Terbunuhnya Kebenaran Sejati

KILL THE TRUTH
Terbunuhnya Kebenaran Sejati dan tumbuh suburnya kepalsuan.


Santri :
Gus, Benarkah Kebenaran itu selalu menang?

Gus Sodron :
Realitanya, semua itu hanyalah suatu kejadian dinamis yang selalu silih berganti.

Alkisah..
Ada segerombolan Bandit memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita di desa itu, kecuali seorang wanita yang selamat dari penodaan. Dia melawan, membunuh dan kemudian memenggal kepala bandit yang akan menodainya.

Ketika seluruh Bandit itu sudah pergi meninggalkan desa, para wanita malang semuanya keluar dengan busana compang-camping, meraung, menangis dan meratap, kecuali satu orang wanita tadi.

Dia keluar dari rumahnya dengan busana rapat dan bersimbah darah sambil menenteng kepala bandit itu dengan tangan kirinya.

Para wanita bertanya: “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu dan selamat dari bencana ini?”

Ia menjawab: “Bagiku hanya ada satu jalan keluar. Berjuang membela diri atau mati dalam menjaga kehormatan.”

Para wanita mengaguminya, namun kemudian rasa was-was merambat dalam benak mereka. Bagaimana nanti jika para suami menyalahkan mereka gara-gara tahu ada contoh wanita pemberani ini.

Mereka khawatir sang suami akan bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati dari pada ternoda..?”

Kekaguman pun berubah menjadi ketakutan yang memuncak. Bukankah lebih baik tidak ada orang yang tahu kisah sebenarnya. Sehingga mereka dapat merangkai kisah palsu yang dapat menjadi pembenaran atas sikap dan tindakan mereka. Dan bukankah berbahaya, jika membiarkan ada saksi yang dapat membocorkan rahasia ini?

Bayangan Ketakutan akan disalahkan, jadi cemoohaan, hidup menanggung malu, dan terhina. Mendadak sontak mencengkeram Bawah sadar para wanita itu.

Hati mereka mendadak ciut, wajah mendadak pucat pasi, tengkuk terasa dingin, tubuh menggeletar didera ketakutan, jantung berdegup semakin kencang, dan mata berkunang-kunang, semakin gelap..

Dan... mendadak sontak insting Hewaniyah mereka bangkit, seperti mendapat komando. Bagaikan Banteng yang terluka..... Mereka beramai-ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya.

Ya, membunuh kebenaran agar mereka dapat bertahan hidup dalam aib, dapat hidup dalam dosa, dalam ilusi kebenaran yang diciptakan dan disepakati bersama. Membunuh kebenaran, agar terlihat sebagai fihak yang benar.

Keadaan kita saat ini, sudah mendekati seperti ini. Saat ini, sudah banyak orang-orang yang terlanjur rusak. Mereka mencela, mengucilkan, menyerang dan bahkan membunuh eksistensi orang-orang yang masih konsisten menegakkan kebenaran, agar kehidupan mereka tetap terlihat baik.

Walau sesungguhnya hidup penuh aib, dosa, kepalsuan, pengkhianatan, kebohongan, ketidakberdayaan, dan menuju pada kehancuran yang nyata.

Sebelum terlambat, sebelum semua kebenaran sirna. Maka pastikan berani berpihak kepada KEBENARAN. Agar diri tidak terjebak pada ilusi kebenaran.

**

Santri :
Kebenaran yang mana Gus? Bukankah kebenaran itu hanya persepsi pikiran saja. Dan setiap orang mengaku sebagai fihak yang paling benar. Sedang yang lainnya dianggap salah?

Gus Sodron :
Kebenaran adalah apa yang membuat hati nuranimu tenang. Ingat, yang tenang itu hati nuranimu. Bukan sekedar rasa tenang dari perasaanmu. Atau sekedar ketenangan yang dihasilkan oleh pembenaran dari pikiranmu. Apalagi pembenaran oleh orang-orang yang menjilatmu. Atau dari orang-orang yang berharap keuntungan darimu.

Santri :
Jadi, kebenaran tidak selamanya selalu menang ya Gus?

Gus Sodron :
Begitulah kenyataannya... dalam sudut pandang dunia..

Tapi walau sang pemegang kebenaran itu menang ataupun kalah. Sesungguhnya mereka telah menjadi pemenang yang sejati. Mereka telah menang atas diri mereka sendiri. Dan hidup abadi, dalam himpunan orang-orang yang Mulya. Merekalah orang-orang yang telah memperoleh kemerdekaan jiwa secara hakiki.

Jadi, Kebenaran itu sebenarnya Pasti akan selalu menang, jika dipandang dari sudut ilmu Hakikat-nya. Jika dipandang dari sudut ilmu Kesejatian.

Orang yang lemah iman dan belum memperoleh pencerahan, akan cenderung mempergunakan segala cara untuk Menang dan berjaya. Tidak perduli walau harus mengorbankan hati nuraninya sendiri. Orang-orang seperti inilah yang sesungguhnya telah kalah walaupun secara duniawi terlihat seolah-olah dialah pemenangnya. Orang-orang yang telah kalah oleh dirinya sendiri inilah, yang biasanya berupaya mati-matian untuk mempengaruhi komunitasnya dengan membunuh eksistensi kebenaran dan membentuk suatu ilusi kebenaran Palsu agar dirinya dapat diterima dan hidup di tengah-tengah masyarakat yang telah dikendalikan ekosistemnya..

Dunia ini hanyalah permainan yang penuh tipu daya. Semoga kita semua tidak sampai terpedaya olehnya.

• Santri : Aamiin..

°°°°

Demikian, semoga manfaat.

Salam Kesadaran


Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.com l dnasukses.com




Ps.
  • Info kelas Getar sabda shakti Online, KLIK DI SINI ( https://sabda.naqsdna.org )
  • Info jadwal workshop terdekat, KLIK DI SINI ( https://workshop.naqsdna.org )
  • Kontak saya di WhatsApp, kirim pesan ke WA No. 0813 8141 1972
*

ads

Terima Kasih sudah membaca Terbunuhnya Kebenaran Sejati. Silahkan SHARE / BAGIKAN jika anda merasa artikel ini bermanfaat, dan jika anda mau COPAS Artikel ini, sertakan Linknya, agar ada yang bertanggung jawab atas isinya. Terima Kasih.
Terbunuhnya Kebenaran Sejati Terbunuhnya Kebenaran Sejati Reviewed by Edi Sugianto on 18.49 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.