ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 05 Juni 2013

Ghazwul Fikri, Mind Control, Hipnotis Massal, & Subliminal Message

Invansi / serangan pemikiran atau dalam bahasa jawa disebut GENDAM dan bahasa arab dinamakan ghazwul fikri dan dalam bahasa inggris disebut dengan brain washing, thought control, Mind Control, Covert Hypnosis, Conversational Hypnosis, Hipnotis Massal, Public Speaking, Hypnotic Campaign, dll. Sesungguhnya merupakan aplikasi lebih lanjut dari tekhnologi Hypnotic Communication, komunikasi yang efektif untuk menjangkau alam pemikiran bawah sadar untuk suatu Outcome atau tujuan tertentu. Tekhnologi ini adalah suatu tekhnologi yang bebas nilai atau netral. Betapa Komunikasi memiliki kekuatan, dia bisa menjadi energi yang menggerakkan kebaikan-kebaikan jika berada di tangan orang yang baik, dan menggerakkan energi keburukan serta kejahatan bila digunakan oleh orang yang jahat.

Komunikasi melalui kata-kata itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Kita bisa sakit karena kata-kata, bisa berkonflik karena kata-kata Akan tetapi kita juga bisa menyelesaikan masalah dengan perspektif komunikasi, yaitu dengan kata-kata,” ujar dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Dr. Antar Venus, MA Comm.

Menurut pengajar Filsafat Komunikasi ini, komunikasi juga memiliki kemampuan mengubah perilaku, karakter, kebiasaan manusia, sekaligus dapat menyembuhkan fobia dan trauma. Bidang penyembuhan melalui komunikasi ini dikembangkan dalam bidang komunikasi terapeutik yang juga ia geluti saat ini. Di bidang yang masih jarang dipelajari di Indonesia ini, ia mempelajari berbagai proses penyembuhan melalui komunikasi antara lain melalui hypnosis. “Komunikasi itu harus memberi inspirasi dan membuat kehidupan kita lebih baik. Hal ini antara lain yang dapat kita peroleh dalam komunikasi terapeutik,” jelasnya. Di bidang Komunikasi Terapeutik ini Venus kerap diminta menjadi instruktur utama pelatihan Komunikasi Terapeutik di berbagai lembaga/asosiasi profesional bidang kesehatan seperti Persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), dan berbagai rumah sakit di Indonesia.(http://www.unpad.ac.id/profil/dr-antar-venus-ma-comm-kata-kata-itu-memiliki-kekuatan-luar-biasa/)

Namun sayangnya, hal ini kurang difahami serta disadari oleh Beberapa sahabat muslim yang justru malah menjadi paranoia dan ketakutan mengenai hal ini, dan alih-alih mereka mempelajarinya sehingga dapat digunakan sebagai alat yang tepat untuk menunjang misi Islam Yang Rahmatan Lil alamin, tetapi malah digunakan sebagai alat untuk menebar teror ketakutan di kalangan mereka sendiri dan menghimbau anggotanya untuk menjauhinya dengan mengharamkannya serta berbagai tuduhan sesat lainnya. ghazwul fikri dilawan dengan ghazwul fikri. Apakah hal ini dapat membuat mereka terhindar dari serangan pemikiran yang menggunakan tekhnology ini, dan membuat mereka menjadi aman...?? Tentu tidak... Justru karena mereka tidak tahu, maka mereka akan menjadi sasaran empuk bagi fihak yang menggunakan tekhnology ini untuk memanipulasi dan mengendalikan pemikiran mereka.

Sebenarnya mereka akan dapat terhindar dan dapat membentengi diri dari serangan ghazwul fikri dengan baik, bila mereka memahami dan mempelajari apa itu Hypnosis atau HIPNOTIS, dan mekanisme kerja dari pikiran, Khususnya PIKIRAN BAWAH SADAR.

A. Pengertian Ghazwul Fikri (GF) yang berkembang di tengah sahabat muslim

Ø Secara Bahasa
Ghazwul Fikri terdiri dari dua suku kata yaitu Ghazwah dan Fikr.
  • Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. 
  • Sedangkan Fikr berarti pemikiran. 
Jadi, menurut bahasa Ghazwul Fikri adalah serangan atau serbuan didalam qital (perang) atau Ghazwul Fikri secara bahasa diartikan sebagai invansi pemikiran.

Ø Secara Istilah
Secara istilah, Ghazwul Fikri adalah penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal – hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal – hal yang tidak islami.

B. Makna Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF))
Invansi / serangan pemikiran atau dalam bahasa arab dinamakan ghazwul fikri dan dalam bahasa inggris disebut dengan brain washing, thought control, menticide adalah istilah yang menunjukkan kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur oleh musuh – musuh islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin. Hal ini mereka lakukan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk menjajah / mengeksploitasi sumber daya milik kaum muslimin.

C. Kelebihan – Kelebihan Invansi Pemikiran (Ghazwul Fikri (GF))
Invansi pemikiran atau ghazwul fikri (GF) dilakukan oleh para musuh islam dengan pertimbangan – pertimbangan bahwa dibandingkan dengan melakukan peperangan militer atau fisik, maka ghazwul fikri (GF) memiliki kelebihan – kelebihan sebagai berikut :

Aspek | Perang Fisik | Ghazwul Fikri
Biaya | Sangat mahal | Murah dan dikembalikan
Jangkauan | Terbatas di front | Sampai ke rumah - rumah
Obyek | Obyek merasakan | Sama sekali tidak merasa
Dampak | Mengadakan perlawanan | Menjadikan idola
Persenjataan | Senjata berat | Slogan, teori, iklan

Subliminal Message
Penglihatan subliminal (bawah sadar) adalah sebuah proses yang disengaja yang dibuat oleh teknisi komunikasi, dimana anda akan menerima dan menanggapi informasi dan instruksi tersebut tanpa menyadarinya. Pesan-pesan yang berada didalam kata-kata yang di cetak, gambar-gambar atau bahkan suara-suara yang disajikan atau diperkenalkan entah sangat cepat atau sangat tersamar melewati kesadaran dan kewaspadaan anda. Sesuatu yang terasa secara sadar dapat dievaluasi, dikritiki, didiskusi, dibantah dan mungkin saja ditolak. Sesuatu yang terprogram secara subliminal untuk alam bawah sadar tidak menemui halangan. Informasi subliminal ini disimpan didalam otak anda dan mampu mempengaruhi pertimbangan, kelakuan dan tingkah laku.

Penggunaan teknik subliminal dalam media komunikasi cetak sudah ada di Amerika Serikat paling sedikit sejak periode perang dunia pertama. Sebagai contoh, Sampul Norman Rockwell yang pertama pada The Saturday Evening Post selama 1917 menyatukan tempelan SEXes. Kapanpun sebuah kata tempelan atau gambar secara tidak sengaja terlihat secara sadar, para pembaca akan menganggapnya sebagai lelucon, sebuah kebetulan atau hasil dari imajinasi mereka.

Percobaan iklan serius dengan memberikan pesan subliminal telah dipimpin pada pertengahan 50-an. Pada 22 Juni 1956, the British Broadcasting Corporation (BBC) mencoba memproyeksikan gambar-gambar subliminal pada televisi. Gambar-gambar tersebut terlintas dilayar kaca terlalu cepat untuk dilihat secara sadar, tetapi mereka mereka telah melakukan sebuah pengaruh pada alam bawah sadar. Percobaan BBC dikuti oleh percobaan-percobaan oleh Canadian Broadcasting Corporation, Mexico’s Televisa Commercial Tv and Radio Network, US TV Station WTWO di Bangor dan ada banyak lagi.

Percobaan-percobaan tersebut tidak hanya pada televisi. Pada tahun 1958, Stasiun Radio WAAF di Chicago memancarkan iklan “subaudible” (suara yang tak terdengar secara sadar). Seattle’s KOL membalut pesan-pesan yang sulit terdengar “dibawah” permainan musik oleh disjoki (DJ). “Bagaimana dengan secangkir kopi?” adalah salah satunya, dan “Seseorang di depan pintu” adalah yang lainnya. Pada tanggal 8 Desember 1972, the New York Times melaporkan bahwa in-Flight Motion Pictures, inc sudah mulai menjual iklan subliminal yang ditempel di film-film yang mereka edarkan kepada seluruh maskapai penerbangan utama. Supermarket-supermarket lintas Negara mengalami penurunan tingkat pencurian sekitar 30-50% karena pemancaran pesan-pesan subliminal seperti “Saya tidak akan mencuri” dan “Kami sedang mengawasi anda”. Stimutech, Inc dari East Lansing, Michigan memasarkan sebuah sistem video computer yang memberikan pesan-pesan subliminal pada televisi anda sementara anda menonton tayangan rutin. Pesan-pesan subliminal disiapkan oleh kelompok ahli jiwa (psikolog) yang menggunakan ide Freudian untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku dari si pelihat.

Percobaan paling dikenal yang memiliki pesan subliminal dipimpin oleh seorang psikolog dan ilmuwan pemasaran, James Vicary pada tahun 1957 selama penayangan film Picnic. Setiap lima detik, kata-kata “Lapar? Makanlah Popcorn. Minum Coca Cola” ditayangkan dalam waktu 0.003 detik. Luar biasa cepat. Apa yang anda lihat pada gambar, sebagai contoh, ditayangkan dalam 0.04 detik. Penjualan popcorn dan Coke di teater New Jersey meningkat masing-masing 57.8% dan 18.1%. Banyak sekali peneliti-peneliti ilmiah mengikuti percobaan-percobaan ini menegaskan tanpa keraguan bahwa pesan subliminal bekerja. Ketika industri periklanan dan agen-agen pemerintahan memahami potensi dari pesan subliminal ini, mereka mulai menginvestasikan jutaan uang dalam mengembangkan dan menyempurnakan teknik-teknik subliminal, yang dapat digunakan bukan hanya untuk pemasaran, tetapi juga untuk propaganda dan kendali pikiran. Pada tahun 1962, Vicary tiba-tiba mengakui bahwa dia mengarang hasil dari percobaan nya ... Mengapa seseorang mendiskreditkan dirinya sendiri sedemikian rupa dan menghilangkan martabat dan kredibilitasnya? Hal ini jelas bahwa dia dibayar untuk melakukan itu oleh mereka yang menggunakan pesan subliminal untuk memanipulasi Anda. Ingat kutipan dari "Tersangka yang terlihat biasa": Trik terbesar si Iblis yang pernah ditarik yaitu meyakinkan dunia bahwa dia tidak pernah ada ... itulah trik tepat yang mereka coba tarik, I.E meyakinkan dunia bahwa teknik subliminal itu tidak bekerja. Dan mereka melakukan pekerjaan bagus yang cantik. Ada banyak sekali orang yang menolak untuk mempercayai bahwa sebuah teknologi rahasia yang mengubah tingkah laku secara terselubung, menyalurkan pokok-pokok nilai dasar, mengelola motif manusia dan mengendarai mereka ke dalam perilaku patologis untuk kepentingan struktur kekuasaan tertentu telah ada dan digunakan secara luas selama beberapa dekade atau bahkan lebih. Mereka akan memanggilmu gila jika engkau berani mengatakan sesuatu seperti itu namun pesan-pesan subliminal tetap menyerang anda terus-menerus setiap hari, melalui buku-buku, film-film, majalah-majalah, televisi, radio dan musik. Setiap Koran umum, setiap poster, setiap majalah di Amerika memiliki pesan-pesan subliminal yang tertempel di dalamnya.

Jadi, bagaimana mungkin sesuatu yang kita tidak perhatikan dapat mempengaruhi tingkah laku kita?
Tunggu dulu, tidak diperhatikan bukan berarti tidak terlihat. Mari kita pertama-tama memahami bagaimana persepsi kita bekerja. Sebagaimana anda ketahui, pikiran kita terdiri dari dua bagian yang saling berinteraksi: sadar dan bawah sadar. Bagian bawah sadar dari pikiran beroperasi dibawah level dari kesadaran (conscious awareness). Ini mengendalikan reflex, fungsi otomatis dan menangani pemrosesan dan penyimpanan informasi yang datang. Alam bawah sadar mampu memproses 20,000 bit informasi dalam waktu bersamaan, sementara bagian kesadaran hanya dapat mengurai ± 7 bit informasi di waktu yang sama.

Gantinya dari lima indera sederhana Aristoteles – penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba dan pembau – ada paling sedikit 37 yang diketahui, membedakan sensor yang masuk ke otak. Seluruh informasi yang diangkut oleh indera-indera ini dikirim ke otak dan diserap oleh alam bawah sadar, bagaimanapun juga, hanya data yang sangat konkrit dan relevan yang akan diteruskan ke pikiran sadar setelah itu diproses dan dikurangi. Semua yang tersisa diabaikan. Sebuah contoh yang bagus tentang ini adalah the Cocktail Party Effect (Efek Pesta Koktil). Kamu bisa berbicara dengan temanmu ditengah-tengah kerumunan orang yang sedang berpesta dan dapat mendengar dan mengerti apa yang dia katakan bahkan jika tempat itu sangat ribut. Kamu dapat dengan sekejap mengabaikan apa yang dibicarakan seseorang yang ada didekatmu, tetapi jika seseorang di sisi yang berlawanan tiba-tiba menyebut namamu, kamu memperhatikan suara itu dan menanggapinya seketika itu juga. Bukan hanya namamu yang seketika memacu perhatianmu, biasanya juga engkau menyadari hampir keseluruhan kalimat yang masuk itu. Dari pengalaman ini, kita dapat mempelajari bahwa otak merekam segala hal yang mengambil tempat disekitar kita. Hal yang menariknya, kata-kata tertentu seperti SEX, BLOOD (darah), DEATH (Mati), FUCK (Bersetubuh) dan yang sama seperti itu memiliki efek yang sama dalam memicu perhatian kita sebagaimana nama pribadi.

Jadi, hanyalah informasi yang dianggap sebagai suatu hal yang “relevan” yang pergi ke bagian yang sadar. Informasi penting, rangsangan singkat atau samar disimpan didalam alam bawah sadar tanpa mencapai kesadaran kita. Penting untuk ditegaskan bahwa informasi-informasi tersebut tidak dibuang melainkan disimpan. S E M U A H A L yang pernah engkau alami dihidupmu, dari setiap wajah asing yang kau pernah pandang sekilas di kerumunan orang hingga setiap jaring laba-laba yang pernah engkau tatap sewaktu kecil, dapat diambil kembali dari ingatan anda dengan cara hipnotis atau stimulasi listrik dari sel-sel otak di lobus temporal. Karena itu, apapun yang secara alam bawah sadar dimasukkan kedalam otakmu akan tetap ada disana selamanya dan di keadaan-keadaan yang tepat akan akan memicu reaksi yang tepat dalam diri Anda. Tidak dikatakan bahwa pesan subliminal menentukan tindakan anda tanpa bisa ditawar-tawar. Pendapat yang diterima adalah bahwa pesan-pesan subliminal lebih memperkuat, mempercepat dan mempertegas reaksi pada seseorang yang SUDAH CENDERUNG menuju ke subjek atau pokok dari pesan tersebut. Namun saya perkirakan, tak seorang pun dapat memastikan.

Kebanyakan pesan subliminal adalah S E X
Karena hampir semua orang memiliki pertalian yang kuat terhadap seks, pesan subliminal seksual akan menjadi yang paling efektif. Tertanam pada produk tertentu seharusnya untuk memicu perhatian pemirsa, emosi dan membangkitkan ketertarikan dalam dirinya terhadap produk. Sayangnya, seperti yang Anda akan lihat sendiri, prinsip ini telah banyak disalahgunakan, dilecehkan dan disalah-terapkan. Seksualitas terang-terangan di ambang pornografi dapat dengan mudah ditemukan dalam iklan umum, film keluarga, kartun dan produk anak-anak.

Mind Control [Kendali Pikiran] Sebagai Alat Pengendali Massa
Pada tahun 1949, George Orwell, seorang novelis menulis karyanya yang cukup monumental yaitu “1984”. Dalam novel tersebut Orwell menggambarkan (atau memperingatkan) bahwa kelak pada tahun 1984 ada sebuah negara yang sedemikian rupa merampas kebebasan rakyatnya hingga melakukan pengintaian warga dan pengendalian massa lewat media dan propaganda. Ketika novel tersebut ditulis, orang memahami bahwa itulah yang dilakukan oleh negara-negara komunis terhadap rakyatnya. Namun kini, tampaknya bahkan hal tersebut terjadi di negara “bebas” bernama Amerika. Steven Jacobson, penulis buku Mind Control in the United States, adalah teknisi film berpengalaman dalam teknik “Subliminal Message” yang digunakan dalam media komunikasi. Ia mengungkapkan betapa masalah mind control - kendali pikiran ini sungguh sangat mengkhawatirkan, sebab menurut dia teknik ini sangat kuat pengaruhnya, sangat efektif dan lebih mengerikan lagi, tidak disadari oleh yang menjadi korban atau obyeknya. Ia juga mengkhawatirkan penggunaan teknik ini menjadi liar tak terkendali sebab selain pihak otoritas belum memberikan aturannya, juga bahkan teknik ini tidak banyak diketahui selain oleh insan-insan media dan para pemerhatinya.

Mengapa Sedemikian Efektif?
Dalam bukunya Mind Control in the United States, Steven Jacobson menguraikan mengapa teknik ini begitu efektif.
  • Pertama, teknik ini menggarap alam bawah sadar manusia yang memiliki kekuatan besar saat diolah dengan tepat. Dengan mengalihkan si manusia dari aktifitas berpikir dan mengandalkan perasaannya untuk bertindak, ide yang dimasukkan akan diterima tanpa perlawanan.
  • Kedua, penggunaan berbagai alat tambahan seperti musik, warna kontras, dan berbagai teknik pengolahan di studio, kekuatan “Subliminal Message” ini semakin bertambah.
  • Ketiga, ketika beroperasi di alam bawah sadar, dorongan nafsu-nafsu (syahawat) manusia yang dibawa sejak lahir bagaikan bahan bakar yang tidak habis-habisnya bagi ke-efektif-an teknik ini.
  • Kempat, terdapat sejumlah pihak yang sangat bernafsu menggunakannya dan karenanya rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli produk seperti ini bahkan membiayai riset-risetnya. Dengan kekuatan uang mereka pula-lah segala kontroversi etikanya dapat diredam ke bawah permukaan sehingga sebagian besar masyarakat dunia tidak tahu menahu soal jahat tersebut.

Siapa Yang Memanfaatkan Teknik-Teknik Ini?
Terlepas dari pro-kontra masyarakat (itu pun hanya di antara kalangan yang memahami masalah ini), teknik-teknik mind control – kendali pikiran digunakan oleh banyak pihak. Khususnya mereka yang bergerak di bidang media massa baik elektronik maupun cetak, mereka sangat faham dan sangat memanfaatkan teknik-teknik ini untuk kepentingan mereka sendiri.

Subliminal Message” dan yang sejenisnya digunakan sebagai alat politik negara (baca: penguasa saat itu), termasuk untuk kampanye pemenangan pemilu, baik untuk menggerakkan orang memilih kandidat tertentu, maupun untuk mengirim pesan tersembunyi yang mengungkap siapa jati diri sesungguhnya dari kandidat tersebut.

Selain penggunaan oleh pihak-pihak “otoritas”, teknik ini juga luas digunakan oleh perusahaan pembuat iklan dalam rangka meningkatkan penjualan produk yang diiklankannya.

Pihak militer juga diketahui menggunakan teknik “Subliminal Message” ini untuk melakukan “Healing” atau terapi atas para serdadu yang mengalami trauma perang. Setidaknya itulah yang diakui secara terbuka, dan tentunya pihak militer tak berbeda dalam sikap mereka menggunakan teknik-teknik ini untuk tujuan intelijen maupun ”Psywar” (perang psikologis) terhadap musuh. Disinyalir intelijen Amerika menggunakannya misal dalam film The Exorcist.

Namun ada yang lebih mengkhawatirkan lagi, yaitu ketika “Subliminal Message” disinyalir digunakan oleh para pembuat film dan games, baik film maupun games dewasa dan anak-anak, pertanyaannya adalah “Untuk tujuan apa?” atau “Untuk kepentingan siapa?”. Dan lebih mengerikan lagi ternyata kebanyakan “Subliminal Message” yang digunakan oleh pihak-pihak ini justru mempromosikan sex, pornografi dan sejenisnya! Apalagi yang dapat kita simpulkan bahwa “tujuan” mereka tidak lain adalah penyesatan ummat manusia ke jalan setan dan membentuk budaya kerusakan moral yang luar biasa.

Apa Akibatnya Jika Teknik Ini Digunakan Secara Luas?
Sebenarnya tidak ada data apakah saat ini teknik-teknik mind control – kendali pikiran tersebut belum digunakan secara luas. Sangat boleh jadi sudah. Namun mungkin bisa lebih parah lagi jika kita tidak berusaha menghentikannya.

Sebagaimana disebutkan di atas, mind control – kendali pikiran dengan subliminal message yang saat ini sebagai primadonanya, telah digunakan oleh beberapa pihak.

  • Pihak “otoritas” atau pemerintah resmi, dan berarti penggunaanya di jalur politik.
  • Media massa
  • Para produsen hiburan
  • Para pembuat iklan untuk keperluan komersial.
  • Pribadi-pribadi maupun perusahaan maupun lembaga yang membeli dari produsen konten subliminal.
  • Intelijen
  • Siapa lagi?

Pada hakekatnya, sebagaimana semut tertarik pada bau manisnya gula, maka siapapun yang mungkin merasa akan mendapat keuntungan dengan penggunaan teknik-teknik ini, pasti akan berbondong-bondong menggunakannya. Di tengah dunia penghamba materialisme saat ini, semua ukurannya adalah keuntungan materi. Meskipun ada juga pihak yang menginginkan teknik ini untuk pencapaian tujuan mereka yang bersifat non-material, misalnya para penganjur gerakan budaya rusak penghamba setan.

Apa Akibat Yang Mungkin Timbul?
Coba kita lihat dari yang paling ringan, yaitu digunakan secara luas oleh pribadi-pribadi yang memang membeli konten-konten tersebut untuk kebutuhan pribadinya. Misalnya untuk merubah kebiasaan malas menjadi rajin, membuat seseorang yang tak bisa berdagang menjadi mampu berdagang dengan sukses dsb. Menurut hemat kami perubahan diri yang disebabkan oleh sugesti subliminal message bukanlah sebuah perubahan yang benar-benar baik. Pasti cepat atau lambat akan ketahuan apa kelemahan cara ini dalam mengatasi kelemahan-kelemahan seseorang. Yang pasti, karena si orang yang bersangkutan ‘tidak menyadari’ proses perubahan dirinya dari malas menjadi rajin, maka pada hakekatnya ia tak dapat membagi pengalaman tersebut pada orang lain. Juga karena proses ini berjalan instan/segera di alam luar kesadaran, maka jika orang tersebut kembali terkena penyakit malas maka ia tak bisa mengembalikan dirinya kembali menjadi rajin kecuali dengan kembali menggunakan sugesti subliminal message ini. Ya tentu saja, sebab ia tidak dapat mengingat proses perubahan dirinya dari malas menjadi rajin maka ia tak dapat mengulangi proses tersebut dalam kesadaran penuh, alias: ia tergantung pada konten-konten tersebut ketika penyakit lamanya kembali menyerang.

Bukankah itu berarti pada hakekatnya ia belum sembuh atau belum benar-benar menjadi baik?

Bagaimana Jika Digunakan Oleh Media Massa Baik Elektronik Maupun Cetak?

Kita akan melihat orang-orang yang amat mudah dibentuk opininya oleh media. Dan sesungguhnya ini sudah terjadi!

Coba kita lihat betapa cepatnya satu opini menjadi opini publik padahal kebenaran belum dibuktikan. Misal dalam ‘buruknya’ Gayus. Memang dia banyak salah, namun apakah masyarakat tidak berpikir bahwa seorang Gayus tak akan menjadi seorang Gayus jika para penerima suap tidak ada! Lantas mengapa hanya Gayus yang harus buruk sendiri? Mengapa segala berita tindak lanjut tentang oknum-oknum yang terlibat dapat di “lupakan” dari agenda pemberitaan?

Bagi media massa, rumusnya sederhana saja: Bad news is good news! Berita buruk adalah “berita baik” bagi media. Artinya: berita buruk adalah berita yang paling menguntungkan bagi media sebab masyarakat pasti ingin tahu soal itu. Maka jika kini Gayus sudah bukan selebriti berita lagi adalah karena sudah ada Nazarudin yang kabur ke Singapura, sebelumnya ada Malinda Dee soal kartu kredit dan sebelumnya dan sebelumnya.

Semua berakhir demikian saja, tak ada pendidikan sosial yang baik bagi masyarakat. Sebab setiap pelaku kejahatan ramai dibicarakan saat kasusnya heboh pertama kali, lengkap dengan detil-detil yang seringkali masih dugaan-dugaan.

Ketika digunakan sebagai senjata utama di bidang periklanan, maka masyarakat yang memang sudah menjadi materialis semakin gila materi. Sebab benda-benda di iklankan dengan “Subliminal Message” secara diam-diam.

Dapatkah anda bayangkan bahwa kepala anda dipenuhi berbagai keinginan kuat yang tak dapat anda jelaskan darimana, misalnya ingin belanja ini dan itu tanpa berpikir kesanggupan membayar tagihan kreditnya?

Budaya konsumerisme saat ini, dimana banyak sekali jenis barang maupun penjualnya, dimana orang (khususnya Amerika sebagai negara contoh) sudah menghamba pada kartu kredit dan meskipun Amerika baru saja mengalami kebangkrutan gara-gara bubble economy, namun masih saja kita dapati banyak orang yang membeli barang-barang yang tidak ia butuhkan. Ya, Amerika baru saja mengalami gelombang kejut ekonomi akibat menggelembungnya tagihan kartu kredit masyarakat yang tak terbayarkan.

Timbulnya istilah shopaholic yaitu kegilaan belanja adalah salah satu bentuk sebab akibatnya. Karena isi kepala yang kosong iman, ada manusia-manusia yang terjebak dalam kegilaan terhadap materi sampai benar-benar dapat dikatagorikan kelainan jiwa.

Jika anda pernah menonton serial “Hoarders” (Biography channel), maka mungkin anda akan segera mengerti maksud saya akan betapa mengerikan akibatnya bagi orang-orang yang sangat terpengaruh dengan budaya konsumerisme sampai-sampai menjadi penimbun (hoarder=penimbun) yang kehilangan akal sehat. Dalam gambar berikut ada cuplikan berita dari Amerika tentang keadaan orang-orang yang seperti itu.
NAH, APAKAH ANDA MASIH SUKA MENJADI KORBAN..........?