Cara Komunikasi dengan Anak Autis

Saya seorang ibu yang mempunyai anak kebutuhan khusus usia 20 tahun. Anak gadis saya sebenarnya sudah hampir dewasa tapi dia ini sangat emosional dan mempunyai rasa percaya diri yang sangat kurang serta sangat impulsive. Berbagai theraphy saya coba dan alhamdulillah beberapa sangat membantu sehingga Alya anak saya dapat mengikuti kegiatan akademi dengan baik. Sampai saat dia menginjak usia puber dan duduk di bangku SMA, Alya mulai melawan bahkan kabur lari dari rumah hingga saya bawa dan sekolahkan di pesantren abah anom - Suryalaya.

Setelah lulus SMA, dan selesai pesantren dia kembali ke rumah namun ternyata perlawanan dan tindakan emosionalnya kembali lagi. Dalam keadaan bingung jujur saya mohon petunjuk Allah SWT dan tanpa sengaja saya menemukan Workshop Trance Immersion dari Guru. Saya tidak terlalu tahu apa konten dari workshop tersebut tapi ada tarikan hati yang kuat untuk mendaftar. Pemikiran saya "Ini bagus untuk melapangkan hati saya, menguatkan dan self healing". Ternyata saya dapat juga materi gendon.

Tadinya sebelum workshop
saya takut lho Guru apa itu gendam-gendam. Lalu di grup Guru bertanya kenapa tidak pada ikut Gendon ya para calon peserta, ya saya jawab belum sempat pak. Tapi jujurnya saya sedikit ada rasa takut. Lalu sekitar 3 minggu sebelum workshop saya buka materi online dan terbukalah mata hati saya, betapa saya tidak paham. Ini sama sekali bukan jin dan setan-setan, Guru dan materinya membawa saya dekat pada Allah SWT.

Saya mulai ikut kelas basic gendon dan meditasi yang diajarkan sangat bermanfaat untuk release, dan menjadi lebih ikhlas. Guru mengajarkan saya untuk suwung atau ikhlas kembali ke nol dihadapan Allah SWT.

Saya menjadi lebih sabar dan paham bahwa komunikasi itu 90% tidak pakai mulut. Untuk komunikasi hati harus bicara, mind yang bicara - saya selama ini memaksa bicara pada Alya. Saya yang tidak pernah berupaya menembus reptilian brainnya hanya mengandalkan 10% komunikasi langsung yang tentu sulit dipahami anak autis dan membuatnya frustasi.

Tanggal 3 November pun datang, saya bertemu Guru, para Embah pembimbing dan teman2 peserta yang Alhamdulillah menjadi saudara saya. Pulang dari workshop saya praktek dan praktek lalu sujud syukur... kalau merry kucing saya, burung bisa saya komunikasikan, supir grab yang lelah bisa saya sabda. Alya lebih lagi, saya tidak perlu lagi frustasi atau marah-marah. Setiap Alya ngambek saya atur nafas dan saya centering tingkatkan vibrasi saya. Lalu saya sabda 1 kata kadang paham, kadang menggunakan nurut atau kata lain. Tapi saya lakukan visualisasi juga saya memeluknya dengan syukur. Dan hampir selalu dia melunak dan menghampiri.. "hi mama maafkan," dan memeluk saya.

Meditasi syukur, meditasi unconditional love juga Nur Alif adalah favorit saya. Terima kasih Guru, sudah sebulan ini saya intens praktek dengan Alya. Bahkan memanggil dari ruangan yang berbeda tanpa suara atau memintanya untuk melakukan sesuatu di rumah sedang saya berada di kantor kerap saya lakukan dan Alhamdulillah dia paham. Alya tidak sadar bahwa saya bicara dengan cara yang lain. Bahkan dia mengungkapkan syukurnya melalui Whatsapp yang saya capture sebagai semangat bagi seluruh keluarga NAQSDNA.


Terima kasih Master Guru, dan Para Embah NAQSDNA. Juga seluruh rekan2 seperguruan.

Dikisahkan di WA Group Alumni workshop.naqsdna.org
Date : Minggu, 25 November 2018

Oleh :
Nama : Retno Wulan
Profesi : Pegawai Swasta & Therapist Accupressure
Kota : Jakarta

*

Salam


Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.com l dnasukses.com




Ps.
*

ads

Terima Kasih sudah membaca Cara Komunikasi dengan Anak Autis. Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.
Cara Komunikasi dengan Anak Autis Cara Komunikasi dengan Anak Autis Reviewed by Edi Sugianto on 13.03 Rating: 5

Tidak ada komentar:


kelas Gendam Online
Diberdayakan oleh Blogger.