Buku The Biology of Belief Edisi Bahasa Indonesia

Ini adalah Buku Keren pegangan Para Trainer dan Motivator Dunia. THE BIOLOGY OF BELIEF, karya Bruce H. Lipton, Ph.D. Akhirnya akan tersedia dalam Bahasa Indonesia. Edisi Perdana dalam bahasa indonesia ini akan diterbitkan Oleh Penerbit Kaurama, dan Rencananya akan terbit akhir bulan Maret 2019. Dengan tebal buku kurang lebih ada sekitar 450 halaman

The Biology of Belief adalah sebuah karya monumental yang akan merevolusi pemahaman kita tentang kehidupan.

Melalui serangkaian riset, Bruce Lipton mendeskripsikan interaksi antara pikiran dan tubuh serta proses bagaimana sel-sel menerima informasi. Gen dan DNA tidaklah mengendalikan nasib kita!

Alih-alih, gen dan DNA dikendalikan oleh sinyal-sinyal dari luar sel, termasuk energi yang terpancar dari pikiran. Nasib seorang manusia lebih ditentukan oleh faktor lingkungan, pendidikan, dan informasi yang diperolehnya sejak kecil.

Dipandang sebagai sintesis antara biologi sel dan fisika quantum, buku ini menawarkan kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang sehat dan bahagia. Jika kita mampu mentransformasi pikiran sadar dan bawah sadar kita, kita pun mampu mentransformasi hidup kita.

Powerful! Elegant! Simple! Dr. Bruce Lipton menjawab pertanyaan-pertanyaan tertua dan memecahkan misteri terdalam masa lalu kita. The Biology of Belief akan menjadi fondasi bagi sains milenium baru.” (Gregg Braden, penulis buku laris The Divine Matrix)

Halaman-halamannya berisi revolusi genuine dalam pikiran dan pemahaman, yang begitu radikal hingga mampu mengubah dunia.” (Joseph Chilton Pearce, Ph.D., penulis Magical Child dan Evolution’s End)

Dr. Lipton seorang genius. Penemuan-penemuannya memberi kita alat bantu untuk mendapatkan kembali kedaulatan atas hidup kita.” (LeVar Burton, aktor dan sutradara)

Buku ini setidaknya memberikan sekilas titik terang tentang jati diri kita, reinkarnasi, fenomena ritual nunasang di Bali atau tumimbal lahir di Jawa, twin flames dan soulmate, melalui analisis biologi sel. Silakan menyimaknya. Buku utuhnya terbit akhir bulan depan. Ini baru spoilernya. :D

Catatan : Cover Buku dalam Gambar ini hanya sekedar ilustrasi saja, yang saya ambilkan dari Cover Buku The Biology of Belief Versi Bahasa Inggrisnya. Sedangkan Untuk Cover Buku The Biology of Belief Edisi Bahasa Indonesia, belum kami dapatkan contohnya saat artikel ini saya Publish.

KITA DICIPTAKAN DALAM CITRA ALAM

Saya belajar dari komunitas sel bahwa kita merupakan bagian dari satu keutuhan dan kita melupakan ini dan nyawa kita sebagai taruhannya. Namun, saya juga mengakui bahwa kita memiliki identitas biologis yang unik. Mengapa? Apa yang membuat komunitas sel setiap orang itu unik? Di permukaan (membran) sel-sel kita adalah sebuah keluarga berisi reseptor-reseptor yang memiliki identitas, yang membedakan satu individu dengan individu lainnya. Bagian dari reseptor-reseptor ini, yang disebut “reseptor-diri”, atau human leukocytic antigen (HLA), berhubungan dengan fungsi sistem imun. Jika reseptor-reseptor-diri Anda dihilangkan, sel-sel Anda tidak akan lagi mencerminkan identitas Anda. Sel-sel yang tidak memiliki reseptor-diri ini masih tetap sel-sel manusia, tetapi jika tanpa identitas mereka akan menjadi sel manusia generik/umum. Kembalikan rangkaian reseptor-diri Anda ke dalam sel-sel, maka sel-sel itu akan kembali mencerminkan identitas Anda.

Ketika Anda menyumbangkan satu organ, semakin dekat rangkaian reseptor-diri Anda dengan reseptor-reseptor orang yang hendak menerima organ Anda, maka semakin sedikit reaksi penolakan yang dilancarkan oleh sistem imun tubuh penerima. Misalnya, sebutlah satu rangkaian seratus reseptor-diri yang berbeda di permukaan setiap sel yang digunakan untuk mengidentifikasi diri Anda sebagai seorang individu. Lalu Anda membutuhkan transplantasi organ untuk bertahan hidup. Ketika “rangkaian yang terdiri dari seratus reseptor-diri” milik saya dikomparasikan dengan reseptor-reseptor-diri Anda, kita hanya punya kesamaan sepuluh reseptor. Saya bukan donor organ yang bagus untuk Anda. Sifat yang sangat berbeda dari reseptor-reseptor-diri kita mengungkapkan bahwa identitas kita sangat berbeda. Besarnya perbedaan pada reseptor-reseptor membran akan memobilisasi sistem imun Anda, membuatnya bertindak secara cepat untuk menolak sel-sel asing, yakni sel-sel yang ditransplantasikan. Peluang berhasil Anda akan lebih tinggi jika dapat menemukan donor yang reseptor-reseptor-dirinya lebih mendekati reseptor-reseptor-diri di sel-sel Anda.

Akan tetapi, dalam upaya pencarian donor yang lebih baik, Anda tidak akan menemukan kecocokan 100 persen. Sejauh ini, para saintis belum pernah menemukan dua individu yang secara biologis sama. Namun, secara teoretis dimungkinkan menciptakan jaringan-tubuh donor universal dengan menghilangkan reseptor-reseptor-diri dari sel-sel, walaupun para saintis belum melakukan eksperimen semacam itu. Kalaupun eksperimen itu dilakukan, sel-sel akan kehilangan identitasnya. Namun, sel-sel tanpa reseptor-diri ini tidak akan ditolak. Sementara para saintis telah berfokus pada sifat reseptor yang terkait dengan imun ini, penting untuk diperhatikan bahwa ini bukanlah reseptor protein, melainkan sesuatu yang mengaktifkan reseptor sehingga ia mampu memberikan identitas terhadap individu. Masing-masing rangkaian reseptor-identitas sel terletak di permukaan luar membran sel, tempat mereka bertindak sebagai “antena”, yang mengunduh sinyal-sinyal pelengkap dari lingkungan. Reseptor-reseptor-identitas ini membaca sinyal “diri”, yang tidak berada di dalam sel tetapi mendatangi sel dari lingkungan eksternal.

Bayangkan tubuh manusia sebagai TV. Anda adalah gambar di layar kacanya. Namun, gambar Anda tidak berasal dari dalam TV. Identitas Anda adalah siaran-lingkungan yang diterima melalui antena. Suatu hari, Anda menyalakan TV dan layar kacanya pecah. Reaksi pertama Anda adalah, “Asu! Tivinya mati!” Akan tetapi, apakah gambarnya mati bersama matinya TV? Untuk menjawab pertanyaan itu, Anda bisa pergi ke TV lain, menyalakannya, dan menyetelnya ke stasiun yang sedang Anda tonton sebelum layar kaca TV Anda pecah. Ini akan menunjukkan bahwa gambar yang disiarkan masih ditayangkan, walaupun TV pertama “mati”. Matinya TV sebagai penerima tidak akan membunuh identitas yang disiarkan yang berasal dari lingkungan di luar.

Dalam analogi ini, TV fisik sama dengan sel. Antena TV, yang mengunduh siaran, mewakili rangkaian reseptor sel. Siaran TV mewakili sinyal lingkungan. Karena keasyikan kita dengan dunia Newtonian yang materialistik, mungkin pada awalnya kita berasumsi bahwa reseptor protein sel adalah “diri”. Itu sama dengan mempercayai bahwa antena TV adalah sumber siaran. Reseptor-reseptor sel bukanlah sumber identitasnya, melainkan kendaraan yang mengunduh “diri” yang berasal dari lingkungan.

Setelah memahami betul hubungan ini, saya sadar bahwa identitas saya, “diri” saya, berada di lingkungan, baik tubuh saya berada di sini maupun tidak. Sama seperti dalam analogi TV, jika tubuh saya mati dan di masa depan seorang individu baru (“TV” biologis) dilahirkan dengan rangkaian reseptor yang sama, individu baru itu akan mengunduh “saya”. Saya akan berada di dunia lagi. Setelah tubuh fisik saya mati, siarannya masih ada! Identitas saya adalah ciri kompleks yang terkandung dalam banyak informasi yang secara kolektif membentuk lingkungan.

Bukti pendukung untuk keyakinan saya bahwa siaran individu masih ada bahkan setelah kematian berasal dari pasien-pasien transplantasi yang melaporkan bahwa organ baru mereka membawa perubahan perilaku dan psikologis. Seorang warga New England yang konservatif dan memperhatikan kesehatan, Claire Sylvia, terkejut ketika tahu-tahu dia menyukai bir, nugget ayam, dan sepeda motor setelah pencangkokan jantung dan paru-paru di tubuhnya. Sylvia berbicara dengan keluarga donor dan ternyata dia mendapatkan jantung seorang penggemar motor berumur delapan belas tahun yang sangat menyukai nugget ayam dan bir. Dalam bukunya, A Change of Heart, Sylvia mendeskripsikan pengalaman perubahan pribadinya, di samping pengalaman serupa pasien pencangkokan lainnya dalam kelompoknya. Paul P. Pearsall menyajikan sejumlah kisah lain dalam buku The Heart’s Code: Tapping the Wisdom and Power of Our Heart Energy. Akurasi memori yang mengiringi transplantasi ini bukan sekadar ketidaksengajaan atau kebetulan. Seorang gadis muda mulai mengalami mimpi buruk tentang pembunuhan setelah transplantasi jantung. Mimpi-mimpinya begitu jelas sehingga berujung pada tertangkapnya pembunuh yang menewaskan donornya.

Sebuah teori tentang bagaimana perilaku-perilaku ini menjadi “tercangkok” kepada penerima organ adalah “memori seluler”, yakni gagasan bahwa entah bagaimana memori-memori tertanam di dalam sel. Anda tahu saya sangat menghormati kecerdasan sel tunggal, tetapi saya harus menarik batas di sini. Ya, sel-sel dapat “mengingat” bahwa mereka adalah sel-sel otot atau sel-sel hati, tetapi ada batasan pada kecerdasan itu. Saya tidak percaya sel-sel secara fisik diwarisi mekanisme persepsi yang dapat mengingat rasa nugget ayam!

Memori psikologis dan perilaku memang masuk akal jika kita menyadari bahwa organ yang dicangkokkan masih mengandung reseptor-reseptor-identitas asli dari sang donor dan masih mengunduh informasi lingkungan yang sama. Walaupun orang yang menyumbangkan organnya sudah meninggal, siaran mereka masih berlangsung. Mereka abadi, seperti yang saya sadari saat mendapatkan pencerahan tentang mekanisme membran sel—sebagaimana yang saya yakini bahwa kita semua abadi.

Transplantasi sel dan organ menawarkan sebuah model bukan hanya keabadian, melainkan juga reinkarnasi. Bayangkan kemungkinan bahwa satu embrio di masa depan menunjukkan serangkaian reseptor-identitas yang sama dengan yang sekarang saya miliki. Embrio itu akan diselaraskan dengan “diri” saya. Identitas saya kembali tetapi dimainkan melalui tubuh yang berbeda. Seksisme dan rasisme jadi menggelikan dan imoral ketika Anda menyadari bahwa reseptor-reseptor Anda bisa menjadi orang kulit putih, orang kulit hitam, orang Asia, serta laki-laki atau wanita. Karena lingkungan mewakili “Semua Yang Ada” (Tuhan) dan antena reseptor-diri kita hanya mengunduh sebagian gelombang dari seluruh spektrum gelombang yang tiada batasnya, maka kita semua mewakili sebagian kecil dari keseluruhan. Kita adalah cuilan kecil dari “tubuh” Tuhan.

Metafisika Modern

BUKU THE BIOLOGY OF BELIEF

Daftar Isi

  • Prolog
    1. Pendahuluan: Keajaiban Sel
    2. Keajaiban Sel—Déjà Vu
    3. Mengapresiasi Pelajaran dari Sel
    4. Cahaya di Luar Kotak
  • 1. Pelajaran dari Cawan Petri: Sel Cerdas dan Mahasiswa Cerdas
    1. Sel sebagai Manusia Miniatur
    2. Asal-Usul Kehidupan: Sel Cerdas Menjadi Semakin Cerdas
    3. Evolusi tanpa Cakar Berdarah
    4. Menyusuri Pembicaraan tentang Sel
  • 2. Lingkungannya, Bodoh!
    1. Protein: Bahan Kehidupan
    2. Cara Protein Menciptakan Kehidupan
    3. Keunggulan DNA
    4. Human Genome Project
    5. Biologi Sel Dasar
    6. Epigenetika: Sains Baru Pemberdayaan Diri
    7. Pengalaman Orangtua Mengubah Karakter Genetik Anak
  • 3. Membran Ajaib
    1. Roti, Mentega, Zaitun, dan Pimento
    2. Protein Membran Integral
    3. Cara Kerja Otak
    4. Rahasia Kehidupan
  • 4. Fisika Baru: Menancapkan Kaki di Kekosongan
    1. Menyimak Suara Batin
    2. Ilusi Materi
    3. Itu Bukan Efek-Samping, Melainkan Efek!
    4. Dokter: Korban Lugu Industri Farmasi
    5. Fisika dan Biomedis
    6. Membeli Farmasi
    7. Pertanda Baik, Pertanda Buruk, dan Bahasa Energi
  • 5. Biologi dan Keyakinan
    1. Ketika Pikiran Positif Berujung Petaka
    2. Mind Over Body (Pikiran Mengatasi Tubuh)
    3. Emosi: Merasakan Bahasa Sel
    4. Bagaimana Pikiran Mengontrol Tubuh
    5. Plasebo: Efek Keyakinan
    6. Nosebo: Kekuatan Keyakinan Negatif
  • 6. Pertumbuhan dan Perlindungan
    1. Biologi Pertahanan Diri
    2. Ketakutan Itu Mematikan
  • 7. Conscious Parenting: Orangtua sebagai Perancang Genetik
    1. Pemrograman Orangtua: Kekuatan Pikiran Bawah-sadar
    2. Pemrograman Manusia: Ketika Mekanisme Baik Menjadi Buruk
    3. Pikiran Sadar: Pencipta dalam Diri
    4. Pikiran Bawah-Sadar: Aku Terus Memanggil, tapi Tiada Jawaban
    5. Pembuahan dan Kehamilan secara Sadar
    6. Program Unggulan Alam
    7. Menjadi Ibu dan Ayah yang Sadar
  • Epilog: Spirit dan Sains
    1. Waktu untuk Memilih
    2. Kita Diciptakan dalam Citra Alam
    3. Manusia: Penjelajah Bumi
    4. Evolusi Fraktal
    5. Yang Bertahan Hidup Adalah Para Pecinta
  • Adendum
  • Ucapan Terima Kasih
  • Indeks
  • Tentang Penulis


Harga asli Rp 120.000,- tapi kalau Pre Order di Saya, Harganya jadi Rp 250.000,- Belum termasuk Ongkir. Hehehehe... Minat Pre Order? Klik tombol di bawah ini :



Mengapa Pre Order buku ini di NAQSDNA lebih mahal?
Karena keuntungannya dipakai untuk pembangunan Padepokan NAQSDNA.. Jadi, jika anda ingin cari harga yang lebih murah, silahkan order di tempat lain. Namun, jika anda berminat untuk membantu perkembangan Majelis ilmu yang diselenggarakan oleh NAQSDNA, Maka silahkan Order di sini.

Pre Order Buku The Biology of Belief Edisi Bahasa Indonesia, Via NAQSDNA ditutup, Tanggal 31 Maret 2019

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam


Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.com l dnasukses.com




Ps.
  • Info kelas Online Vibrasi, KLIK DI SINI ( https://www.dirisejati.com )
  • Info jadwal workshop terdekat, KLIK DI SINI ( https://workshop.naqsdna.org )
  • Kontak saya di WhatsApp, kirim pesan ke WA No. 0813 8141 1972
*

ads

Terima Kasih sudah membaca The Biology of Belief Edisi Bahasa Indonesia . Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.
Buku The Biology of Belief Edisi Bahasa Indonesia Buku The Biology of Belief Edisi Bahasa Indonesia Reviewed by Edi Sugianto, C.Ht., MNLP on 04.44 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.