Virus Kapitalisme Dalam Digital Marketing

Part 1 : VIRUS KAPITALISME DI ERA MILLENIAL

Saya amati, Ilmu Marketing para digital marketer indonesia, rata-rata adalah berbasis BRAIN MANIPULATION. Belum sampai pada Human Service Excellent.

Ilmu marketing berbasis Brain Manipulation itu Memandang konsumen tidak lebih hanya sebatas object, bisa hewan, ikan, cebong, kampretz, wedus, dll. Yang dapat dibujuk rayu, dimanipulasi, bahkan dikadali, dan diperas habis.

Maklum, rata-rata kiblatnya adalah Para Kapitalis Kulonan. Jadi, walau pakai kata-kata yang relijius sekalipun. Semua itu mungkin saja hanyalah sekedar Script Hypnotic Copywriting alias sekedar bahasa iklan. Dan tidak tumbuh dari hati.

Dan kalau sudah begini iklimnya, jangan harap konsumen akan diperlakukan secara manusiawi. Ada uang abang sayang, tak ada uang, ke laut aja lagee... begitu prinsipnya.... hehehehe...

Dan ketika saya meluaskan pandangan, ternyata ini tidak hanya terjadi di dunia digital marketing. Hampir disemua lini yang melibatkan uang, jabatan, & popularitas, baik online ataupun offline. Rata-rata begitu nuansanya.

Benar yang dikatakan orang, bahwa Uang itu tidak beragama. Dan tidak hanya itu, Uang ternyata memang tidak punya hati nurani. Maka, siapapun yang memuja uang. Walau setiap bulannya pergi Umroh, tidak menutup kemungkinan Cahaya hatinya semakin lama akan semakin mati. Na'udzu billahi mindzalik..

Berbeda dengan Marketing Berbasis Human Service Excellent, ini istilah karangan saya sendiri lho ya... hehehe...

Dalam ilmu marketing berbasis pelayanan pada manusia ini. Konsumen dipandang sebagai Partner. Dipandang secara setara. Dan dalam penawaran dan transaksinya, lebih mengedepankan pendekatan yang manusiawi.

Ilmu marketing yang berbasis kemanusiaan inilah yang menurut saya dapat dipandang sebagai KERJA ITU IBADAH.

Tapi sayangnya, walau banyak pebisnis dan marketer yang punya jargon bahwa Bisnisnya adalah ibadah, bisnisnya adalah bisnis untuk menolong orang lain, tapi sesungguhnya jargon itu tidak lebih seperti jargon bisnis jaringan MMM ataupun jargon bisnis Travel Umroh yang kemudian terungkap mengembat dana jamaah.

Begitulah Permainan Dunia... Kemilaunya bisa membutakan mata. Sehingga terlupa, bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi selamanya.

Demikian, sekedar tulisan Pagi ini, untuk muhasabah dan pengingat bagi diri saya sendiri. Semoga juga manfaat untuk anda.

*

Part 2, MODUS MARKETING STRATEGY

Untuk anda yang cari penghasilan dengan menjadi Affiliate dalam Bisnis Online atau Digital Marketing. Maka Sekedar info untuk anda.

Hati-Hati Modus Baru Vendor Digital untuk menikung para affiliate.

Begini modusnya :

Vendor akan meluncurkan product baru dan sudah membuka kran untuk pendaftaran affiliate. Tapi LandingPage Vendor isi sales letternya tidak langsung berisi promo product. Tapi berupa Leads Magnet.

Visitor disuruh daftar dulu dalam Waiting List dengan iming-iming akan diberi hadiah tertentu. Misalnya Free akses ke product utama, Bonus Product tertentu, dll.

Nah... Dengan melakukan langkah di atas. Secara otomatis visitor sudah terdaftar dalam Waiting list milik Vendor atau bahkan sudah jadi member Free dalam system membership Funneling Vendor. Dan secara otomatis pula dia terlepas dari Cookies para Affiliate.

Dengan kata lain, jika nanti product sudah di launch. Dan visitor tersebut kemudian beli product. Maka, para affiliate yang sudah berjasa mendatangkan Traffic ke LandingPage si vendor. Tidak akan dapat apa-apa. Karena visitor tersebut sudah beli langsung dari vendornya.

Modus ini saya lihat sudah mulai banyak dilakukan oleh Para Mastah Digital Marketing di Indonesia.

So...
Hati-hatilah... karena hasil jerih payah dan keringat anda. Bisa dicuri oleh mereka. Tanpa anda sadari.

Apa itu Affiliate Marketing?
Pada prinsipnya, Bisnis Affiliasi adalah sebuah model bisnis penjualan yang berbasis Komisi atau Fee. Jadi ketika Anda berhasil menjual, maka Anda mendapatkan uang. (Simak selengkapnya di Menjemput Rejeki Dengan Bisnis Affiliasi)


Part 3 : CELAH & KELEMAHAN DALAM AFFILIATE MARKETING

Ketika tulisan Part 2 di atas saya Forward ke Komunitas para Digital Marketer di Telegram. Kontan saja, saya langsung dikeroyok dan di bully ramai-ramai. Hehehehe... Sepertinya, apa yang saya tulis itu langsung menohok jantung mereka. Sehingga langsung membuat mereka emosi. Yang artinya, apa yang saya tulis itu tanpa sadar sudah mereka akui kebenarannya.

Salah seorang Mastah Digital Marketing malah membuat dua Video penjelasan dengan Topik, Hati-Hati Modus Baru Vendor Digital untuk menikung para affiliate. Untuk menanggapi postingan saya tadi. Yang satu diunggah di Youtube sedangkan yang kedua disiarkan secara Live di akun Facebooknya.

Namun sayangnya, dalam video penjelasan tersebut sama sekali tidak menyentuh esensi dari tulisan saya. Dimana adalah Fakta, bahwa dalam system marketing affiliasi dimana Vendor juga membuka Sesi Free Lead Magnet saat para affiliate sudah mulai bekerja mendatangkan Traffic. Hal itu Akan membuka Celah untuk menghilangnya Fee  bagi para affiliate. Walaupun system membershipnya sudah canggih dan dapat merekam Cookies secara akurat.

Mengapa begitu?
Karena Cookies itu hanya terekam oleh Browser dimana sang Visitor membuka LandingPage sesudah Klik suatu Link Affiliate. Permasalahannya, ketika Visitor tersebut kemudian di Follow Up oleh Vendor, baik melalui email ataupun Via Group Hasil Funneling. Si Visitor bisa saja masuk ke landingpage menggunakan Browser yang berbeda dimana dia tidak terikat lagi oleh Cookies affiliate manapun. Nah, jika visitor jadi beli product melalui browser yang berbeda seperti ini, maka hilanglah Hasil Jerih payah sang affiliate yang sudah kerja keras mendatangkan Traffic dan juga Warm Market ke Vendor.

Itulah esensi permasalahannya. Yang ternyata tidak dapat dijawab oleh mereka.

Saya akui, bahwa ada susunan kalimat saya yang salah di dalam tulisan yang tadi, yaitu kalimat ini : Dan secara otomatis pula dia terlepas dari Cookies para Affiliate. Karena proses terlepasnya memang tidak bersifat otomatis, tetapi melalui mekanisme yang sudah saya tulis di Part 3 ini. Tetapi karena tujuan memposting tulisan itu adalah sekedar untuk bahan diskusi agar dapat solusi yang terbaik. Maka, sejak menulisnya saya memang tidak merasa perlu menjelaskannya secara detail. Dan saya hanya memberikan Bahan dasarnya saja. Karena penjelasan yang lebih detail akan berkembang sendiri seirama dengan dinamika diskusi.

Namun, sayangnya. Alih-alih berlangsung suatu diskusi yang mencerahkan untuk memperoleh solusi. Yang ada malah interogerasi, hinaan, dan bullying.

Suatu kelemahan dan celah dalam bisnis affiliasi yang seharusnya dapat ketemu solusinya, jadinya malah kabur. Dan Nasib para affiliate, khususnya yang masih baru terjun dalam dunia affiliasi. Mungkin akan semakin tidak jelas ke depannya. Sungguh sangat disayangkan sebenarnya.

Dunia digital marketing bukanlah Core aktivitas kerja saya, dan disitu saya hanya jadi penggembira dan pemerhati saja. Karena saya senang, jika ada sesuatu yang bermanfaat dan dapat meringankan beban hidup banyak orang. Dan saya lihat, bisnis affiliasi merupakan salah satu solusi yang cukup baik untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi para pengangguran ataupun untuk memberikan penghasilan tambahan untuk sahabat yang memiliki keterbatasan modal. Maka sungguh sangat disayangkan jika sampai ada banyak sahabat yang mencoba mencari peruntungan lewat bisnis affiliasi akhirnya harus gigit jari. Karena celah dan kelemahan dalam Affiliate Marketing ini malah dimanfaatkan oleh beberapa Vendor nakal.

Melihat dan mencermati kondisi yang seperti inilah, akhirnya saya menulis Part 1 : VIRUS KAPITALISME DI ERA MILLENIAL. Karena saya berharap hal itu dapat menjadi bahan renungan bersama, agar kita ini jangan sampai kehilangan Hati Nurani dan perikemanusiaan kita, hanya gara-gara dibutakan oleh harta benda duniawi.

Orang jawa bilang, Ngono yo ngono, ning ojo ngono. Artinya, Begitu sih boleh begitu, tapi ya jangan gitu-gitu amat deh... Hehehehe...

Letak agama itu adanya di dalam hati, maka jika seseorang sudah terkunci mati hati nuraninya. Maka, hilanglah semua cahaya agama di dalam dirinya. Walau mulutnya masih fasih membaca kitab suci.

Virus Buta Mata Hati sudah mewabah ke seantero negeri, semoga saya dan juga anda serta anak cucu kita semua, diselamatkan dari Fitnah Zaman yang seperti ini.

Nb.
Jika anda menunjukkan tulisan ini pada para mastah digital marketing. Mungkin ada diantara mereka yang akan melecehkan tulisan ini. Dan menilainya sebagai tulisan yang gak bermutu, gak berilmu, dll. Tapi anda jangan mudah terkecoh dengan hal itu. Tetaplah bersikap kritis, logis, dan waspada. Serta miliki keberanian untuk mempertanyakan kebijakan Vendor, jika menurut pandanganmu ada yang bersifat mencurigakan dan dapat merugikan anda. Karena Diam tidak selamanya berarti emas, tetapi diam anda bisa jadi sudah masuk pada ranah Diam itu Dosa.

Baca Juga : Menjemput Rejeki Dengan Bisnis Affiliasi

Demikian, tulisan saya hari ini yang hadir untuk menyapa pembaca setia Blog NAQSDNA.com semoga tulisan ini ada manfaatnya untuk anda. Dan jika ada salah-salah kata, maka saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima Kasih.

Salam


Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.com l dnasukses.com




Ps.
  • Info kelas Online Vibrasi, KLIK DI SINI ( https://www.dirisejati.com )
  • Info jadwal workshop terdekat, KLIK DI SINI ( https://workshop.naqsdna.org )
  • Kontak saya di WhatsApp, kirim pesan ke WA No. 0813 8141 1972
*

ads

Terima Kasih sudah membaca Virus Kapitalisme Dalam Digital Marketing. Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.
Virus Kapitalisme Dalam Digital Marketing Virus Kapitalisme Dalam Digital Marketing Reviewed by Edi Sugianto, C.Ht., MNLP on 10.20 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.