ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 19 April 2011

Ekspresikan Aksimu, Jangan Takut Salah

Jangan takut gagal sebelum mencoba !
jangan takut jatuh sebelum melangkah !
Kesuksesan milik orang yang berani mencoba.
Ingat!
Apa yang tidak mungkin , seringkali belum pernah di coba.
(Andrie Wongso)

Selama ini, ada sebuah mindset di dalam benak orang, yakni merupakan aib bila melakukan kesalahan. Mungkin ada benarnya juga juga pemikiran seperti ini. Dengan demikian, setiap orang akan bertindak hati-hati dalam melakukan sesuatu. Orang akan sangat malu apabila melakukan sesutu, karena takut salah, dan ternoda nama baiknya. Namun, efek dari pemikiran tersebut akan membelenggu daya kreativitas, maupun menanamkan kragu-raguan orang dalam bertindak. Akibatnya, orang itu tidak akan berkembang karena tidak berani melakukan inovasi dan terobosan baru.

Diantara hal yang membuat kita terpuruk adalah bahwa kita selalu dihantui oleh rasa takut yang tidak beralasan. Takut salah. Padahal, kita punya ide-ide yang matang dan jitu untuk menyelesaikan problem yang kita hadapi. Ide yang kita pikirkan terkadang merupakan solusi yang baik atau yang terbaik dari masalah yang ada, yang sama sekali tidak terpikirkan atau terbayangkan oleh orang lain. Tetapi perasaan lemah, pikiran sempit dan tidak berani berkomentar atau berbuat rupanya mengalahkan akal sehat yang kita miliki. Kita takut untuk memberikan solusi jangan sampai ditertawakan atau dicemohkan. Perasaan ini muncul karena kita merasa minder. Dan terkadang kita turut menyalahkan hasil-hasil yang dicapai oleh rekan-rekan karena mereka gagal dalam mencapai tujuan. Lalu kita terkadang merasa bangga dengan pemikiran atau ide kita yang tidak terungkap.

Inilah hal yang mesti diperbaiki. Sebenarnya, bukan rekan-rekan kita yang berbuatlah yang gagal. Tetapi yang gagal itu adalah kita yang tidak pernah mau berbuat, yang tidak pernah mau beraksi mengemukakan apa yang kita pikirkan dan melaksanakanapa yang kita pikirkan. Tidak pernah mengekspresikan hasil-hasil pemikiran kita. Makanya perasaan-perasaan seperti ini mesti dihilangkan didalam benak kita. Jangan biarkan dia nyenyak dalam diri kita. Perasaan takut mengeluarkan pendapat ini harus segera dihilangkan demi kemajuan bersama. Maju untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan. Bangkit untuk memperbaiki tatanan kehidupan kita kearah yang lebih baik. Merugilah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Dan beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Thomas D. Kuczmarski, seorang konsultan pengembangan produk baru di Chicago, mengusulkan diadakannya "pesta kegagalan". Hal itu merupakan bentuk pengakuan atas kesalahan sebagai bagian dari proses kreatif. (BusinessWeek Edisi Indonesia/19 Juli 2006)

Kutipan di atas merupakan sebuah pemikiran baru, yang perlu ditanamkan ke dalam benak setiap orang. Sebuah pengakuan atas kegagalan yang kita perbuat, adalah langkah-langkah awal sebuah keberhasilan. Dari kesalahan itulah, orang akan belajar untuk mencapai kesempurnaan. Kalimat ini terdengar klise, namun memiliki makna yang dalam. Mungkin kalimat ini yang bisa membuat seorang Bill Gates dapat mengelola Microsoft menjadi sebuah perusahaan raksasa, seorang Thomas Alva Edison dapat menemukan berbagai macam alat yang membantu kehidupan manusia sehari-hari.

Banyak di antara kita pasti bisa mengendarai sepeda atau kendaraan roda dua. Masih ingatkah bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Masih ingatkah tentang segala hal yang dialami sebelum masa-masa indah itu bisa kita nikmati?

Saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Jatuh ke selokan, menabrak pagar rumah orang, menyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat, menabrak sepeda teman, terpeleset pasir, rem blong. Banyak luka yang terjadi: lecet dan keseleo, lutut memar, tulang kering luka dan terkelupas, sikut carut-marut, benjol juga jidat, dimarahi orang, menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Apakah semua kesalahan dan luka itu, membuat kita berhenti belajar naik sepeda? Mengapa? Ya! Tepat sekali. Kita ingin bisa. “The power of dream!”

Kekuatan impianlah yang membuat kita tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa. Kini, masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri.

Kok bisa ya, kekuatan impian begitu besarnya?
Ini rahasianya. Ketika kecil, kita masih polos, belum banyak dicekoki dan “diracuni” oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk. Saat itu, kita yakin dalam menyikapi segala kesalahan yang terjadi, adalah semata-mata “kesalahan teknis”.

Sejalan dengan usia dan pendidikan, kita mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini. Ternyata, tanpa disadari, kita mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu “kesalahan moral”. Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, perhatikanlah.
Jika mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan luka yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:
Apakah jika kesalahan atau luka itu terjadi, akankah: membuat kita berdosa, membuat kita masuk neraka, membuat masuk penjara, mencederai moralitas dan keyakinan kita, melukai orang-orang yang kita cintai, merugikan khalayak?

Jika jawabannya atau kita bisa menjawab “tidak”, maka segala kesalahan itu semata-mata hanya “teknis” sifatnya. Dan “kesalahan teknis” semacam ini, selalu merupakan “pembelajaran” , penting dan bernilai. Jangan berhenti.

Coba pertimbangkan hal-hal ini.
Kita mau membuka warung kelontong, dan tetangga seberang rumah sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Kita ingin sekali, tapi kita membatalkannya, karena “tidak enak hati”. Padahal di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rejeki ada yang mengatur!

Kita mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar kita memberi masukan negatif. Akankah kita berhenti? Akankah kita bilang, “apa kata orang nanti?”. Jika kita mampu menjawab “tidak”, lakukan saja!

“People often think that they’re being de-motivated by their situations. No, they’re just being disconnected from their dreams.”

Dari berbagai sumber.