Ajaran Makrifat Pangeran Katon

Pangeran Katon artinya Tuhan Yang Nampak (Wujud) dan dapat dilihat dengan mata.

Ajaran Makrifat Pangeran Katon atau Ajaran Spiritual Pangeran Katon ini adalah hasil perenungan saya selama ini mengenai hal-hal yang terkait dengan spiritualisme. Jadi, jangan tanya ini saya dapat dari kitab mana, dari guru mana, dll.

Rangkaian tulisan ini sebelumnya sudah saya posting secara bersambung di Facebook saya, jadi apa yang tampil di sini adalah merupakan Reposting dari tulisan-tulisan saya tersebut.

Berikut ini rangkaian Ujaran & Ajaran Makrifat Pangeran Katon



UJARAN DAN AJARAN MAKRIFAT PANGERAN KATON.

Dibalik Ajian, ada ujaran dan ajaran... termasuk dalam keilmuan ini.

MANTRA AJI PAMUNGKAS PANGERAN KATON

"Allah Mobah Jroning Ambegan, Allah Mosik Jroning Ati. Ya Roso, Ya Rosul. Ya Rosoning Pangeran Katon. Wujud"

Itu tadi Mantra (Affirmasi) untuk mewujudkan Segala Maksud. Merubah impian agar jadi kenyataan, dll. Insya Allah, bi idznillah.

'Mantra Aji Pamungkas Pangeran Katon" itu tadi asli dari ilham ketika saya melekan di saung jatidiri gresik. Jadi itu original dari NAQSDNA sumbernya.

Arti Mantra Pangeran Katon.

Allah mobah jroning ambegan.
Ada gerak ilahi di dalam Nafas.

Allah mosik jroning Ati
Ada Getaran Kuasa ilahi di dalam hati

Ya Roso, Ya Rosul...
Rasa sejati yang ada di level kesadaran murni, adalah penuntun sejati kita.

Ya Rosoning Pangeran Katon..
Manusia adalah cermin dari Wajah Tuhan. Manusia adalah Co Creator Tuhan dalam melestarikan alam semesta.

{{ Bagian ini yang agak sulit menjelaskannya.... karena terkait dengan pelajaran hakikat yang bersifat rahasia... }}}

Bahasa mudahnya, gini ajalah... saat kita sudah mengenal dirisejati. Maka daya kuasa ilahi juga menjadi bagian dari sifat kita. Dah gitu saja.... hehehehe...

Setelah semua energi makna diatas masuk dalam kesadaran, selanjutnya... Kun fa yakun... terwujudlah apa yang menjadi kehendaknya.... (bi idznillah)....

Nah, mantra APPK bukan sekedar password dari ilmu. Tapi di dalamnya berisi petunjuk akan keilmuan itu sendiri. Yang jika dijabarkan, bisa luas banget itu..

Mulai Mind Technology, Quantum Vibrasi, connectedness, quantum entanglement, jatidiri, dll. Masuk semua untuk menjabarkan mantra itu.

Jadi, baca mantra itu harus juga faham filosofisnya. Agar muncul powernya...

Ngunu...

*************

Sandi Sastro Pangeran Katon Part 2

Doa malam ini :

"Ya Allah, saya ikhlas menerima buah masa lalu, sepahit apapun itu. Dan saya berniat untuk hidup lebih baik, mulai sekarang dan seterusnya. Tunjukilah dan Bimbinglah kami agar senantiasa dapat berjalan di atas jalan yang Engkau Ridloi. Aamiin..."

Sastro Aji Pangeran Katon Level 2.

"Allah mobah jroning Nafas. Allah mosik jroning Nufus, Ya Roso, Ya Rosul, Ya Rosoning Pangeran Jati. Ya... Hu Allah...."

Nb.
Adakalanya, sebuah doa selain sebagai suatu permohonan, doa juga merupakan sebuah penegasan ke dalam pikiran bawah sadar kita sendiri.

*******

SANDI SASTRO PANGERAN KATON
Kalimat-kalimat dalam mantra Ini hakikatnya adalah Sandi Sastro. Ada ujaran dan ajaran rahasia didalam sebait kalimat puisi yang sederhana ini.

Ada pelajaran mengenai lelaku, kesadaran, sikap serta pandangan hidup.

Ada ajaran mengenai bagaimana cara mengorbit pada sang khalik. Terkoneksi dengan Tuhan, mengenal dirisejati, hingga diri selalu ada dalam himpunanNya.

Kalimat-kalimat ini sangat sederhana, tetapi luas dan dalam jabarannya.

Itu sebabnya, jika Mindset dan cara pandang anda masih sama saja dengan cara pandang anda terhadap ilmu japamantra yang umum berlaku di masyarakat. Memahami Mantra Hanya sebatas bacaan, hafalan, dan password yang dibaca kalau ada maunya..

Maka kedalaman filosofis, ujaran, dan ajarannya tidak akan dapat merasuk dan menyatu dengan diri anda. Jangkuan pencapaian andapun akan terbatas hanya pada kebutuhan perut ke bawah saja.

Ada ujaran dan ajaran rahasia dalam kalimat-kalimat ini :

"Allah mobah jroning ambegan. Allah mosik jroning ati. Ya roso, ya rosul. Ya rosoning pangeran katon....... Wujud"

"Allah mobah jroning Nafas, Allah mosik jroning Nufus. Ya roso, ya rosul. Ya rosoning pangeran jati..... Ya... Hu.... Allah...."

Itu adalah kalimat tuntunan, dan bukan sekedar bacaan. Monggo ditafakuri, agar ketemu esensinya...

Untuk jabaran lebih lanjut... di acara kopdar aja ya.... Insya Allah, 3 & 4 November 2018. Kita hadir di Jakarta. Dalam event workshop.naqsdna.org

Bagi alumni, silahkan mampir... kita ngopi di sebelah... kayak biasanya.... hehehehe...

**

Garis Besar Pelajaran dalam Ujaran & Ajaran Makrifat Sandi Sastro Pangeran Katon.

Keyword : Rasa sejati, adalah guru dan penuntun kita yang sejati.

Lelaku : Berkekalan dalam Zikrulllah, Tansah Eling Lan waspodo, hidup meditatif, hidup berkesadaran, senantiasa merasakan hadirnya Tuhan secara lahir dan batin..

Outcome : Mengenal Dirisejati, masuk dalam HimpunanNya.

Ilmu Pendukung : Anatomi pikiran (sadar & bawah sadar), ilmu jatidiri, Manajemen Emosi, Meditasi, Awareness, Consciousness, State of Mind, Positive Behaviour, Ilmu Quantum Vibrasi, dll.

****

Video Live : Pelajaran Pendahuluan Sandi Sastro Ujaran & Ajaran Makrifat Pangeran Katon.

Link : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1878862978872362&id=100002460352518

atau https://www.facebook.com/haryopanuntun/videos/1878862978872362/

@ Facebook, Rabu 19 September 2018



🔥 Penjelasan Bab Pangeran Katon...
Kalimat Pangeran dalam Sandi Sastro Pangeran Katon, jika dikaitkan dengan spiritualitas, maka itu merujuk pada kalimat Rabb dalam bahasa Arab. Rabb dan ilah walau diartikan sama, yaitu Tuhan. Namun secara esensi berbeda arti dan maknanya...

Kalimat ilah, lebih merujuk kepada Dzat. Sedangkan kalimat Rabb, lebih merujuk kepada sifat...

Makanya ditulisnya : Alhamdulillahi Rabb al- A'alamin (Segala puji bagi Allah Tu han segenap alam) dan tidak dikatakan dan dinyatakan dengan kalimat, Alhamdulli Rabb al-'alamin (segala puji bagi Tuhan segenap alam).

Dituliskannya : Lâ ilâha illallâh dan tidak akan ada penulisan Lâ rabba illallâh. Walaupun ilah dan rabb diartikan sama dalam terjemahan bahasa indonesia, yaitu Tuhan...

Lafal ilâh tidak pernah disematkan kepada hal lain, kecuali hanya bagi Allah semata.

Kata Rabb adalah nama Tuhan dalam level Wahidiyyah. Lafaz Rabb tidak termasuk dalam al- Asma al-Husna, tetapi mungkin bisa disebut sebagai cover dari totalitas nama-nama-Nya yang tergabung di dalam al-Asma' al-Husna. Kata Rabb juga digunakan sebagai nama terhadap Tuhan lain selain Allah SWT. Rabb juga mempunyai bentuk jamak, yaitu arbab (Tuhan-tuhan). Berbeda dengan kata Allah tidak memiliki bentuk mufrad, apa lagi jamak.

Karena Rabb merujuk pada Nama dan sifat, maka dia bisa mensifati Manusia, sebagaimana nama dan sifat Tuhan yang lain yang juga dapat mensifati manusia (dalam tanda Kutip)

Nah, ,manusia yang level kesadarannya sudah sampai pada level kesadaran Dirisejati. Dia tersifati secara hampir sempurna akan cahaya nama dan sifatNya.

Makanya, dia dapat disebut sebagai Pangeran Katon. Tuhan yang wujud di alam materi, sang khalifatullah... Sang Waliyullah... Sang Wakil Tuhan dalam melestarikan, mengatur, dan memimpin alam semesta.....

Ingat... Jangan Korslet ya... Tuhan yang saya maksud di atas adalah terkait dengan Sifat Rabb.. Yang bisa mensifati manusia... dan bukan tuhan dalam artian ilah...

Sebagaimana dicontohkan bahwa Ridha Allah terletak Pada Ridha Orangtua, atau Ridha Allah atas seorang istri adalah terletak pada suaminya, dll. Bukankah ini walau disebut demikian, namun tidak berarti bahwa orang tua dan suami dapat menggantikan peran Allah swt. bukan?

Jadi, ini tidak merujuk pada penyebutan Tuhan sebagai Dzat... tetapi Pangeran Katon hanyalah sekedar istilah bagi manusia yang sudah masuk pada tataran Khalifatullah, sang insan kamil, yang dapat menampung sifat-sifatNya dengan lebih sempurna..

Bab Manunggaling Kawulo Gusti.
Dengan memahami penjabaran saya dalam Bab Pangeran Katon, maka saya harap anda sudah semakin faham mengenai Hakikat dari kalimat MANUNGGALING KAWULO GUSTI.

Dimana dalam sebagian ajaran spiritualitas di nusantara ini, Manunggaling Kawulo Gusti masih sering diartikan sebagai manusia menyatu dengan Tuhan, dan bahkan manusia menjadi Tuhan dalam artian penyatuan akan Dzat.. sebagaimana ajaran Syekh Siti jenar yang sering disalah tafsirkan menjadi demikian...

Dengan memahami penjabaran saya dalam Bab Pangeran Katon, maka kalimat Manunggaling Kawulo Gusti justru terlihat lebih logis dan lebih membumi. Serta lebih mungkin untuk dapat diaplikasikan oleh siapapun saja..

Karena Yang menyatu dan bersatu bukanlah Dzat Manusia dengan Dzat Tuhan. Akan tetapi Manusia yang dirasuki oleh cahaya nama dan sifat Ketuhanan. Itulah hakikat yang sebenarnya dari kalimat Manunggaling Kawulo Gusti....

Dalam sudut pandang saya, Dzat manusia tidak akan pernah bisa menyatu dan melebur dengan Dzat Tuhan. Karena eksistensi manusia jika dibandingkan dengan eksistensi Allah swt. Maka, manusia itu sesungguhnyalah tidak ada....

Bagaimana yang tidak ada mau menyatu kepada yang ada..? Mustahil bukan..?

Kesimpulannya,
Manunggaling Kawulo Gusti yang benar dan sesuai dengan syar'iyah adalah pemahaman bawa level jatidiri manusia bisa naik meningkat sedemikian hingga dia dapat menampung sifat Tuhan dengan lebih sempurna... Manusia lebur dan menyatu dengan sifat Tuhan...

Komenter seorang sahabat di facebook

Lanang Dedy
Manunggaling Kawula Gusti secara harfiah artinya Kesatuan antara hamba dan Tuhan. Kesatuan artinya memang sudah dari awalnya merupakan satu kesatuan. Kesatuan artinya perpaduan yang tidak lagi bisa dipisah-pisahkan bagaimanapun caranya.

Manunggal beda arti dengan Panunggal. Manunggal berarti Kesatuan sedangkan Panunggal berarti Penyatuan. Manunggal menyatakan kesatuan utuh semenjak awal. Panunggal menyatakan penyatuan yang baru terjadi antara dua obyek yang terpisahkan. Dan banyak yang salah paham dengan kalimat ini.

Manunggaling Kawula Gusti sudah tepat untuk menggambarkan kesatuan abadi tersebut. Tidak pernah ada keterpisahan, tidak pernah ada dualitas, sudah semenjak mula ada dalam satu kesatuan utuh, hanya para makhluk saja yang merasa diri mereka terpisah dengan Sang Hyang Urip karena mereka menyerap pemahaman yang salah yaitu memuja sosok Tuhan berbentuk dan tinggal di satu surga tertentu. Selama manusia masih memuja sosok Tuhan seperti ini, maka selamanya pula dirinya tidak akan bisa memahami kesatuannya dengan Tuhan. Kunci untuk memahami kesatuan manusia dengan Sang Hyang Urip adalah menengok ke dalam, mencari percikan Sang Hyang Urip, yaitu Urip kita sendiri yang ada di dalam relung bathin terdalam.

Karenanya dengan berani manusia Jawa menyatakan : Munggaha langit sap pitu, amblêsa bumi sap pitu, Gusti nora bisa sira têmoni. Anane mung ing têlênging ati. Gumawang tanpa canṭelan, ginulung sa-mrica jinumput, ginêlar ngêbaki jagat – Naiklah ke langit tingkat tujuh, masuklah ke bumi tingkat tujuh, Tuhan tidak bakal engkau temui. Keberadaan-Nya ada di pusat diri. Di sana memancar tanpa sandaran apapun, jika digulung hanya sebesar biji merica yang bisa dijumput, jika digelar akan memenuhi semesta. Hehehe...😊

Edi Sugianto
Tulisan anda benar, cuman perlu kita fahami bahwa tuhan yang imanen dan sudah ada di dalam diri manusia sejak dalam kandungan. Itu adalah cahaya Sifat Tuhan yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya sebagai Rabb. Dan bukan tuhan dalam pengertian Dzat. Pemahaman mengenai Anatomi ketuhanan ini yang merupakan kekurangan dari konsep manunggaling kawulo gusti yang dianut oleh sebagian spiritualis nusantara. Sehingga menjadi rancu, apakah yang bersatu dengan manusia itu Dzat Tuhan ataukah sifat-sifat ketuhanan.

Jika yang kita bicarakan adalah ilmu kasunyatan atau ilmu kenyataan, maka sudah jelas terbukti bahwa tidak ada manusia yang mempunyai Daya Kuasa Mutlak sebagaimana yang dimiliki oleh Tuhan. Dalam ajaran agama dan keyakinan apapun, tidak ada manusia yang memiliki Daya Kuasa Mutlak sebagaimana yang dideskripsikan mengenai Daya Kuasa Tuhan di dalam kitab ajaran apapun.

Itu sebabnya, Pangeran Katon atau Tuhan yang tampak dalam konsep "Ajaran Makrifat Pangeran Katon" lebih mengarah pada pengertian mengenai kebersatuan manusia dengan cahaya dan sifat-sifat ketuhanan. Dan bukan bersatu dengan Dzat Tuhan atau malah merasa menjadi Tuhan.

Allah Mobah Jroning Ambegan
Sebagaimana sifat angin (udara) yang dapat meresap masuk ke dalam tubuh manusia, akan tetapi, manusia tetaplah manusia dan bukan angin.

Dan tentu saja, jika yang anda cari dan ingin anda temui adalah Dzat Tuhan, Maka sampai ke ujung dunia sekalipun. Manusia tidak akan bisa bertemu denganNya.

Sekedar sebagai gambaran mengenai perbedaan antara Dzat Tuhan dengan Dzat Makhluk itu mudahnya adalah begini.

Saat anda berimajinasi mengenai bentuk sesuatu, ( Bunga misalnya ) Di dalam pikiran anda. Maka, anda tentu sepakat bahwa wujud bunga itu ada, tapi dia hanya berada di alam angan-angan dari pikiran anda. Yang tentu saja Dzatnya berbeda antara dzat bunga yang ada di dalam pikiran anda dengan Dzat anda sebagai manusia yang memiliki angan-angan tersebut bukan.??

Dengan kata lain, Dzat makhluk itu tidak dapat disejajarkan dan dibandingkan dengan Dzat Tuhan, Karena memang tidak sebanding dan memang tidak dapat diperbandingkan.

Source :


INGSUN SEJATI, SANG PANGERAN KATON

Sejatine Ingsun, Ingsun Sejati... Sang Pangeran Katon.

Ingsun tajalining Dzat kang Maha Suci, kang murba amisesa, kang kuwasa angandika Kun Fayakun mandi sak ucap ingsun, dadi sak ciptaningsun, katurutan sak karsaningsun, kasembadan sak sedyaningsun karana saka kodratingsun.

Ingsun Dzating manungsa sejati, saiki eling besuk ya eling.

Saningmaya araning Muhammad, Sirkumaya araningsun, Sir Dzat dadi sak sirku, yaiku sejatining manungso, urip tan kena ing pati, langgeng tan keno owah gingsir ing kahanan jati.

***

Sebagaimana sudah saya kupas sebelumnya, manusia yang sudah mengenal sejatinya diri. Maka dia dapat disifati oleh sifat-sifat Tuhan dalam kualitas yang terbaik jika dibandingkan dengan manusia pada umumnya.

Semua manusia juga mewarisi sifat-sifat Tuhan ini di dalam dirinya. Hanya saja kualitasnya berbeda. Ada yang Kualitas Super, KW1, KW2, dst... bahkan ada yang kualitas palsu, abal-abal, hoax, dll. Yaitu mereka-mereka yang sudah kehilangan jatidirinya sebagai manusia. Dan hidup tidak lebih tinggi dari derajad se ekor hewan.

THE CREATOR.
Kita adalah mahluk spirit yang selama di dunia dipinjami instrumen-instrumen hidup : fisik, pikiran, perasaan, panca indera, ilmu, harta, kelompok sosial, peran.

Instrumen-instrumen itu kita tinggal tatkala kita memasuki alam kehidupan selanjutnya melalui pintu kematian.

God is 'creator'. Human is 'creature'.
Manusia diberi tugas sebagai khalifah-pemimpin-pengendali-pengatur.

Makanya manusia-lah yang diberi otak neo-cortex yang berfungsi untuk mencipta, bukan hewan atau tumbuhan. Peran itu terkandung misi dan kompetensi.

Manusia diberi kemampuan 'to create' -- mencipta tanpa maha. Itu artinya sifat dasar manusia adalah 'creative'. Kemampuan mencipta diarahkan oleh kemampuan mengendalikan dirinya dalam menggunakan kompas dan menjalankan misi hidup.

Jika Tuhan dalam menciptakan sesuatu, cukup dengan berkata KUN FAYAKUN. Maka wujudlah sesuatu dari ketiadaan menjadi ada. Tanpa harus melalui proses apapun dan tanpa memerlukan bahan apapun.

Maka, maka manusia yang mewarisi sifat To Create, tentu berbeda cara kerjanya. Manusia mencipta melalui kemampuan daya cipta yang ada di pikirannya. Dan dengan menggunakan sumber daya dan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam semesta ini. Barulah manusia dapat menciptakan sesuatu. Baik sekedar sebagai penyempurnaan atas sesuatu yang sudah ada. Atau membuat suatu hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Leader -- khalifah -- is to lead, not led by.
Tetapi... seringkali hidupku malah led by ...
Kita dikendalikan oleh instrumen-instrumen hidup.

Led by perasaan, led by kenikmatan inderawi, led by imajinasi fatamorgana, led by jubah kebesaran, maka aku tidak lagi menjadi khalifah. Aku menjadi leaderless. Aku powerless to lead.

Akibatnya nasibku tragis. Aku jadi korban situasi, korban hal-hal di luar diriku. Aku menjadi work-acholic, hedonik, demotivasi, korupsi, dll.

Tuhan Maha Tahu. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Dia memberi cara untuk membangun, menguatkan, melatih memampukan kembali manusia memimpin dirinya sendiri -- self leadership -- Agar manusia kembali memiliki otot-otot kompetensi penghasil POWER to lead. Agar manusia kembali 'eling' terhadap kompas dan misi hidupnya.

Hadirlah berbagai sarana dan media untuk melatih diri dan mengendalikan diri. Agar manusia terbebas dari kemelekatannya terhadap sisi gelap diri dan sisi kebinatangannya.

Jika latihan ini berhasil, maka ia menang. Menang karena kembali kepada fitrah dasarnya : khalifah, pemimpin.

Maka kembali ke Diri Sejati, adalah kembali kepada fitrah kita sebagai leader, gamer, khalifah, Sang Pengendali.

Kembali memiliki power to lead self to choose responses. Kita punya kembali ability to choose respon.

Response-ability. Responsibility. Tanggungjawab.

Jika tidak lolos verifikasi kompetensi self-leadership ini, jiwa-jiwa yang kalah tidak akan sanggup mengakui menang di hari kemenangan.

Ciri menang di hari kemenangan adalah kembali menjadi diri yang bertanggungjawab, bukan lempar tanggungjawab. Salah satu ciri diri yang bertanggungjawab adalah tidak mengeluh.

Sembuhkan dan kembalilah ke jatidiri kita yang sejati. Khalifatullah, ingsun sejati. Sang Pangeran Katon.

Sang Pangeran Katon bukanlah Tuhan dalam artian Tuhan yang sebenar-benarnya, tetapi dia adalah Manusia Biasa yang biasa-biasa saja, hanya saja dia sudah menemukan jatidirinya yang sejati sebagai Manusia.


Demikian, semoga bermanfaat.

Salam Kesejatian.


Edi Sugianto, Founder NAQSDNA
naqsdna.com l dnasukses.com




Ps.
  • Info kelas Online Vibrasi, KLIK DI SINI ( https://www.dnasukses.com/2018/02/seni-kembali-ke-diri-sejati.html )
  • Info jadwal workshop terdekat, KLIK DI SINI ( https://workshop.naqsdna.org )
  • Kontak saya di WhatsApp, kirim pesan ke WA No. 0813 8141 1972
*

ads

Terima Kasih sudah membaca Ajaran Makrifat Pangeran Katon. Silahkan SHARE jika manfaat, Terima Kasih.
Ajaran Makrifat Pangeran Katon Ajaran Makrifat Pangeran Katon Reviewed by Edi Sugianto, C.Ht., MNLP on 18.34 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.