The Power of Kepepet, Kekuatan dalam Keterdesakan

Ada 2 sebab yang membuat orang tak tergerak untuk berubah :
  1. Impian yang kurang kuat, Atau tidak punya gambaran apapun mengenai masa depan. Alias MADESU, Masa Depan Suram. he..he..he..
  2. Tidak kepepet.
Surga & Neraka, Hadiah & Ancaman, Impian & Ketakutan. Dua hal tersebut yang seringkali mampu memotivasi seseorang untuk mulai bergerak melakukan perubahan. Tetapi terkadang tidak setiap manusia mampu mengkondisikan Hati Dan Fikirannya untuk menghadirkan kedua hal tersebut ke dalam dirinya. Dan Baru Ketika Neraka kehidupan sudah mulai memanas apinya, dan uap panasnya sudah mulai terasa sekali di sekujur tubuhnya. Maka di saat itulah beberapa orang mampu mengeluarkan Daya Refleks yang penuh Kekuatan ajaib akibat adanya kondisi yang mendesak tersebut yang ahirnya membuat dirinya mampu melakukan sebuah keajaiban dan perubahan.

Ambillah sebuah per atau pegas, tekan sekuat-kuatnya beberapa lama, lalu lepaskan! Apa yang terjadi? Per atau pegas tadi akan melenting dengan pesat, bahkan bisa jadi hilang dari pemandangan Anda.

Pernahkah Anda mengalami atau melihat seseorang dikejar anjing, apalagi anjing yang mengejar itu adalah anjing gila. Apa yang Anda lakukan? Anda pasti akan lari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Bahkan jika di hadapan Anda ada pagar setinggi dua meter, dengan sigap dan dalam hitungan beberapa detik Anda melenting dan bisa melompati pagar setinggi dua meter itu! Aneh? Ya. Juga tidak! Padahal dalam kondisi biasa, jangankan dua meter, setengah meter pun Anda tak bisa melompati pagar itu. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pernahkah Anda mendengar atau melihat seorang ibu dengan kain yang membebat tubuhnya melesat dengan cepatnya dalam beberapa detik, demi melihat anaknya yang belum genap satu tahun bergelantungan di bagian atas tangga putar, lalu ketika tangan sang anak terlepas dari tangga putar, ibu dengan gegancangan menangkapnya dari bawah, sampai kain yang dipakainya robek-robek? Anak semata wayang itu pun terselamatkan!

Pernahkah Anda menyaksikan atau mendengar kisah seorang ayah yang tanpa gentar menerobos kobaran api yang menyala, demi anaknya yang masih berada di kamar saat kebakaran terjadi? Ketika anak ditemukan dan berada dalam dekapannya, sang ayah pun kembali menerobos kobaran api yang mengamuk itu! Meskipun akhirnya sang ayah menderita luka bakar yang cukup parah, namun ia berhasil menyelamatkan nyawa anaknya…

Mengapa hal itu semua bisa terjadi? Satu kata jawabnya: KEPEPET! Ya karena terdesak! Karena tekanan, karena banyaknya gempuran alangan dan rintangan, kesulitan dan kegagalan. Justru dalam keterdesakan, muncul kreativitas. Kreativitas mendorong kemampuan dan semangat untuk berjuang dengan mengerahkan segala daya dan tenaga! Dan kabar baiknya: PASTI BISA!

Itulah yang disebut The Power of Kepepet. 97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa “Kondisi Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia!”. Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? “Emang gua pikirin!”. Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment.

John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan ” Establishing Sense of Urgentcy” adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan “VISI”. “Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah”

Jadi analisa kembali kehidupan Anda sekarang ini. Jika Anda tidak mengubahnya, rasa sakit atau kerugian apa yang akan Anda dapatkan dimasa mendatang. Saran saya, jika Anda berada di zona yang sangat nyaman untuk tidak berubah (tidak melihat ancaman), ciptakan sedikit trigger (challenge) misalnya berupa penambahan investasi rumah. Jangan beli rumah yang sesuai dengan kemampuan bayar Anda, tapi ’sedikit lebih’ dari kemampuan Anda sekarang. Nah, dengan begitu Anda mau nggak mau dipaksa untuk mencari penghasilan tambahan atau mengurangi porsi pengeluaran yang tidak penting. Langkah kedua baru pikirkan nilai investasi itu 5 sampai 10 tahun mendatang, mungkin bisa sebagai solusi pembiayaan uang sekolah anak Anda kelak. Dengan meletakkan porsi dan posisi The Power of Kepepet dan Iming-iming secara tepat, InsyaAllah kita akan selalu termotivasi.

Itulah mungkin, sebabnya pak Purdie Chandra, pendiri EU menyarankan berhutang untuk bisnis. Dalam jumlah besar lagi. Hal mana untuk dengan sengaja meningkatkan detak jantung kita semakin tinggi. Deg-deg an nya puoll. Nah klo udah gitu diharapkan pikiran bawah sadar kita terkuak dan memunculkan kreatifitas untuk bisa melunasi hutang tsb.

Tapi, sekali lagi itu perlu latihan dan pengalaman. Bagi pemula hutangnya ya gak mesti langsung besar kecuali memang terlahir sebagai risk taker sejati. Orang kadang menciptakan pressure untuk memunculkan the power of kepepet. Bahkan kalaupun kondisi itu sebenarnya tidak ada, kita bisa cipatakan 'artificial pressure'. Maksudnya tekanan palsu. Kata mr TDW atau rekan kita etnis Tionghoa, walau mereka sudah kaya tapi anaknya tetap harus naik angkot ke sekolah atau membayar sesuatu yg dibeli di tokonya sendiri, hanya sebagai latihan The Power of Kepepet.

Dan untuk bisa latihan dan mendapatkan pengalaman, maka hanya satu yang harus dilakukan : Action. Ekspresikan Aksimu, Jangan Takut Salah.

Dibalik Fenomena The Power of Kepepet
Selain faktor pertolongan Yang Maha Kuasa tentunya, yang jelas pertolongan Tuhan itu memang sudah 'built-in' dalam diri kita ketika kita menghadapi kondisi sedemikian. Kita sejak lahir telah dibekali dua jenis pikiran, sadar dan bawah sadar. Pikiran bawah sadar inilah yang masih menjadi misteri dan penggalian masih terus dilakukan.

Dalam buku "Blink" karya Malcolm Gladwell, terungkap bahwa kemampuan luar biasa itu muncul secara logika karena secara tak sengaja kita telah berhasil mengaktifkan pikiran bawah sadar. Bukan mistis dan gaib. Terungkap bahwa ketika kita berada dalam situasi darurat, apapun itu, maka jantung kita akan berdetak semakin kencang dan cepat.

Dan akhirnya ketika detak jantung itu mencapai angka 175 maka tiba-tiba ada beberapa perubahan baik dalam diri kita maupun di luar kita. Dalam kondisi itu diistilahkan dengan kondisi autis sementara, yaitu kondisi dimana kita seperti kehilangan beberapa panca indera, kehilangan suasana disekeliling dan menjadi super fokus pada kondisi keterdaruratan tadi.

Contoh, pemain basket yang telah mengalami kelelahan dan waktu permainan sudah tinggal beberapa detik lagi, apalagi ditambah jika itu partai final. Maka seperti yg diceritakan kembali oleh seorang pemain basket pro, sekeliling lapangan seperti senyap, semua berjalan begitu lambat, pandangan sekitar menjadi kabur namun digantikan oleh gambaran keranjang basket yang semakin tajam. Segenap fisik dan penglihatan menjadi fokus untuk memasukkan bola kedalam keranjang. Drible sedikit, melompat dan melayangkan lemparan, akhirnya three point pun didapat, dalam jarak yang mustahil.

Namun demikian, kondisi ini selain membawa dampak positif ternyata juga bisa negatif tatkala kita kurang terlatih dalam menggunakannnya. Contoh, polisi ketika mengalami kejadian pengejaran penjahat dan detak jantungnya mencapai angka 175 maka ketika pengejaran berakhir, jika polisi bersama temannya, mereka bisa menghakimi penjahat saat itu juga. Ada kejadian penjahat yang ditembak padahal sudah menyerah dan tak berdaya. Itu karena pada angka tersebut terjadi autis sementara, polisi gak melihat kondisi sebenarnya dari penjahat tsb yg sudah tidak berbahaya, pokoknya ingin marah dan balas dendam.

Nah, agar kita bisa mengendalikan kondisi darurat tadi maka perlu dilatih. Setelah banyak kejadian main hakim sendiri seperti contoh diatas, maka kini polisi dilatih ketika pengejaran untuk berhenti sejenak sambil tetap menodongkan senjata, tidak langsung mendatangi tersangka spt sebelumnya. Hal ini untuk memberikan waktu bagi jantung untuk menurunkan detaknya hingga dibawah 175.

Melatih The Power of Kepepet...!
Kekuatan dalam keterdesakan. CAN DO SPIRIT! SEMANGAT PASTI BISA! Semangat ini dapat kita munculkan pada saat kita membutuhkannya. Lebih gampangnya, semangat ini akan muncul jika kita dalam kondisi terdesak. Lalu, apakah kita perlu menciptakan “kondisi terdesak” itu terus-menerus supaya kita memiliki semangat PASTI BISA? Dalam hal-hal tertentu YA. Jika kita ingin meraih sukses, jika kita ingin menjadi insan luar biasa, jika kita ingin mendapatkan apa yang kita harapkan, jika kita ingin menjadi seperti apa yang kita inginkan!

Konsep ini tentu saja dapat juga diterapkan dalam upaya membangun wirausaha. Banyak wirausahawan yang justru mendulang sukses karena kondisi kepepet ini. Andri Wongso yang justru karena tidak lulus SD, dan setelah kepepet malang melintang jadi penjaga gudang, pengajar kungfu, sampai akhirnya jadi aktor dan setelah babak belur menangani bisnis kartu ucapan, berhasil menjadi wirausahawan, yang bahkan kini menjadi motivator nomor satu di Indonesia. Haji Masagung yang konon hanya sampai kelas 5 SD, setelah kepepet dalam perjuangan panjang akhirnya menjadi perintis toko buku dan penerbitan Gunung Agung. Sandiaga Uno, yang karena semua investasinya ludes akibat krisis moneter, kepepet menumpang di rumah orangtuanya, lalu merintis usaha konsultan jasa keuangan, akhirnya PT Saratoga melejit, sampai dia dijuluki pengusaha muda terkaya. Di Probolinggo, Jatim, konon ada juragan mebel yang buta huruf. Masih banyak lagi kisah sukses karena kepepet oleh kondisi dan situasi, apakah itu korban PHK, kemiskinan dan kemelaratan ataukah penghinaan, pelecehan dan kegagalan.

Dari mancanegara kita dengar kisah-kisah sukses akibat kepepet yang membuat tumbuhnya jiwa dan semangat pantang menyerah sehingga muncul semangat PASTI BISA. Hans Christian Andersen, penulis cerita anak-anak yang sohor itu seumur hidupnya tak punya rumah, namun kisah-kisah fantasinya tinggal nyaman dan damai di dalam “rumah” jiwa setiap anak yang membacanya. Walt Disney, berkat kepepet karena pernah tidur di bengkel yang penuh tikus, dan setelah perusahaan animasinya berkali-kali pailit, akhirnya bangkit dan kini sohor dengan film animasi Micky Mouse, Donald Duck, Pluto, Snow White, Cinderella dan Bambi, serta siapa tak kenal Disney Land di beberapa negara? Kolonel Sander yang kepepet tabungan pensiunnya akan habis mulai menjajalkan resep bumbu masaknya, setelah ditolak ribuan kali, akhirnya dunia mengenalnya sebagai perintis Kentucky Fried Chicken. Demikian pula nama-nama seperti Elvis Presley, Michael Jordan, Beatles, Silvester Stallone, Oprah Winfrey, dan masih banyak lagi, pernah mengalami kondisi “kepepet”. Toh mereka bisa bangkit dan berjaya! Mereka memiliki semangat tidak mudah menyerah dan senantiasa menggelorakan keyakinan: PASTI BISA!

Semangat PASTI BISA itu sesungguhnya sudah tertanam dalam diri kita, sudah “built in”, ada dalam diri kita. Masalahnya kita tidak pernah memanfaatkannya. Lebih celaka lagi kita tidak pernah mengetahui atau memahaminya! Sayang kan! Padahal semangat itu dapat kita manfaatkan untuk mencapai APA SAJA yang kita mau, sehingga salah seorang pakar motivasi mengatakan, di dalam diri kita itu ada RAKSASA TIDUR (Anthony Robin). Oleh karena itu dia menulis buku sohor, Awakening The Giant Within, Bangunkan Raksasa Tidur yang ada dalam Dirimu!

Sebilah pisau jika terus menerus dipakai dan tidak pernah diasah, maka pisau itu menjadi tumpul. Demikian juga kemampuan dan kekuatan kita jika tidak pernah diasah, dilatih, dan digunakan, makin lama kita makin tidak berdaya, tidak kuat, IMPOTEN! Kita dapat kehilangan kekuatan dan kemampuan itu! You use it or you lose it!

Bagaimana kita dapat membangkitkan raksasa yang tidur dalam diri kita sehigga kita memiliki semangat PASTI BISA? Mulailah dari pikiran, lalu lakukan dalam tindakan, hal itu akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi watak atau karakter. Selanjutnya jika Anda masih setia dengan karakter itu lakukan terus-menerus maka akan menjadi NASIB Anda: memiliki SEMANGAT PASTI BISA. Bukankah Samuel Smiles (Shiv Kera) mengatakan: Tanamkan gagasan, petiklah tindakan, tanamkan tindakan petiklah kebiasaan, tanamkan kebiasaan petiklah watak, tanamkan watak petiklah nasib! Nasib Anda di tangan Anda bukan di tangan Mbah Dukun!

Akhirnya, para wirausahawan muda, renungkan kata-kata di bawah ini untuk membangkitkan SEMANGAT PASTI BISA dalam diri Anda. Anda PASTI BISA!

Kisah The Power Of  Kepepet di dunia Gen & DNA.
On-Off atau nyala-padam tidak hanya dialami oleh alat-alat yang berhubungan dengan dunia listrik saja. Begitu juga dengan kondisi kepepet, laksana gejala tanggal tua di kehidupan kita. Ia pun juga dialami oleh materi terkecil dalam tubuh makhluk hidup bernama DNA atau lebih kompleksnya lagi di tingkat gen. Kali ini saya ambil contoh dari peristiwa asal muasal teori On-Off nya Gen yang diamati dari bakteri E. coli. Kalau ndak salah eksperimen ini dijajal pertama kali oleh Francois Jacob dan Jacques Monod (both of them ilmuwan asal Paris) yang akhirnya menjadi sebuah teori mekanisme nyala-padam pada gen.

Jadi begini ceritanya. Para E. coli (banyak lho...) yang biasanya tinggal di usus ini pada umumnya mengkonsumsi glukosa. Walaupun lingkungannya menyediakan glukosa dan laktosa, tapi teteeeep saja mereka lebih memilih glukosa sebagai makanan favoritnya. Alhasil untuk sementara dipikirnya para E. coli itu tidak doyan laktosa. Nah, step selanjutnya, Bung Jacob dan Monod mencobakan untuk memberikan laktosa saja pada segerombolan E. coli itu. Pada awalnya, bakteri-bakteri itu mengadakan protes masal dengan aksi 'mogok makan'. Laktosa yang telah diberikan tidak disentuh sama sekali. Namun, tak berapa lama aksi tersebut berlangsung mereka mulai mengkonsumsi laktosa dan mulai berkembang biak (tau dong kalo bakteri kan berkembangbiaknya secara eksponensial).

Nah dari hasil eksperimen itu akhirnya ditemukan bahwa sebenarnya E. coli itu memiliki kemampuan untuk mencerna laktosa dengan cara memproduksi enzim laktase (pengurai laktosa). Sayangnya, kemampuannya itu tidak muncul dalam lingkungan dimana glukosa masih ditemukan disana, atau dengan kata lain dikatakan bahwa sebenarnya gen yang memproduksi enzim laktase itu dipadamkan (di off-kan). Lantas ketika E. coli dihadapkan pada kondisi tidak biasa alias 'kepepet', yaitu dengan lingkungan yang hanya tersedia laktosa, maka mau-tak mau mereka harus mencernanya jika tak ingin eksistensi dirinya terancam. Akhirnya bakteri-bakteri tersebut secara masal menghentukan aksi mogok makannya dan mulai memproduksi enzim laktase untuk mencerna/memakan laktosa, atau dapat diartikan bahwa mereka mengaktifkan(meng- On kan) gen untuk memproduksi laktase.

Jadi dalam keadaan 'kepepet' bukan wangsit atau jurus dari mbah dukun yang dikeluarkan oleh para bakteri, melainkan potensi atau kemampuan diri yang dimiliki selama ini muncul (menyala = On) setelah sekian lama padam (Off) karena tidak distimulus atau diaktifkan agar muncul.

Dari gambaran kisah kepepetnya ala DNA/gen bakteri tersebut dapat dijadikan pengingat bahwa diri kita tak jauh beda dari mereka. Kita yang notabene telah diberi kesempurnaan berupa potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya di muka bumi ini sudah saatnya untuk mulai meng-On kan gen-gen baik yang selama ini tersimpan. Gen-gen baik tersebut dapat berupa potensi luar biasa yag terpendam selama puluhan tahun saking tidak terbiasanya untuk digunakan/dikeluarkan.

Mungkin saja diantara kita ada yang berpotensi menjadi seorang wirausahawan namun karena lingkungan PNS mengelilinginya, maka akhirnya ia terjebak dalam paradigma 'saya harus jadi PNS juga'. Atau mungkin saja diantara kita ada yang gen baiknya berupa sifat dermawan masih Off karena lingkungannya selama ini mengajarkan teori 'pelit pangkal kaya', dan kondisi-kondisi lainnya. Maka tak ada kata terlambat untuk terus menggali potensi diri kita dan bersiap-siaplah untuk menyalakannya walaupun tidak hanya dalam keadaan 'kepepet' saja. Lalu, memadamkan gen-gen baik lainnya bukan berarti menghilangkannya dari diri kita. Ia hanya akan disimpan untuk sementara waktu dan suatu ketika disaat kita butuh, barulah kita keluarkan lagi. Keduanya ada dalam diri kita, dan tugas kita hanyalah meyakini keberadaanya dan mulai mencari tahu tentangnya. Maka... mari bersama-sama mencari dan menemukannya.

Untuk mempunyai kemampuan mengeluarkan Kekuatan Daya Refleks di dalam kondisi apapun saja, baik kondisi terdesak ataupun tidak. Ada baiknya anda mempertimbangkan Pelatihan Quantum Success Power Awareness yang kami selenggarakan. Pelatihan ini bermanfaat untuk menggugah kesadaran anda akan Daya Ajaib yang tertidur di dalam diri anda. Mengaktifkan DNA Energi Khalifah dan Kecerdasan Laduni yang masih bersifat Latent di dalam diri anda. Keterangan Selengkapnya Klik Di Sini...

A live is too short, don’t waste your time for doing something you never love it….Jadilah orang yang SAKTI  [Sukses Kaya & BerarTI], Bukan cuma sukses secara materi tapi juga memberi arti bagi sesama.
The Power of Kepepet, Kekuatan dalam Keterdesakan The Power of Kepepet,  Kekuatan dalam Keterdesakan Reviewed by Edi Sugianto on 00.29 Rating: 5

Tidak ada komentar:


kelas Gendam Online
Diberdayakan oleh Blogger.