ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 13 November 2014

Hipnosis dalam Ruqyah Syar'iyah & Futuwwah

Saya sangat menyayangkan tidak adanya Jiwa Futuwwah (Jiwa Ksatria) dalam diri beberapa Praktisi Ruqyah Syar'iyah. Banyak diantara mereka yang tidak jujur dalam memperjuangkan kebenaran yang mereka anut. Mungkin hal itu disebabkan karena mereka telah terlalu lama berjalan di atas jalan kemunafikan dan kebohongan. Menghalalkan segala cara untuk menang, sehingga tanpa sadar telah terlepas dari jalan kebenaran yang mereka suarakan.

HIPNOSIS DALAM RUQYAH
Tampaknya, beberapa praktisi Ruqyah kebakaran jenggot juga ketika saya mengkritisi praktek ruqyah di dalam artikel yang berjudul "Mengapa Pasien Kesurupan Saat Di Ruqyah".... Yang mana hal itu terjadi karena di dalam Praktek Terapi Ruqyah aliran yang manapun saja. Ternyata juga mengandung struktur hipnosis.

Karena sudah menjadi kebiasaan dari para praktisi Ruqyah, kalau mereka itu suka banget upload video sesi terapi Ruqyah Klien yang berasal dari praktisi lain yang lagi kesurupan saat diterapi ruqyah.... Lalu dijadikan hujjah bahwa praktek dari metode lain itu sesat... Karena buktinya bisa kesurupan... Hadddeeeeh... Lha wong mereka sendiri kalau diterapi yo masih bisa kesurupan gitu kok.....

Kesurupan itu belum tentu karena terpengaruh oleh faktor jin dan setan... Boleh jadi itu hanya sekedar luapan beban emosi saja... Yang disebut abreaksi... Itu adalah fenomena biasa dalam Terapi yang berbasiskan kondisi Trance.. Jadi, jangan lebay dan suka mendiskreditkan metode lain.. Hanya karena mengalami abreaksi saat terapi....

Sebagian praktisi ruqyah itu sadar dan menyadari bahwa tekhnik ruqyah juga mengandung ilmu hipnosis, hanya saja mereka tidak mau mengakui hal ini... [ http://goo.gl/zQNked ]

Istilah Hipnosis memang yang menemukan adalah orang barat non muslim, tetapi fenomena hipnosis itu sendiri adalah bersifat universal... Semua manusia pernah mengalami kondisi hipnosis... Yaitu sebuah kondisi dimana otak kanan lebih aktif serta elemen-elemen pikiran bawah sadar juga lebih aktif..

Misalnya,
saat anda khusyu' berdoa, itu juga kondisi hipnosis..
Saat anda khusyu' berzikir, itu juga kondisi hipnosis..
Saat anda fokus ke satu hal dan mengabaikan hal yang lain, itu juga kondisi hipnosis...
Saat anda kesurupan saat di ruqyah, itu juga kondisi hipnosis..
Saat anda khusyu' mendengar bacaan ruqyah, itu juga kondisi hypnosis..
Saat baginda sayyidina Ali tidak merasakan kesakitan ketika panah yang menancap ditubuhnya dicabut karena beliau khusyu' dalam sholat, itu juga kondisi hypnosis.
Saat para pasien ruqyah menerima saran dan nasehat seorang peruqyah dengan patuh, itu juga kondisi hipnosis.
Saat seseorang menangis tersedu-sedu ketika diterapi ruqyah, itu juga kondisi hypnosis.

Silahkan sebutkan semua tanda-tanda orang yang masuk dalam kondisi terapi ruqyah..? Maka, boleh dikatakan itu semua adalah kondisi Hypnosis State (Trance). Karena faktanya terapi Ruqyah memang termasuk sebuah terapi yang berbasiskan Kondisi Trance. Dan Ruqyah menurut saya memang termasuk salah satu tekhnik Hipnoterapi. Yaitu terapi yang berbasiskan kondisi Hypnosis (Trance).

Bukankah sebuah sesi terapi ruqyah tidak akan memperoleh hasil yang maksimal bila pasien menolak untuk diruqyah, pasien tidak khusyu', pasien tidak mau mendengar saran dan nasehat anda.. Betul..?

Itulah sebabnya, walaupun anda tidak pernah belajar hipnosis. Tidak berarti anda tidak bisa hipnosis dan tidak bisa menghipnotis orang lain. Karena faktanya Anda sendiri dan kita semua juga sering mengalami kondisi hypnosis. Dan anda juga sering membantu serta mengajari orang lain memasuki kondisi hypnosis..

Karena hypnosis itu fenomena alamiah.. Dan anda boleh saja menolak istilah hipnosis, namun anda tidak bisa menolak fenomena hipnosis. Karena hipnosis adalah bagian dari diri kita.. Dan itulah faktanya...

Dan hipnosis itu termasuk juga fenomena alamiah Yang merupakan tanda-tanda kebesaranNya juga... Jadi mengapa harus ditolak dan dibenci setengah mati...?

Islam adalah Agama....
Islam bukan Budaya..

Oleh sebab itu Agama islam dapat bersinergi dengan budaya dari negara manapun, dan dengan bangsa apapun...

Orang melayu tetaplah boleh berbudaya melayu, dan beragama Islam,
Orang Jawa tetaplah boleh berbudaya Jawa, dan memeluk agama Islam...
Orang arab tetaplah boleh berbudaya arab, dan beragama Islam.....

Jadi jangan mengidentikkan Budaya dengan agama... Yang arab biarlah berbudaya arab, karena dia memang orang arab.. Tetapi janganlah memaksa orang jawa agar berbudaya seperti budayanya orang arab.. Karena orang jawa bukan orang arab... dan memang kita tidak harus ke arab-araban agar dapat menghayati agama Islam ini dengan baik.

Ghazwul Fikri..?
Islam tidak akan berkembang ketika Sifat Licik dan tidak menghargai orang lain masih terus ditumbuh kembangkan... Kemana-mana berkoar-koar anti amerika dan yahudi, tetapi cara perjuangannya serta strategi perangnya meniru orang amerika dan yahudi... Penuh kelicikan serta tipu muslihat.

Setiap hari menyuruh waspada terhadap Ghazwul Fikri dari Yahudi, tetapi setiap hari melakukan hal yang sama terhadap sesama Muslim... Melakukan perang pemikiran terhadap sesama saudara seiman seagama.. menganggap golongannya sendiri yang paling benar.. dan semua golongan yang lain sebagai Ahlul Bid'ah... Bukankah itu juga sebuah strategi Ghazwul Fikri..?

Futuwwah (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Jiwa Ksatria dalam Islam disebut sebagai Futuwwah Oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah....

Dan yang namanya Satria dimanapun sama saja, tidak berjiwa pengecut dan juga menghargai lawan.. tidak ada jiwa Munafik dalam diri seorang ksatria.. Menggunakan Hipnosis tetapi tidak mengakui serta menolak hipnosis... Itu namanya tidak ksatria.. Pembohongan publik itu namanya...

Jihad itu karena Allah swt, dan bukan karena memperturutkan Hawa Nafsu, Emosi dan angkara murka serta menghalalkan segala cara demi meraih kemenangan.Menghalalkan segala cara untuk menang itu bukanlah jiwa seorang muslim, itu jiwa yang sedang ditunggangi oleh syetan dan nafsu.

Bukankah anda masih ingat bagaimana sejarah Sayyidina Ali di medan perang yang tidak jadi membunuh musuhnya dikarena musuh tersebut meludahi wajah beliau yang menyebabkan beliau marah..? Beliau tidak membunuh musuh, karena beliau sedang marah. Dan beliau tidak mau menodai Jihad Fisabilillah yang dilakukan itu dengan hawa nafsu amarah. Sayyidina Ali berperang dan membunuh musuh itu karena Allah swt, dan bukan karena Marah. Itulah sebabnya beliau tidak mau membunuh musuh ketika sedang marah. Sudah jelas bukan..???

Lalu bagaimana dengan spirit jihad yang anda lakukan..? Karena marah, dendam kesumat, ataukah karena Allah swt..? Silahkan introspeksi diri..

Sikap yang dikandung nilai-nilai futuwwah antara lain : keberpihakan kepada kebenaran, kejujuran, keberanian, kebebasan, dan kasih sayang.

Keberpihakannya kepada kebenaran menyebabkan dirinya tenggelam dalam upaya-upaya kemaslahatan. Tidak henti-hentinya, ia menyampaikan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Untuk memperkokoh keberpihakannya kepada kebenaran (ash-Shiddiq), dia sibukkan dirinya dalam menggali pengetahuan dan tak henti-hentinya melatih diri untuk mendapatkan kecemerlangan kalbunya, sehingga tampak sikapnya yang santun, lembut, mempunyai integritas (iffah), dan terjun dalam gelombang kehidupan yang nyata. Hidupnya penuh dengan debu perjuangan, tangguh, dan tidak mengenal kata “berhenti”. Bagi mereka, kata berhenti hanya ada di pekuburan yang sepi. Mereka adalah garam kehidupan yang memberikan makna tanpa mengharapkan tepukan atau pujian manusia.

Ciri lain seorang futuwwah adalah kejujurannya. Sikap awal dari Rasulullah Saw adalah penampakannya sebagai orang yang jujur terpercaya (al-Amin)–namun dalam diri kita, sikap teladan kejujuran ini telah mulai lindap ditelan oleh angkara hawa. Banyak orang yang tersungkur dalam perbudakan dunia karena mereka tidak mempunyai nilai kejujuran tersebut. Mereka bergembira dalam pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Sikap ini tidak mungkin berada dalam jiwa seorang ksatria.

Sikap seorang futuwwah, dirinya merasa dimonitor kamera Ilahiah, sehingga rasa takutnya hanya kepada Allah telah melahirkan keberanian moral. Sikap jujur yang melahirkan keberanian, kemudian mengukir kalbu para pribadi futuwwah menjadi manusia yang merdeka dan memberikan makna pada makhluk lain sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Seseorang belumlah disebut memiliki futuwwah selama di dalam kalbunya masih ada rasa dendam kesumat, karena sikap ini menunjukkan sifat seorang budak yang belum sampai pada kelezatan kemerdekaan sebagai hamba Allah.

Mana mungkin seseorang disebut sebagai merdeka selama di dalam kalbunya penuh dengan bara angkara.

Jiwa ksatria adalah jiwa “fastabiqul khairat” untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Dalam mencapai kemuliaan tersebut, dia tidak mempunyai perhitungan lain kecuali menggapai tujuan yang paling puncak, yaitu pengorbanan untuk Allah semata-mata, sehingga terasa dirinya menjadi semakin dekat dengan-Nya (qurbah). Taqorruban Ilallah...

Wallahu A'lam..
SALAM SUKSES UNTUK ANDA SEMUA

Edi Sugianto
(Founder NAQS DNA Institute)
Hp : 081 231 649 477
Pin BB : 7CCD0CA5
Twitter : @edi5758
FB : https://www.facebook.com/haryopanuntun
Web : www.NAQSDNA.com

Referensi : Futuwwah