi kalah dan bersalah saat terjadi fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah).

Beliau bertanya kepada mereka: "Apakah kalian mengira bahwa aku akan melakukan balas dendam terhadap kalian?" Mereka menjawab: "(Kami berharap engkau) berbuat yang terbaik untuk kami, wahai saudaraku." Nabi SAW pun memberi pengampunan massal: "Pergilah kalian, kalian semua itu bebas (tidak ada yang dihukum)!"

Memberi maaf itu tidak selalu mudah karena kadar kesalahan orang lain terhadap kita ada yang besar (sulit dimaafkan) dan ada yang kecil.

Prinsip utama bagi yang bersalah, terutama kepada sesama, adalah meminta maaf dan sekaligus mengembalikan hak-hak yang pernah diambilnya secara tidak halal kepada yang berhak. Sedangkan kewajiban sebagai Muslim adalah memberi maaf kepada orang pernah bersalah kepadanya.

"Allah tidak menambah seorang hamba karena mau memberi maaf melainkan kemuliaan; dan tidaklah seseorang yang bersikap rendah hati di hadapan Allah melainkan akan diangkat oleh Allah derajatnya." (HR.. Abu Daud).

Memberi maaf juga termasuk sifat orang bertaqwa (QS.. Ali Imran [3]: 133), dan sekaligus merupakan manifestasi dari sikap meneladani sifat Allah yang Maha Penerima taubat, Pemaaf, dan Pengampun.

Belajar memaafkan kesalahan orang lain sejatinya merupakan manifestasi dari seni menikmati hidup bahagia. Alangkah menderita dan tersiksanya, jika seseorang terus-menerus menyimpan rasa dendam kepada orang lain.

Alangkah sengsaranya jika hati diberati rasa emosi dan amarah yang tidak berkesudahan. Belajar memaafkan jauh lebih mulia daripada menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Karena itu, hidup ini akan lebih indah jika ungkapan tiada maaf bagimu diubah menjadi aku sudah maafkan semuanya.

Memaafkan bukan berarti menafikan penegakan hukum dan keadilan, melainkan mengedepankan moral kemanusiaan. Mereka yang terbukti bersalah secara hukum harus ditindak tegas.

Jika hukuman sudah dijalani dan yang bersangkutan sudah menyadari kesalahannya, maka dosa sosial dan moralnya perlu dimaafkan. Jadi, kita semua perlu terus belajar menjadi arif, agar kita tidak mudah terjebak dalam kemarahan permanen.

Dalam banyak penelitian disebutkan mengenai manfaat Nyata Dari Memaafkan, diantaranya adalah :
• Kemarahan mereda
• Stress berkurang
• Tekanan darah jadi lebih normal
• Tekanan jantung menurun
• Lebih bersahabat
• Hubungan menjadi lebih sehat
• Meningkatkan kesehatan jiwa dan raga
• Mengurangi rasa nyeri punggung yang akut
• Memiliki keterampilan mengelola kemarahan yang lebih baik
• Dan seribu satu manfaat lainnya

TIPS SELF FORGIVENESS THERAPY
Meminta maaf dan juga memaafkan orang lain terkadang lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri... dan sesungguhnya, saat kita ber-Istighfar memohon ampun kepada Allah swt, itu adalah saat yang tepat bagi kita untuk memaafkan diri sendiri...

Langkah-langkah untuk berdamai dengan diri sendiri :
  • Lakukan Tafakur sejenak,
  • Kemudian lakukan dialog diri, Maaf memaafkan untuk diri sendiri...
  • Hadirkan bagian diri yang bersalah, Mintalah maaf dan sekaligus Berikan maaf dan pengampunan untuk diri sendiri....
  • Akhiri dengan bersalaman atau berangkulan antara bagian diri.
  • Bila ini melibatkan orang lain, maka hadirkan secara imajiner orang tersebut.
  • Kemudian lakukan proses Maaf dan memaafkan, dan akhiri dengan bersalaman atau berangkulan.
  • Kemudian hadirkan bagian diri yang bijaksana dan bersifat spiritual untuk memberikan fatwa dan nasehat buat diri sendiri untuk mengambil hikmah...
  • Dan terakhir, lakukan komitmen terhadap diri sendiri untuk meniti kehidupan yang lebih baik di masa mendatang... Serta bayangkan kehidupan anda di masa mendatang penuh dengan kedamaian dan harmoni.
  • Akhiri Tafakur anda.
Insya Allah, semua beban di hati akan sirna... Semoga bermanfaat...

Bila anda merasa artikel ini bermanfaat, silahkan bagikan tulisan ini ke sahabat anda. Terima Kasih..